
"Pi, kenapa ramai sekali?" tanya Adzilla. Saat ini keluarga kecil itu tengah berada di rumah kediaman Diana, tunangan Reza.
Beberapa waktu lalu acara pertunangan tersebut telah usai dan sekarang waktunya acara hiburan.
"Keluarga Diana banyak." jawab Askar singkat.
"Pi, nyanyi dong. Iya kan bang, dek." Seru Adzilla meminta bantuan kedua anaknya. Dan berhasil, suaminya itu tak akan mungkin menolak permintaan mereka bertiga.
Semenjak menikah dengan Askar, ia mulai terbiasa jika di acara atau melakukan kegiatan di luar rumah bersama suami akan ada kamera di sekitarnya karena itu salah satu penghasilan sang suami.
Walau ketika hasil video akhirnya nanti dirinya selalu tak kelihatan.
"Istriku bukanlah konsumsi publik." kalimat itulah yang selalu terucap jika ia bertanya atau para netizen yang bertanya.
Askar bangkit mendekati pemain keyboard dan seperti biasa ia akan mendapat sorak-sorai dari teman-temannya.
Awalku mengenalmu
Tersita seluruh hatiku
Oh indahnya dirimu
Ku jatuh hati padamu
Matanya tertuju pada Adzilla. Seakan ia mengungkapkan isi hati lewat lagu. Sedang Adzilla merasa terharu dinyanyikan lagu Tyok Satrio.
Tak terasa waktu berlalu
Kini kau t'lah jadi milikku
Betapa bahagianya aku
Saat kau ada di sisiku
Ah, mengapa menyanyikan lagu ini jika sekarang ia melihat istrinya menangis?
Kini tiba saatnya
Kita harus melangkah
Temani diriku di sisa waktumu
Terharu. Itulah yang dirasa Adzilla hingga tak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Genggamlah tanganku bersamaku
Kau kan menentukan arah
Bersama diriku yang kan slalu
Menjaga dirimu
Yakinkan hatimu temaniku
Di setiap langkah-langkah ku
__ADS_1
Ku di sini di sampingmu
Ku kan slalu ada untukmu
Nah kan, ia melupakan jika istrinya telah memiliki dua bodyguard yang setia. Walau dekat dengan dirinya tetapi jika melihat sang ibunda menangis maka dirinya akan menjadi musuh dua bodyguard itu.
Benar saja, usai bernyanyi dan ikut duduk bersama istri dan kedua anaknya mendadak suasana mencekam baginya. Kedua anaknya itu menatap horor padanya.
"Sayang, kenapa menangis?" tanyanya tetapi ia mendapat pukulan dan cubitan dari kedua anaknya.
"Kok papi di pukul dan di cubit?" ringis nya karena cubitan Sania terasa perih.
"Papi buat mama menangis sama kayak papa Bari."
"Papi jahat."
"Mulai sekarang, papi gak boleh bobok samam mama dan gak boleh cium peluk mama." ucapan Sania sontak membuat yang mendengar tertawa termasuk Adzilla.
"Papi gak jahat, sayang. Mama nangis karena bahagia."
Satria menoleh menatap Adzillam "Benarkah?"
Adzilla mengangguk langsung menyuruh kedua anaknya meminta maaf pada Askar. Setelah iyu keluarga kecil itu pamit pada Reza dan Diana untuk pulang.
Di perjalanan, Sania merengek untuk berhenti di Lapangan kota yang terdapat beberapa permainan anak disana. Dan Sania ingin naik di Istana balon sedang Satria di tempat khusis mewarnai lukisa.
Anak pertama Adzilla memang suka bidang itu. Askar memilih menemani Sania karena pasti bakal lebih repot menjaga gadis kecilnya. Dan Adzilla menemani Satria.
Ia tercengang melihat pemandangan tak jauh dari sana. Adzilla tengah berbicara dengan seorang pria dan tersenyum.
Cukup lama ia memperhatikan, diakui bila Adzilla tampak tak nyaman dengam kehafiran pria asing itu membuat ia bangkit melangkah mendekati mereka.
"Sayang." panggilnya dan membuat Adzilla melebarkan senyuman untuknya.
"Pi, kenalin ini bang Ardi." ucap Adzilla takut-takut.
Askar pun berjabatan tangan saling berkenalan walau di hati menyimpan tanda tanya. Tetapi ia benar-benar tak bisa menyimpan rasa cemburunya karena sedari tadi lebih banyak diam.
"Kerja dimana, bang?" tanya Ardi.
"Gak kerja, bang. Pengangguran. Abang sendiri, kerja dimana?"
"Di kebun sawit perorangan, bang. Mandor."
Askar manggut-manggut sembari melirik Adzilla.
Cukup lama mereka mengobrol. Memang tak ada pembicaraan membahas tentang istrinya tetapi ia tahu jika Ardi curi pandang ke istrinya.
"Papi, kenapa dari tadi Sanita tanya diam saja?" tanya Sania saat masih di jalan menuju rumah.
"Sakit gigi." sahut Askar singkat tetapi ucapan Satria membuatnya ingin mengumpat dan tertawa bersamaan.
"Kalau sakit gigi itu minum obat, pi. Papi sih malas sikat gigi. Pantas mama gak mau dekat papi dari tadi."
Hanya bisa istighfar dalam hati. Membiarkan Istri dan kedua anaknya menertawakan dirinya.
__ADS_1
...****...
Sesampainya di rumah, mereka membersihkan diri. Adzilla menyiapkan makan malam tanpa mengajak Askar berbicara dan itu membuat Askar semakin kesal pada istrinya.
Hingga selesai makan pun Adzilla tak juga menegurnya. Ia pun beranjak masuk kamar. Niat hati sehabis makan malam di rumah langsung pergi bekerja pun sudah tak dilakukan nya.
Adzilla masuk ke kamar langsung membuat Askar berbalik memunggunginya. Ia tersenyum melihat tingkah Askar yang menggemaskan ketika cemburu.
Tentu dirinya paham karena ia pernah melewati fase itu. Membiarkan sang suami beberapa saat karena ingin memberi ruang sendiri untuk sang suami setelahnya baru berbicara.
Ia berjalan menuju lemari dan di pakainya tanktop dan hotpan kemudian mendekati Askar.
"Jangan menggodaku, yang. Aku gak akan tergoda." cicit Askar membuat Adzilla menaikkan satu alisnya.
"Ya sudah kalau gak tergoda. Lupa kalau rumput tetangga lebih hijau? aku lebih cantik di mata suami orang loh." goda Adzilla membuat Askar terduduk dengan wajah suram durja.
"Kau menyebalkan, mi."
"Papi, dengar dulu." Adzilla ingin menggenggam tangan Askar namun di tepis.
"Baiklah, mami gak akan sentuh tapi dengarkan. Dia itu Bang ardi-."
"Sudah tahu." potong Askar.
"Ya tadi memang sudah kenalan. Bang Ardi pernah dekati aku. Kami kenal karena anak nya bang Ardi itu teman ngaji Satria."
Askar langsung menatap Adzilla. "Jangan bilang di seorang duda."
Adzilla mengangguk membuat Askar semakin cemburu dan takut. Takut istrinya berpaling karena umur mereka terpaut jauh.
"Apa kau sedang cemburu, suamiku?"
Askar mengangguk lugu.
"Maaf, pi. Tapi papi harus tahu kalau sayang dam cintaku hanya untukmu." ucap Adzilla tulus.
"Seharusnya kau tahu, bahwa kecemburuan akan selalu ada dalam ikatan. Karena itu,jangan buat aku cemburu, buatlah orang lain cemburu saat melihatku."
Adzilla mengangguk dengan senyum mengembang. "Kau terbaik." kata Adzilla memeluk Askar dengan erat.
"Aku berharap kita seperti merpati, hanya setia pada satu pasangan saja." ucap Askar masih berpelukan.
"Papi peluk mama terus." celetuk Satria entah sejak kapan sudah berdiri di samping ranjang.
Kedua nya tersentak langsung menjauhkan diri. Di tatap Satria membuat keduanya salah tingkah.
"Abang sejak kapan berdiri disini?" tanya Adzilla.
"Sejak Papi dan mami bilang seperti merpati."
"Memang bisa, Papi dan Mama jadi merpati?" lanjut Satria membuat Askar dan Adzilla menepuk jidat mereka.
❤️
TBC
__ADS_1