SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
35. Jadi saksi nikahan


__ADS_3

"Papi kenapa? sakit ya tangan, papi?" tanya Sania pagi itu.


Karena akhir Minggu, Adzilla menjenguk Askar bersama ayah Yusuf dan ke dua anaknya. Hana dan Heri juga berada di ruang rawat Askar.


Askar meminta Adzilla untuk menaikkan Sania di atas brankar duduk disebelahnya. "Iya sakit, tapi cuma sedikit. Nia sudah makan?"


"Sudah, mama belum pi." Sepertunya bocah berumur hampir 4 tahun itu sudah mulai mengaduh.


Askar langsung melihat ke arah Adzilla yang tertunduk. "Kenapa belum makan, yang?"


Tataoan mereka bertemu kemudian Adzilla memalingkan wajah. "Kau sudah makan belum?" bukan nya menjawab melainkan bertanya pada Askar.


Askar sendiri menahan senyum seakan mengerti dari pertanyaan Adzilla. "Belum, makan bareng yuk." ajaknya agar Adzilla segera makan.


Benar saja, binar bahagia terpancar dari mata pujaan hatinya. Ini yang sangat ia rindukan. Berada dekat dengan Adzilla, Satria, dan Sania. Mereka bertiga selalu bisa membuat dirinya merasa tak sendiri lagi.


"Abang sudah makan?" tanya Askar pada Satria yang tengah duduk di samping ayah Yusuf.


"Sudah, pi."


"Abang, sudah main handphone nya. Dari tadi belum berhenti juga." tegur Askar pada Satria karena bocah itu sedari tadi sibuk bermain game di ponselnya.


Seperti titah raja yang tak terbantahkan. Satria langsung menurut apa yang di katakan Askar dan bocah itu berjalan ke arahnya mengembalikan ponsel.


"Terimakasih, pi." Ucap bocah itu membuat Askar mengangguk lalu mengacak rambut bocah laki-laki tersebut.


Sembari menunggu Adzilla mengambil makanan, Askar menanggapi percakapan antara Satria dan Sania. Ia juga harus menjawab mengapa tak pernah lagi berkunjung ke rumah ayah Yusuf.


Di sudut ruang rawatnya ada Ayah Yusuf, Hana, dan Heri duduk di lantai beralas tikar sedang mengobrol di temani air botol mineral dan roti yang di siapkan Adzilla sebelumnya.


"As." panggil Adzilla.


Belum sempat ia menanggapi Sania sudah bersuara. "Kenapa mama panggil papi itu As? kata mama kalau mau panggil harus papi?"


Bibir Askar terlipat ke dalam menahan senyum mendengar pertanyaan dari Sania dan ekspresi raut wajah Adzilla.


Adzilla sendiri menelan saliva ketika ditanya seperti itu. "Ah iya, papi." ucapnya sembari melirik Askar yang tengah senyum kemenangan.


...****...


Hana melihat Askar yang tampak ceria seperti dahulu ikut merasa bahagia. Walau sikap Askar masih acuh tak acuh padanya tetapi tidak membuat rasa bahagia itu berkurang.


"Pak. Kapan Zilla siap untuk menikah dengan Askar?" tanya Hana pada ayah Yusuf.


"Apa gak buru-buru, nak Hana?" tak menjawab lantas bertanya demikian.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik, pak. Sekarang Askar tinggal di rumah kontrakan sendiri. Dia juga masih marah padaku. Aku gak mau dia sendiri di rumah dan akan timbul fitnah kalau Zilla sering main ke sana."


Ayah Yusuf mangguk-mangguk.


"Surat NA juga sudah di urus kan?" tanya ayah Yusuf pada Hana.


"Iya, surat di NA nya masih saya simpan, pak."


"Baiklah. Besok mereka nikah."


...****...


Esok hari nya, hari ini adalah waktunya Askar di perbolehkan pulang setelah seminggu di rawat. Adzilla juga sudah hadir namun ada yang aneh menurutnya.


Pujaan hatinya terlihat sangat cantik dengan gamis putih dan hari ini Adzilla berdandan.


"Kau mau kemana, sayang?" tanya Askar sedari menahan keingin tahuan nya.


"Mau jemput kau, As."


"Tapi kenapa harus berdandan begitu? aku gak suka sayang dandan gak ada aku."


Adzilla terkekeh tanpa menjawab karena ia tengah membantu Askar turun dari brankar. Reza masuk membawa pakaian ganti Askar kemudian Adzilla keluar ruangan itu.


Seusai Askar berganti pakaian walau dirinya sendiri masih merasa heran mengapa memakai pakaian serba putih namun tetap saja menuruti memakai pakaian tersebut.


Tetapi dokter mengatakan tak sampai berbulan-bulan menunggu sembuh karena tak separah yang di bayangkan.


"Za, kita mau kemana?" tanya Askar penasaran karena Reza juga memakai pakaian rapi.


"Mau ke Masjid." jawab Reza singkat membuat Adzilla tersenyum melihat wajah Askar kebingungan.


"Ngapain?" tanya Askar lagi.


"Jadi saksi nikahan Adzilla."


Askar langsung menghentikan langkah lalu menatap Adzilla dengan tajam. "Sayang, kenapa kau selalu tega padaku?"


Adzilla tak menanggapi memilih terus menarik paksa Askar agar masuk ke dalam mobil.


...****...


Di Masjid tak jauh dari rumah kontrakan Askar nampak Hana, Heri, ayah Yusuf, dan juga beberapa warga yang di undang turut hadir. Dua teman Askar juga sudah hadir disana bertugas sebagai fotografer.


Di rumah kontrakan Askar juga ada beberapa tetangga sedang menyiapkan makanan yang akan di sajikan nanti bila pihak pengantin telah tiba.

__ADS_1


"Apa Askar beneran belum tahu?" tanya Heri pada Hana.


Hana mengangguk kemudian tertawa membuat Heri menggelengkan kepala. Sedang ayah Yusuf tampak duduk diam termenung. Bukan sedih, tetapi bersyukur dan berharap pernikahan putrinya kali ini adalah pernikahan terakhir hingga akhir hayat. Tentu nya tak lupa berdoa untuk kebahagiaan dan keberkahan untuk hidup Adzilla.


...****...


"Kenaoa aku harus memakai sepatu begini? seperti aku pengantin nya saja." gerutu Askar kemudia membuka sepatu dengan kaki nya saja.


Masih dengan raut wajah bermuram durja. Ia berjalan lebih dahulu dan duduk di tempat saksi pernikahan Adzilla.


"Ngapain kau duduk disitu, nak Askar?" tanya Ayah Yusuf.


"Kan aku mau jadi saksi nikahan Zilla, ayah." sahut Askar mencoba baik-baik saja. Padahal, jika saja ayah Yusuf tahu. Ingin sekali menangis di saat itu juga.


Biarlah dikatakan cengeng, namun membayangkan saja sudah sangat menyakitkan apalagi harus merasakan nya.


"Duduk di depan, ayah. Apa kau mau membuat Bapak Penghulu menunggu ocehan mu?"


Askar bergeming membuat ayah Yusuf kembali memberi titah padanya dan akhirnya ia menuruti.


Askar di beri secarcik kertas bertulis nama lengkap Adzilla dan ayah Yusuf.


"Maharnya terserah padamu. Kalau bisa cepat."


Askar diam saja melihat secarcik kertas itu kemudian sadar bila dirinya lah yang akan menikahi Adzilla. Dengan cepat merogoh dompet dan mengeluarkan berapapun uang yang ada di dalamnya.


"Yah, adanya 727.000."


"Tak apa."


...****...


Beberapa saat kemudian. Kata SAH sudah terucap satu jam yang lalu. Baik Askar maupun Adzilla belum banyak bicara karena para sepupu Adzilla datang.


Tetapi, sesekali tatapan mereka bertemu dan melempar senyum malu-malu. Tak lupa Adzilla selalu membantu Askar jika merasa kesulitan melakukan sesuatu. Kedua anak Adzilla sangat antusias dengan pernikahan Askar dan Adzilla.


Godaan para sepupu pada Askar terus saja berlanjut. "Ciye.. Pengantin baru. Tapi sayang sekali, iya kan? tangan nya sakit, gak bisa lah pegang-pegang Zilla."


"Ya makin enakkah. Zilla yang kerja nanti malam."


Kedua pengantin baru itu hanya bisa tertunduk tersipu malu.


❤️


Bersambung..

__ADS_1


Hai sayang aku.. yg belum kasih no.hp langsung ke gc ya


__ADS_2