SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
49. Adzilla bertemu Mentari


__ADS_3

"Ini anak gendut, sukanya rebahan, makan nya banyak, pipinya bulat, minta di elus, minta di cium."


Cup


Askar menirukan suara menyanyikan lagu yang sedang ramai di Reel Instagram pada Adzilla.


Sedang diam saja walau biasanya jika Askar melakukan itu, dirinya akan protes bahkan membalas sang suami.


Tetapi ini berbeda. Ada yang berbeda dari sang istri membuat Askar menghentikan kejahilan nya. "Ada apa, kenapa dari tadi diam saja. Cerita denganku," pinta Askar menyadari perubahan sang istri semenjak pulang dari rumah ayah Yusuf.


Adzilla menggeleng. "Aku enggak apa-apa."


"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Askar.


"Aku sedih, As. Aku sedih kau dikatain ibu-ibu tadi saat kita di rumah ayah," Adzilla bangkit untuk duduk langsung memeluk suaminya itu.


Isak tangis Adzilla mulai terdengar membuat Askar memeluk erat sang istri. Ia sangat tahu penyebab terpukulnya hati Adzilla.


"Maaf," ucap Askar lirih.


Adzilla menggeleng.


"Maaf belum bisa buat kakak hamil. Mungkin salah ku karena masih terlalu muda jadi gak bisa membuat kakak hamil," imbuh Askar kemudian.


Untuk kesekian kali sepasang suami istri itu menangis karena tak kuat menghadapi olok-olok para tetangga.


Ya, Adzilla sering sekali menerima perkataan yang tidak mengenakkan dari para tetangga untuk suaminya karena dari semenjak mereka menikah, ia belum juga hamil padahal dari pernikahan sebelumnya, hanya sebulan ia datang bulan dan bulan berikutnya dirinya telah hamil Satria begitu juga saat hamil Sania.


"Jangan memanggilku kakak, As. Aku terlihat tua. Atau jangan-jangan aku yang sudah tak subur lagi?"


Pelukan itu terurai hingga Askar menghapus air mata Adzilla begitu juga sebaliknya. Kedua insan itu saling menenangkan.


"Istriku ini masih mudah dan sangat cantik. Kita kan sudah periksa kesuburan dan hasilnya kita berdua sehat kan? kita harus tetap ikhtiar."

__ADS_1


Adzilla mengangguk. "Aku hanya sakit hati kalau ibu-ibu itu membicarakan suamiku."


Askar mengecup kening Adzilla. "Yang Ikhlas, sayang."


Adzilla mengangguk seraya memejamkan mata merasakan bibir Askar memdarat di keningnya. Tetapi kecupan itu turun hingga ke bibir.


Sontak membuat Adzilla memukul paha Askar. "Jangan macam-macam. Ini masih siang."


"Sayang, ikhtiar itu bukan cuma berdoa, tetapi ada usaha yang harus di wujudkan."


"Modus."


...****...


Berhari-hari berlalu. Hari ini Adzilla sedang berbelanja untuk keperluan selama seminggu. Bertepatan Askar tak bisa menemani karena hari ini adalah hari gajian untuk Reza dan dua teman lain nya. Jadi, dirinya hanya sendirian dan kedua anaknya berada di rumah.


Terik Matahari membuat Adzilla enggan pulang menyetir sepeda motor sendiri. Akhirnya memilih mampir di warung Mie Ayam pinggir Pasar.


Warung itu terlihat ramai dan bisa dipastikan jika rasanya lebih enak. Terlebih aroma kuah nya sudah tercium di indera penciuman nya.


"Kak Adzilla."


Ia pun tersenyum kemudian menjawab sapaan nya. Matanya menelisik tampilan Mentari yang memakai daster panjang, jaket jeans, dan hijab instan.


"Kau hamil, Tari?" tanya nya mempersilahkan Mentari duduk di sebelahnya.


Tetapi sebelum duduk Mentari berbicara pada wanita paruh baya untuk membuatkan mie ayam untuknya.


"Sudah berapa bulan?" tanya Adzilla.


Mentari mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. "Jalan enam bulan. Kakak sudah isi?"


Adzilla menggeleng. "Belum, Allah masih kasih kesempatan kami pacaran," ia terkekeh dengan jawaban nya sendiri. Tidak tahu saja jika ia dan Askar sering menangis dalam doa untuk di beri keturunan.

__ADS_1


"Kak, maafkan aku karena menjadi penyebab kakak gagal nikah sama Askar."


Adzilla menatap wajah sendu Mentari. Terlihat jelas jika wanita hamil itu tengah mengalami kesedihan.


"Jangan dipikirkan. Lihatlah, kami menikah juga kan? kau hamil, jangan setres apalagi banyak sedih. Boleh aku pegang?"


Mentari mengangguk dan membuat Adzilla senang. Di elus perut buncit Mentari dengam sayang sembari berdoa semoga dengan segera di rahim nya juga akan hadir benih cintanya dengan Askar.


...****...


Adzilla menghentikan motor matic suaminya itu tepat di depan rumah kontrakan mereka. Ditenteng dua kantung plastik berisi bahan dapur.


"Assalamualaikum," ucapnya di jawab beberapa suara dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam."


Ia tersenyum melihat Reza dan Diana bertamu. Askar mendekati mengambil alih dua kantung plastik dari tangan Adzilla namun sebelum itu, Adzilla mencium punggung tangan Askar.


"Sudah lama, Diana?" tanya Adzilla basa-basi ikut bergabung duduk di ruang tamu.


Askar duduk di sebelah Adzilla setelah meletakkan kantung plastik di dapur.


"Pi, tadi aku ketemu Mentari." celetuk Adzilla membuat dua pria tersebut menoleh ke arah nya dengan tatapan maksud berbeda.


"Kalian gak cakar-cakaran, kan?" tanya Askar khawatir.


Adzilla pun terkekeh. "Gak lah. Lagian Mentari lagi hamil besar."


Reza semakin menegang mendemgar obrolan sepasang suami istri di depan nya. Tetapi ia tak ingin mengundang curiga sebelum memastikan sendiri.


Kini ia tahu dimana Mentari dari apa yang di ucapkan Adzilla.


❤️

__ADS_1


TBC


__ADS_2