
Askar termenung sembari beristighfar dalam hati memikirkan masalah yang tengah dihadapi. Pengakuan Reza tentang hubungan rahasia bersama Mentari karena tak ingin membuat dirinya merasa terkhianati oleh Reza.
Bertambah Adzilla mengetahui masalah itu justru sering menyindirnya akibat cemburu tak berkesudahan. Memang ia suka dicemburui Adzilla namun ia tak ingin istrinya itu menjadi stres berakibat pada kehamilan.
Askar melirik Adzilla berjalan melewatinya begitu saja dengan wajah cemberut. Luca memang! tapi lihatlah sebentar lagi maka akan kalimat sindiran dari bibir istrinya itu.
"Termenung terus, flashback masa lalu ya?" sindir Adzilla sembari memakan apel yang telah dikupas Askar beberapa saat lalu yang disimpan di dalam lemari es.
Benar dugaan Askar. Istrinya itu akan menyindirnya kemudian pasti menangis lagi.
"Papi pasti malukan karena mami tambah gendut?" suara Adzilla terdengar bergetar menahan tangis. Semenjak Adzilla hamil berat badan terus naik, itu justru memicu Adzilla menjadi insecure.
Askar hanya diam seperti biasa jika Adzilla sedang mengeluh atau mengomel. Setelah Adzilla selesai barulah Askar akan bicara berusaha menenangkan Adzilla.
"Dengar istriku. Kau yang paling cantik, bagaimana pun nanti bentuk tubuhmu aku gak akan berpaling darimu. Kalau kau mau kembalikan berat badan seperti sebelum hamil, aku mengizinkan mu untuk ikut senam atau kita gym bareng bawa anak-anak. Jangan ngerasa kau jelek, ya!" ucap Askar menangkup pipi Adzilla kemudian mengecup bibirnya.
__ADS_1
"Lepasin, ih!" sungut Adzilla ketika Askar menangkup pipinya hingga bibirnya seperti bibir ikan.
Ditempat lain.
Disebuah klinik bersalin. Reza dengan setia menemani Mentari disana juga di dampingi Ibu Reza. Tadi pagi, Mentari sudah mengeluarkan tanda-tanda melahirkan.
Proses perceraian Reza bersama Diana sudah berjalan. Minggu lalu baru saja sidang pertama. Dan itu membuat Reza dan Mentari berasa lega karena pada akhirnya Diana pasrah atas perceraian tersebut. Apalagi saat ini Diana tengah hamil lagi, tentu itu anak Indra karena terakhir kali Reza memberi nafkah batin itu hanya sekali dan menggunakan pengaman.
"Sa-kit, Yah!" cicit Mentari semakin membuat Reza tidak tega.
"Kita caesar saja ya, Bun!" ujar Reza namun Mentari menggeleng.
Apalagi Mentari hidup hanya memiliki dirinya. "Aku mencintaimu, tetaplah kuat agar kita menjaga dan mendidik anak kita bersama."
"Bu. Apa masih lama lagi istri saya melahirkan?" tanya Reza mulai khawatir melihat Mentari semakin sering meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Kita periksa dulu, ya. Ibu Mentari baring yang lurus badan nya," tutur Ibu Bidan.
Mentari meluruskan tubuhnya dibantu oleh Reza. Ibu Bidan langsung memeriksa Mentari. "Pembukaan sudah sempurna, kita persiapkan dulu."
Ibu Bidan segera memanggil rekannya. Reza setia menemani sedang Ibu Reza menunggu di luar ruang persalinan. Mentari berulangkali melakukan gerakan mengejan sesuai instruksi Bidan.
"Eeekkhh...," ejan Mentari ketiga kalinya.
"Oeek.. Oeek.. Oeek..,"
Reza tersenyum haru memandangi wajah Mentari yang sudah dibasahi oleh keringat. Istrinya telah melewati masa antara hidup dan mati demi memperjuangkan kelahiran anak mereka.
"Selamat, anak Bapak dan Ibu laki-laki. Sehat dan sempurna," tutur Ibu Bidan menaruh bayi mereka di dada Mentari setelah dibersihkan.
"Terimakasih, Mentari."
__ADS_1
❤️
TBC