
Mentari berdiri di samping sang ibunda sedang melihat rumah orang yang tengah ramai bersuka cita
Ya, Mentari dan ibunda sedang menyaksikan resepsi Reza dan Diana. Air mata yang mengalir tak dapat di cegah. Harapan semua musnah.
Hatinya semakin perih ketika melihat Reza tersenyum dan tertawa bahagia. Di elus perut yang masih rata itu.
"Bu, ayo kita pulang," ajak Mentari langsung dituntun sang ibunda.
Dua bulan lalu, begitu Reza mengatakan akan bertunangan dirinya selalu menghindari pria itu. Ia tak ingin mendengar kata maaf atau dijadikan simpanan lagi oleh pria itu.
Hingga pertunangan terlewati dan begitu hancur lagi hidupnya hari ini. Ya, hari ini untuk pertama kali nya tahu bahwa dirinya dalam keadaan hamil.
"Maafkan Mentari, Bu. Mentari sudah buat ibu malu dan kecewa," tangisnya semakin pecah kala sampai di kosan nya.
Sebelum hari ini Mentari jatuh sakit sehingga sang ibunda datang. Tetapi namanya orang tua pasti tahu bila anak gadis nya itu mengalami sakit apa.
Ibu Mentari langsung membawa anak nya ke Bidan. Dan benar sesuai dugaan bahwa Mentari hamil sudah 8 minggu.
Sesampainya di rumah, Mentari menceritakan hubungan nya dengan Reza. Ingin marah? itu pasti. Tetapi kembali lagi, tidak ada orang tua yang akan terus saja marah.
"Jadi Reza teman mu waktu sekolah sering antar kau pulang kampung kalau akhir minggu?" tanya Ibu Mentari setelah Mentari selesai menceritakan.
"Ayo kita minta tanggung jawab,"
Mentari menggeleng. "Dia baru saja selesai akad, bu."
"Astaghfirullah, nak. Bagaimana dengan nasib mu juga anakmu?"
Mentari menggeleng membuat keduanya menangis bersama. Ibu Mentari juga tak dapat berbuat apa-apa karena tak ada lagi sedang keluarga almarhum ayah Mentari sudah tak peduli semenjak semenjak meninggal saat usia Mentari masih 5 tahun.
...****...
"Lebih baik kau ikut ibu pulang kampung, Tari."
Mentari menggeleng. "Aku malu, Bu."
Lama mereka terdiam. "Baiklah, kita cari rumah kontrakan dekat Pasar."
Mentari menoleh ke arah ibunya. "Kenapa dekat Pasar, Bu?"
"Kita akan jualan Mie ayam, teruskan usaha ayah dulu. Biar rumah kita sewakan. Uang dari BPJS Ketenagakerjaan mu kalau sudah keluar di simpan untuk biaya lahiran. Berdoa semoga lahiran mu gangsar dan normal, nak."
Lagi-lagi ibu dan anak itu menangis bersama. Mentari terus saja merasa menyesal dan sangat yakin bila penyesalan itu akan berlangsung seumur hidup.
Siapa yang mau dengan wanita memiliki anak tetapi tak pernah menikah?
__ADS_1
Itulah yang timbul pertanyaan jika pikiran nya sudah berandai-andai.
Malam terus larut, sang ibunda telah terlelap tetapi tidak dengan Mentari. Ia masih melihat media sosial dimana banyak teman-teman nya melakukan siaran langsung di acara pernikahan Reza dan Diana.
Lalu di dalam siaran langsung itu mengarahkan ke Askar dan Adzilla. Ia terkekeh ketika melihat Askar nampak sebal karena para teman mereka ingin berkenalan pada Adzilla.
"Kau orang baik, As. Makanya Allah hadirkan kak Adzilla untukmu."
Mengapa ia berbicara seperti itu? itu karena merasa bersalah dengan kejadian lalu dimana ia menggagalkan pernikahan mereka. Dengan senang hati Adzilla memutuskan hubungan dengan Askar demi pertanggung jawaban.
Karena tak bisa tidur, ia pun membereskan pakaian nya karena akan segera pindah.
Nak. Tetaplah sehat di perut bunda. Mungkin setelah malam ini, kita gak akan ketemu ayah lagi. Lembaran hidup bersama ayah mu telah selesai. Tetaplah bersama, bunda. Maaf jika hadirmu karrsa sebuah kesalahan.
Tangis itu pecah kembali. Menutup mulut agar tak menciptakaan suara. Bayangan senyum dan tawa bahagia Reza kembali terngiang di benaknya.
Apa kau pernah merasakan cinta untuk ku sedikit saja, Za?
Aku kangen kau, Za.
...****...
Pagi hari nya, Mentari pergi ke alamat yang diberikan salah satu teman kerjanya dimana ada rumah kontrakan murah disana.
Mungkin benar, hamil di luar nikah jauh lebih mudah daripada hamil yang diinginkan setelah pernikahan.
"Hati-hati, Tari. Jangan ngebut," ujar Ibu Lia, ibu Mentari.
Mentari mengangguk. "Semoga rumahnya nyaman ya, Bu."
"Aamiin, apa kau gak ingin menemui Reza, nak? dia harus tahu kalau kau hamil anak dia."
Mau bagaimanapun, Ibu Lia ingin anaknya menikah dengan pria yang telah merenggut kesucian anak gadisnya.
Mentari menggeleng. "Enggak, Bu. Aku gak mau ngerusak rumah tangga orang dan juga anak ini akan menjadi nasab ku, kan bu?"
Ibu Lia mengangguk sedih. "Berangkatlah, nak. Ibu akan membereskan barang-barang lain nya sebelum Reza datang mencarimu lagi."
Setelah mengucap salam, Mentari pergi ke tempat tujuan nya. Memang semenjak malam itu, Reza berulang kali mencarinya tetapi dirinya selalu berhasil menghindar.
Hatinya begitu sakit dan kecewa terhadap Reza. Dan ia begitu marah pada dirinya sendiri karena tak bisa membenci pria itu.
...****...
Sesampainya di rumah kontrakan tersebut. Mentari berkeliling sekitar rumah dan melihat keadaan dalam rumah itu di temani sang pemilik rumah.
__ADS_1
Ia juga terpaksa berbohong jika dirinya sudah menikah dan suaminya merantau ke Malaysia. Jadi beralasan akan tinggal bersama ibunya.
Setelah memeriksa listrik dan air bagus juga sesuai harga, Mentari langsung setuju menyewa selama setahun. Uang juga sudah di serahkan dan akan di tempati sore hari.
Mentari melajukan motor matic nya ke Pasar mencari lokasi strategis untuk berjualam Mie ayam bersama ibunya.
Ia mengelus perut rata nya yang keroncongan. "Kita sudah lapar ya, dek? ayo kita cari sarapan."
Dengan senyum mengembang, Mentari berjalan menyusuri Pasar hingga matanya tanpa sengaja melihat Reza dan Diana. Reza hanya berdiri di samping Diana yang tengah memilih bawang merah.
Di tambah matanya melihat rambut panjang Diana dalam keadaan basah. Dan ia baru teringat pastilah tadi malam mereka melakukan ritual malam pengantin, malam pertama.
"Lihat ayah, sayang. Dia sudah hidup bahagia. Kita harus jauh lebih bahagia, ya."
Mentari mencoba menetralkan degub jantung nya berjalan melewati mereka karena tak dapat berbalik arah setelah tatapannya bertemu dengan mata Reza.
Ia dapat melihat keterkejutan dari Reza tetapi tak ingin perduli lagi. Usai melewati Reza, Secepat mungkin melangkah agar menjauh dari pria itu.
Mentari tak ingin bertemu kembali dengan Reza. Ia ingin membuka lembaran baru dalam hidupnya.
"Mentari."
Deg
Tanpa di duga ternyata Reza mengejarnya. Menarik nafas panjang baru berbalik ke arah pria itu dengan mengulas senyum.
"Oh, ya."
Langkahnya mundur selangkah ketika Reza mencoba mengikis jarak. "Ada apa, Za?"
"Kau kemana saja? Aku mencarimu."
Masih dengan senyuman. "Aku pulang kampung. Maaf aku gak bisa datang di acara pertunangan dan pernikahan mu semalam. Aku baru sampai pagi ini."
"Tapi-,"
"Mas."
Mentari tersenyum miris ketika melihat Diana datang memanggil Reza dan langsung merangkul lengan pria itu.
Tanpa pamit, Mentari berlari tanpa menghiraukan kehamilan nya. Ia tak dapat membendung kesedihan nya lagi.
❤️
TBC
__ADS_1