SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
57. Bulan madu 2


__ADS_3

"Pi. Ngapain ke Hotel?" tanya Adzilla ketika Askar baru saja menghentikan sepeda motornya di tempat Parkir sebuah Hotel.


"Bulan madu," jawabnya mengerlingkan mata.


Adzilla hanya diam mengikuti Askar mendatangi resepsionis. Ia hanya bisa menunduk malu merasa kedua resepsuonis tersebut menatap aneh padanya.


Tetapi genggam tangan Askar yang menggenggamnya erat seakan memberi ketenangan.


"Jangan malu," bisik Askar dengan suara berat yang sangat dihapal Adzilla bila suaminya menginginkan nya.


Sesampainya di kamar Hotel, Askar tersenyum penuh arti. "Kenapa, yang?" tanya Askar menuntun Adzilla untuk duduk di tepi ranjang.


Adzilla menggeleng. "Apa papi sebelum menikah sering check-in?" tanya Adzilla mendadak kesal dan berpikir tak baik tentang Askar.


Askar duduk mengarah pada Adzilla tangan kebelakang sebagai tumpuan. "Ya sering," jawab Askar santai sembari menatap Adzilla yang melotot tercengang mendengar jawaban nya.


Askar melipat bibirnya ke dalam menahan tawa akibat perubahan wajah Adzilla.


"Imam Al-Ghazali menyebutkan penyebab keharaman buruk sangka. Menurut beliau, rahasia setiap orang hanya diketahui oleh Allah yang Maha Tahu akan yang ghaib sehingga kita enggak boleh berburuk sangka dalam hati kecuali ada penglihatan jelas secara mukasyafah yang tidak mungkin dita’wil."

__ADS_1


"Jadi istriku, aku sering check-in bukan berarti dengan perempuan lain. Aku dulu sering check-in kalau ada touring bareng anak NMAX laki-laki," imbuh Askar menarik Adzilla merapat pada tubuhnya.


Perlahan ia buka hijab instan syar'i Adzilla kemudian menurunkan sleting gamis istrinya. Kecupan demi kecupan di punggung Adzilla hingga sampai ke leher. Adzilla berbalik menghadap Askar. Kedua mata mereka nampak sayu dengan nafas yang sama berat.


"Pelan-pelan, Pi."


Ah, suara Adzilla meningkatkan tengangan tinggi yang hendak disalurkan. Malam itu, Askar menggagahi sang istri sangat lembut begitu juga Adzilla melayaninya hanya sebentar karena ia tahu ada makhluk kecil sedang tumbuh di rahim Adzila.


Selama sudah mengetahui Adzilla, Askar lebih mendominasi setiap berhubungan. Kini ia semakin bersemangat ketika melihat wajah Adzilla yang masih dirudung gai rah.


Sangat seksi.


Untuk malam ini, ia menghabiskan waktu bersama sang pujaan hati. Hingga pada titik akhir yang sama, kedua nya mencapai puncak nirwana untuk ke dua kalinya.


"Gak tahu, pengen nya nempel mulu sama Papi."


Askar tersenyum sembari membelai rambut Adzilla. "Tidurlah, nanti aku pergi bantu tutup jualan dulu. Setelah itu kesini lagi."


"Apa aku gak ikut pulang saja?"

__ADS_1


"Jangan, kita masih bulan madu."


Adzilla mencubit pinggang Askar kemudiam memejamkan matanya karena kelelahan.


...***...


Di sebuah rumah kontrakan model 36 itu, tiga orang beda generasi baru saja kembali dari rumah salah satu Ustadz di dusun sebelah.


Begitu banyak perdebatan sebelum akad dan sesudah akad dilangsungkan.


"Bagaimana aku bisa tenang? kalian gak ngerti perasaanku," tangis Mentari pecah kembali memikirkan bagaimana nasibnya dan juga anaknya kelak jika pernikahan siri ini terkuak.


"Tari, tenang ya. Apapun yang akan terjadi, aku akan melindungimu dan juga anak kita."


Reza terus merengkuh tubuh Mentari, istri keduanya dengan belaian di kepala istrinya itu.


Ia tahu akan ada badai dan jalanan terjal untuk hubungan mereka tetapi, jauh di lubuk hatinya begitu merasa bahagia karena menikahi Mentari.


"Aku sayang kau Mentari, tetaplah bersama ku."

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2