SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
21.Askar, kamu tahu rindu yang terpenjara?


__ADS_3

Sepanjang jalan perjalanan ke rumah Ayah Yusuf, Adzilla lebih banyak diam. Persis dahulu saat Askar berjuang meluluhkan hati wanita itu.


Bahkan hingga sampai rumah juga Adzilla terdiam tanpa kata. Askar membantu ke dua anak pujaan hatinya. Ketika Adzilla ingin melangkah, dengan sigap Askar cekal pergelangan tangan Adzilla.


"Tolong jangan diam begini, kak." Di genggam kedua tangan yang memiliki wajah ayu itu.


Adzilla menggeleng. "Aku nggak mau kisah lama terulang. Lebih baik aku meninggalkan apa yang akan membuat ku terluka nantinya, As. Aku memang menyayangimu tapi aku lebih mementingkan diriku dan anak-anak. Aku enggak pantas bersanding dengan mu, As."


"Pergilah, cari kebahagiaan mu bersama perempuan lain." Kalimat terakhir yang diucapkan Adzilla sangat terdengar jika suara itu tengah menahan tangis.


Dengan memberanukan diri, Askar merengkuh wanita pujaan hatinya dengan erat. Dan disaat itu pula tangis Adzilla pecah.


Bukan hanya karena menyadari bahwa Hana belum merestui hubungan mereka. Tetapi, untuk kesekian lama nya ada seseorang memeluk Adzilla disaat hatinya merasa sedih dan butuh pelukan.


"Aku takut."


Askar mengusap kepala Adzilla berbalut hijab tersebut. "Kalau sayang, ayo kita berjuang bersama. Itu akan lebih membahagiakan, kita nikmati prosesnya sampai hari indah itu tiba."


"Kakak itu seperti rukun islam yang ke lima, tahu?"


Adzilla melerai pelukan menatap Askar dengan banyak tanda tanya. "Maksudnya."


"Iya, kakak itu seperti rukun islam yang ke lima. Yang pantas bersanding sama kakak itu hanya bagi yang mampu."


Adzilla memicing mata merasa tersinggung langsung berujar. "Jadi, kau tak mampu? ya sudah mundur sana." katanya sewot.


"Kenapa aku yang di salahkan? bukan nya tadi kakak yang mau nyerah?"


Terdiam. Adzilla tak mampu lagi menjawab karena apa yang di katakan Askar benar. Ia masih terlalu takut untuk menghadapi orang yang tidak menyukai dirinya.


"Besok kita belanja keperluan lamaran ya, dan sekalian nyicil untuk seserahan pertunangan kita kalau perlu."


Adzilla melotot setelah mendengar itu. "Itu terlalu buru-buru, As."


"Enggak, aku nggak mau kita seperi tadi. Lihatlah, tanpa di duga kita menikmati pelukan itu kan?"


Siapa yang tidak menikmati pelukan dengan orang yang kita sayangi? bahkan tadi Askar dapat merasakan detak jantung Adzilla berirama tak beraturan sama persis seperti detak jantung nya.

__ADS_1


Askar menahan senyum melihat Adzilla tertunduk malu karena ucapan nya barusan. "Sudah sana masuk, Aku harus kerja biar punya uang untuk maharin kakak."


Akhirnya tak sanggup menahan tawa ketika Adzilla memukul dada nya yang tak berasa apa-apa.


"Aku pulang. Assalamualaikum."


"Hati-hati. Waalaikumsalam."


...****...


Askar memarkirkan motornya di samping rumah Hana. Masuk dengan mengucap salam dari pintu belakang karena ia akan bersiap-siap untuk membawa grobak jualan nya ke tempat biasa memangkal.


"Askar, kau apa betul-betul sudah gila? apa matamu katarak nggak bisa pilih cewek yang masih gadis? kenapa harus cewek lebih tua? apalagi cewek mu itu janda." serang Hana yang sudah menunggu Askar sedari tadi.


Askar tersentak hingga mengelus dada. "Astaghfirullah, kak. Buat kaget saja."


"Askar, jawab pertanyaan kakak."


Askar menghela nafas lalu ikut duduk berhadapan dengan Hana. "Kak, aku enggak gila dan mataku masih sehat dan cerah. Aku sayang dan cinta sama Adzilla, aku yang memilih dia sebagai pendampingku. Terus juga aku enggak mempermasalahkan status janda nya."


"Askar mencari istri itu pastinya punya kriteria. Kompatibilitas secara keseluruhan ada pada Adzilla, tujuan untuk menikah ya itu sebagai jembatan menuju surga Allah juga sejalan dengan Adzilla."


Hana terus mendengar Askar yang terus menjelaskan dan meyakinkannya agar mau menerima Adzilla.


"Dek. Ini ya, kau sudah besar dan sudah dewasa. Kau harus tahu, salah satu alasan kenapa orang ingin cepat nikah agar bisa berhubungan badan."


"Ya aku tahu."


"Nah. Kau harus tahu lebih enak rasa masih gadis dari pada janda. Apalagi Adzilla sudah ngeluarin dua anak. Pasti itu sangat longgar."


Askar diam saja mencerna perkataan Hana. Kata teman nya yang bejat dan ada yang sudah menikah memang benar lebih enak jika masih gadis.


"Kak, aku suka cewek penyabar, tidak banyak menuntut, mandiri, berkomitmen, dan nggak pernah memainkan cinta. Kalau masalah ranjang, Adzilla lebih berpengalaman dariku. Pasti dia bisa lebih memuaskan aku."


Hana mencebik bibir karena kesal melihat sang adik tak terpengaruh. "Kau itu cuma obsesi, nanti pasti kau muak."


Askar menggeleng. "Enggak kak, bahkan cintaku semakin kuat setiap saat nya. Aku selalu berdoa agar kami di persatukan."

__ADS_1


"Terserah kau lah, As."


"Harus. Ingat satu minggu lagi kita kesana."


...****...


Di kediaman ayah Yusuf. Adzilla duduk termenung di teras pada sore hari. Melihat kedua anaknya bermain mobil dan alas memasak mainan.


Mata memang memandang kesana namun pikiran melayang. Mengingat bagaimana tatapan dan pertanyaan Hana membuat ia ragu untuk meneruskan pernikahan nya dengan Askar.


Tetapi sayang dan cinta untuk pria muda itu sudah tak dapat terbendung lagi.


"Jangan terlalu dipikirkan Zilla."


Adzilla tersentak menileh ke sumber suara. Di elus dada saking terkejurnya. "Ayah."


"Ya, ayah sudah menduga pasti ada yang terjadi. Sabar, nak. Jika Askar benar-benar serius sama kamu pasti dia akan berjuang."


Adzilla hanya mengangguk lalu atensi nya teralih dengan pesan yang di kirim Askar.


*Ini bukan tentang seumuran, lebih tua, atau lebih muda. Ini tentang menyeimbangkan hidup dan bisa berjalan beriringan. Yang memberi kenyamanan di hati, kenyamanan di sisi, dan kasih sayang tiada henti. Tentang tertawa bersama saling memberi support dan mendoakan satu sama lain, bicara lepas tak terbatas tanpa memikirkan ini pantas atau tidak pantas. Ketika dunia begitu kejam, kau menjadi tempatku pulang. Yang bisa membuatku selalu sabar dan mengerti meski sangat sulit.


Menerimaku apa adanya meski pun aku cuma seadanya. Masalalu mu enggak aku persoalkan karena aku tahu, karena hal itulah yang membentuk mu seperti sekarang. Kekurangan masing-masing adalah tugas bersama untuk belajar saling menerima dan memperbaiki agar menjadi lebih baik. Tentang kau yang dengan ikhlas menerima dan berlapang dada menjadi makmum ku. Membuatku merasa bangga memiliki mu.


Terima kasih telah menerima ku*.


Lantas? apa yang harus di ragukan dari seorang Askar terhadap Adzilla? pria muda itu selalu bisa meyakinkan wanita itu jika kembali goyah dengan perasaan dan hubungan mereka.


*Askar, kamu tahu rindu yang terpenjara?


Rindu memang tak kenal waktu. Seperti sedari pagi sudah merindukan mu walau kita sudah bertemu. Pagi yang kesekian kalinya, dan aku masih membungkus rinduku dengan bungkam. Ketika pagi menelan malam, aku selalu berharap dan berdoa akan ada kamu saat membuka mata.


Rindu memang tak bisa di atur. Diam-diam menyelinap menyesakkan dada. Padamu rinduku bermuara. Dalam tatapmu yang teduh, ingin ku mengaduh keluh. Pada bahumu yang tangguh, ingin ku berbagi peluh.


Rindu itu benar adanya. Meski hampir setiap waktu kita bisa bertemu. Dalam diam aku memenjarakan rindu. Cukup aku yang mengetahuinya, kamu jangan dulu.


❤️

__ADS_1


TBC*


__ADS_2