
Seperti sebuah lagu yang mengatakan malam minggu adalah waktu kunjung pacar. Seperti saat ini Askar sudah bertandang di rumah Ayah Yusuf untuk bersilaturahmi dan pastinya berusaha mengambil hati ibu dari kedua anak itu dan juga calon ibu dari anak-anaknya kelak.
Eh.
Setelah satu jam bermain dengan Satria dan Sania akhirnya kedua anak itu tertidur juga. Duduk tegak dengan gugup di hadapan ayah Yusuf dan Adzilla.
"Kak Adzilla."
"Ya."
"Aku tahu ini terlalu cepat untukmu. Tapi kau harus tahu, aku sudah jatuh cinta padamu semenjak kau masih menjadi istri orang lain."
Adzilla mendengar itu hanya bisa menelan sakiva dengan kasar. Lidahnya keluh untuk menjawab perkataan Askar.
Padahal jauh-jauh hari ia sudah bisa menebak jika tak lama lagi Askar akan semakin mendekatinya, tetapi ia tak mampu menjawab apapun saat ini.
Tidak mudah menerima cinta baru setelah mengalami gagalnya bahtera rumah tangga. Setiap wanita pastinya menginginkan menikah sekali seumur hidup tetapi jika takdir berkata lain maka ia akan lebih selektif memilih pasangan.
"Bagaimana bisa kau jatuh cinta padaku saat aku masih istri orang? bahkan jika diingat, kita nggak ada interaksi lebih dari penjual dan pembeli."
Askar mengangguk membenarkan. "Pak, maafkan saya sebelumnya telah lancang menyukai anak bapak sebelum bercerai. Sungguh, perasaan itu di luar kendali saya. Berawal dari melihat tatapan kosong anak bapak ketika duduk sendirian membuat saya penasaran, tatapan luka walau anak bapak sedang tertawa membuat saya ingin melindungi dan membuat dia benar-benar merasa bahagia."
Menghela nafas dalam lalu memberanikan menatap ayah Yusuf tanpa ragu.
__ADS_1
"Tapi harus bapak ketahui, walau saya telah jatuh cinta kepada anak bapak. Tidak ada sedikitpun niat saya merebutnya dari bang Bari. Hingga sampai saya bertemu dengan kak Adzilla dan anak-anak. Melihat pipi kak Adzila memerah karena tamparan bang Bari, sungguh membuat hati saya sakit dan semakin bertekad untuk memenangkan hati anak bapak yang cantik ini." imbuh Askar lagi.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Adzilla saat ini. Sungguh ia tidak menyangka Askar memiliki perasaan lebih padanya ketika masih berstatus istri orang.
Hatinya bercabang semakin bingung harus menjawab apa. Jika ditanya apakah memiliki perasaan lebih pada Askar. Selama empat bulan Askar terus mencoba meluluhkan hatinya tentu saja ada hasil dari perjuangan pria itu.
"Nak Askar. Jujur saja selama kamu sering main kesini, bapak sering memerhatikanmu. Kau bukan hanya mendekati anak bapak, tapi kau juga mendekati cucu-cucu bapak. Bapak suka caramu, tapi kembali lagi. Keputusan ada pada anak bapak. Karena dia yang akan menjalaninya" tutur ayah Yusuf pada Askar.
"Dan kamu harus ingat, anak bapak bukan lagi seperti perempuan di luar sana yang hanya menghabiskan waktu untuk pacaran, dia seorang janda yang punya dua anak. Tanggungan dia banyak, bukan hanya materi, melainkan stigma negatif sudah melekat padanya. Apalagi jika bersanding dengan mu. Kau jauh lebih muda, pemuda lajang, dan pasfi lebih mapan dari kami. Jika kalian bersama, harus melewati cobaan lebih sulit."
"Askar." panggil Adzilla akhirnya bersuara setelah cukup lama berdiam menjadi pendengar.
"Ya."
"Aku akui perlakuanmu begitu manis padaku dan juga anak-anak. Dan aku akui, hatiku mulai menaruh simpati padamu. Tapi, bolehkah aku meminta waktu untuk memikirkan lagi?"
Belum sempat Askar menjawab, Adzilla sudah kembali bersuara. "Askar, hatiku masih terluka. Aku masih trauma untuk berhubungan kembali pada pria lain. Askar, kau masih muda. Cinta bisa hilang kapan saja. Jika aku menerimamu, bagaimana dengan keluargamu? bagaimana dengan teman-teman mu? mampukah kau membela ku tanpa harus durhaka kepada keluarga mu?"
Askar tersenyum dan ingin mengusap air mata yang sudah mengalir di pipi Adzilla namun urung karena wanita itu menggeleng sebagai penolakan.
"Aku mengerti. Semua yang kau ucapkan itu benar, kak. Aku akan tetap berusaha meyakinkan mu, yakinkan bapak, dan juga keluarga ku jika aku serius dengan perasaan ku."
Adzilla dan Ayah Yusuf setuju karena sejauh ini mereka memang menerima perlakuan Askar.
__ADS_1
"Maafkan aku, As." ada rasa tak enak hati pada Askar.
"Nggak apa kak, aku mengerti. Jawaban mu itu bukan penolakan tetapi memberi waktu. Maka saat aku ungkapkan lagi perasaan ku, jangan di tolak."
Adzilla berdecak melihat senyum penuh arti Askar untuknya.
"Terserah."
Merasa pembicaraan sudah cukup, ayah Yusuf pergi ke kamar meninggalkan mereka di ruang tamu.
"Kita pacaran dulu, boleh gak?" goda Askar langsung mendapat pelototan dari Adzilla membuat ia tertawa.
Setelah mengatakan itu, Askar pamit pulang dan Adzilla mengantarnya sampai teras rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati."
Askar bergeming masih setia memandangi wajah Adzilla membuat sang empu salah tingkah.
"Aku pulang."
❤️
__ADS_1
TBC