SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
23. Lamaran


__ADS_3

Kabar Askar hendak melamar Adzilla telah tersebar. Teman sekolah, teman tongkrongan, followers Instagram, bahkan viewers Askar di youtube juga mengetahuinya.


Entahlah, mungkin ketika ia membuat konten siaran langsung kebetulan Adzilla menelepon. Teringat waktu itu ia menyebut wanita itu dengan sebutan 'sayang'.


Tetapi hingga kini para pengikutnya itu masih penasaran siapa wanita yang ia sebut sayang. Bukan bermaksud menyembunyikan, tetapi tahu jika Adzilla tidak suka di tunjukin ke banyak orang.


"As."


"Hem."


Saat ini, Askar dan ketiga teman nya baru saja selesai berjualan dan merapikan grobak di gudang rumah Hana.


"Kau serius sama Zilla?"


Askar menoleh ke arah Reza sekilas lalu fokus lagi pada ponselnya. "Tentu, kalau gak mana mungkin sejauh ini perjuangin Zilla."


"Tapi, As. Gimana sama keluarga mu?"


"Kak Hana setuju." sahut Askar karena seperti itulah kemauan nya.


"Kau yakin?"


Askar hanya mengangguk.


"Semoga, dan ku harap kau hanya bersimpati pada Adzilla dan kedua anaknya. Jangan membuat keputusan sepihak mu pada kak Hana yang akan berimbas pada kebahagiaan ketiga orang itu."


Ucapan Reza membuat Askar terdiam. Menyelami hatinya dan bertanya apakah benar hanya bersimpati? atau benar-benar cinta?


"Apa kau berpihak sama kak Hana? menolak Adzilla karena janda beranak dua?"


Reza menggeleng. "Mungkin selera kita beda. Tapi tetap saja, As. Restu keluarga yang utama."


Askar menyimak segala ucapan dari Reza. "Bukankah menjalani sekalian mendapatkan restu juga bisa?"


"Bisa. Semoga kalian segera dapat restu."


...****...

__ADS_1


Sebelum melangsungkan hari pernikahan, ada prosesi penting yang tidak boleh terlewatkan, yakni lamaran. Momen spesial ini juga menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu sekaligus mendebarkan bagi kedua belah pihak. Pasalnya, lamaran merupakan ajang pertemuan dan pinangan resmi dari pihak pria kepada keluarga wanita.


Prosesi lamaran dimulai ketika keluarga calon mempelai pria tiba di rumah mempelai wanita.


Rombongan Askar, Hana, dan Heri baru saja memasuki pelataran rumah Adzilla. Dengan di dampingi beberapa tetangga dan ketiga teman Askar membawa seserahan untuk calon istri Askar.


Rombongan itu di sambut hangat pula oleh pihak keluarga Adzilla. Memasuki ruangan terlihat beberapa otang saudara Adzilla.


Senyuman nya terus mengembang menatap satu sisi ruang tamu itu sudah di dekorasi dengan dilapisi berbahan kain berwarna pugih dengan tumpukan bunga serta awalah huruf nama mereka disana.


Baru saja Askar duduk di lantai berlapis tikar itu, kedua anak Adzilla sudah berlari menghampirinya.


"Duduk yang tenang. Enggak boleh ribut ya." ujar Askar membuat kedua anak itu mengangguk.


"Baju kita sama, pi. Baju adek sama kayak mama." bisik Satria membuat Askar semakin tak sabar untuk bertemu.


Tidak berapa lama, yandi tunggu akhirnya keluar dari kamar dan duduk di sebelah ayah Yusuf tepat berhadapan dengan nya berjarak tiga meter.


Keningnya mengerut karena sedari tadi Adzilla menunduk padahal ingin sekali ia melihat wajah cantik calon istrinya itu.


Suara dati orang yang ditunjuk sebagai perwakilan keluarganya sudah terdengar. Ucapan terimakasih dan selamat telah di sampaikan.


Askar berdecak ketika perwakilan keluarganya memberitahu keburukan nya. Dan malu ketika suara riuh tawa orang-orang apalagi melihat Adzilla tertawa tertahan melirik ke arahnya.


"Tapi jangan terus marah kau ya, dek. Walau begitu Askar orang nya penyayang."


Ia ikut tersenyum ketika Adzilla tersenyum setelah mendengar ucapan orang itu. Tetapi senyuman itu tak bertahan lama setelah mendengar ucapan orang itu lagi.


"Saking penyayangnya, sulit membedakan mana sayang sama kau mana sayang sama teman. Semua di sayangi nya."


Askar pasrah jika Adzilla marah padanya setelah acara ini karena terlihat jelas wajah masam wanita iyu sedari tadi.


"Sudahlah ceritanya tentang adek kami Askar ini ya. Bisa nangis nanti kalau marah calon nya."


Pasrah.


Askar pasrah menjadi bahan guyonan di acaran nya sendiri.

__ADS_1


"Askar, acara selanjutnya menyampaikan niat kedatangan kita. Mau om saja yang melamar Adzilla atau kau sendiri?"


Karena sudah kesal kepada orang yang ia panggil om itu, mendengar ucapanorang itu seperti sebuah teka-teki yang mengartikan bahwa orang itu yang akan melamar Adzilla.


"Aku saja."


Ia pun mengambil alih mic yang di pegang orang itu. Berdehem untuk menetralkan degub jantung yang berdetak lebih kencang. Andai mic ini ia arahkan ke dadanya pasti sangat terdengar jelas.


"**Adzilla Rahma, aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Menunggu luka hati mu sembuh, menunggu menerima kehadiranku, menunggu dan menyambut cinta ku. Aku sangat menikmati proses itu."


"Dan di segala proses itu, aku juga butuh banyak waktu untuk segala hal yang mungkin akan terjadi jika aku memilihmu**."


Askar menjeda kalimat yang akan di ucapkan nya karena saat ini tatapan nya bertemu dengan mata Adzilla.


"**Bermunajat pada Allah untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali aku bertanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihan ku? Benarkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawaban ku tetap sama. Itu kau Adzilla."


"Izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Allah ini untuk membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka yang sangat besar. Bukan, aku tak ingin memilikimu. Aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu**."


Askar menjeda kembali karena melihat Adzilla menghapus air mata. Di jauhkan mic itu lalu berujar. "Jangan menangis."


Menghela nafas lalu kembali mengucapkan niatnya.


"**Malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidupku."


"Adzilla Rahma, maukah kau menikah denganku**?"


Tanpa menunggu lama juga mic sebagai pengeras suara Adzilla mengangguk. "Aku mau, As."


Ada rasa lega dihati dan bahagia penuh haru karena penantian nya tak sia-sia. Adzilla-nya menerima cinta dan lamaran nya.


Pihak keluarga Askar memberikan seserahan berupa satu set pakaian isinya kebaya,kain jarik, sepatu, dan tas. Lalu kosmetik, dan peralatan mandi. Terakhir adalah perhiasan.


Askar sendiri yang menyerahkan dan memakaikan perhiasan tersebut. "Selangkah lagi menuju halal."


Setelah prosesi penyerahan seserahan, Askar mengajak Adzilla berkenalan dengan keluarganya. Begitu juga dirinya.


Dan terakhir adalah menetapkan waktu pernikahan untuk keduanya dan putusan terakhir adalah enam bulan dari hari itu.

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2