SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
38. Sayang


__ADS_3

Seusai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Adzilla pergi ke dapur untuk menanak nasi. Melihat bahan makanan tidak ada yang lain membuatnya bingung. Hal itu terjadi karena dirinya tak memiliki uang. Sedang meminta pada Askar, ia sendiri tak mempunyai nyali.


"Loh, kenapa belum siap-siap, yang?" tanya Askar baru saja masuk ke dapur.


Adzilla menoleh ke belakang melihat Askar sudah memakai kaos dan celana pendek bahan kain.


"Mau kemana, As?"


"Belanja, sayang. Dimana hijabnya? biar aku ambilkan." tanya Askar karena melihat Adzilla sudah mengenakan kaos panjang dan rok panjang.


"Biar aku ambil saja. Kau tunggu disini." ucap Adzilla melangkahkan kaki ke kamar. Di dalam kamar Adzilla memakai hijab instan dan kaos kaki.


"Kita mau kemana, As?"


"Belanja di warung depan. Nanti setelah tangan aku sehat baru kita belanja di Pasar, ya."


Adzilla hanya mengangguk. Hatinya menghangat diperlakukan seperti itu. Terbayang kembali masa lalu nya ketika dirinya masih menjadi istri Bari.


Setiap pagi ia harus bangun sendiri. Berbelanja sendiri, memasak, membersihkan rumah sendiri. Dan pekerjaan rumah itu harus selesai sebelum Bari bangun. Jika pekerjaan rumah belum selesai saat Baru sudah bangun, maka bersiaplah harus mendengar kalimat-kalimat yang berisi merendahkan nya.


Istri pemalas.


Istri tidak tahu di untung.


Istri tidak bisa apa-apa.


Jangan tanya apa yang bisa ia lakukan. Dirinya hanya bisa diam saja. Bertahan demi kedua anak nya.


Mata Adzilla melihat tangan nya yang di genggam Askar dengan tatapan haru.


Benarkah ini buah dari kesabaran,?


...****...


Sesampainya di warung. Sudah banyak ibu-ibu berbelanja sayur dan lauk pauk juga.


"Pengantin baru jadi belanja pun di temani istrinya iya kan, As?" goda salah satu ibu-ibu itu yang sudah mengenal Askar.


Askar hanya terkekeh dan mengiyakan saja. Duduk disana membiarkan Adzilla memilih sayur dan lauk pauk sesuka hati.


"Sayang. Ini uang nya." kata Askar menyerahkan dompet. Ia jadi teringat belum membicarakan tentang nafkah.


"Dua puluh ribu saja, As. Kau ambilkan saja."


Askar tersenyum tetap menyerahkan dompetnya pada Adzilla. Benar saja Adzilla menerima tetapi dengan wajah cemberut dan bibirnya mengerucut.

__ADS_1


Setelah membayaran, mereka kembali pulang yang sebelumnya Askar sudah pamit pada ibu-ibu tersebut.


"Maaf aku belum bisa angkatin barang, yang." ucap Askar sedih melihat satu tangan Adzilla membawa sekantung plastik berisi belanjaan mereka.


"Gak apa, As."


Tiba di rumah, mereka langsung ke dapur hendak memasak. Sebelum memulai memasak, Adzilla membuatkan teh untuk Askar.


"Jangan buru-buru, yang. Kau lupa suami mu ini pengangguran?" tanya Askar melihat Adzilla seperti sedang terburu-buru.


Adzilla menoleh ke arah Askar. "Aku takut kau kelaparan menungguku memasak, As."


"Tenanglah, jangan dibuat beban. Kita bisa beli lontong sayur dekat sini kalau belum selesai memasak."


"Ah ya, mengingat beli butuh uang, kita bicarakan masalah nafkah dulu sini. Simpan saja dulu belanjaan ke kulkas." imbuh Askar lagi.


"Tapi nanti gak matang, As. Aku terserah kau saja mau di jatah berapa perharinya." sahut Adzilla.


Askar menghela nafas panjang. "Jangan keras kepala, istri Solehah ku." kata Askar penuh penekanan karena ia sudah tahu Adzilla adalah wanita yang memiliki sifat keras kepala dalam waktu-waktu tertentu.


"Iya-iya."


Askar menggenggam tangan Adzilla kemudian di kecilnya berulang kali. "Kau tahu, sayang. Gerobak itu adalah usahaku dari tamat SMA."


"Hasil dari berjualan itu, pendapatan bersih aku bagi dua. Satu untuk perawatan atau untuk menambah cabang. Satu bagian lagi khusus untuk tabungan pribadi ku." terang Askar menatap gerobak itu.


"Ya, kau harus menabung nya bukan?" tanya Adzilla.


"Tabungan kita. Memang gak banyak, tapi kita bisa merasa aman kalau sedang sakit, kita punya cukup uang untuk berobat."


Penjelasan Askar padanya sangat menohok hatinya. Memang bukan bermaksud tetapi apa yang dikatakan Askar barusan membuat Adzilla benar-benar merasa beruntung memiliki Askar.


Mengingat dahulu Bari sangat tak perduli jika kedua anaknya sakit apalagi jika dirinya yang sakit. Jangankan berharap untuk di perhatikan, tahu dirinya sakit, minimal mengerti hari itu membiarkan dirinya istirahat sebentar saja tak pernah terwujud.


Dirinya harus tetap melaksanakan pekerjaan rumah, mengurus anak, menyiapkan keperluan Bari.


"Dan untuk nafkah keperluan keluarga dan nafkah pribadi untuk mu, dari penghasilan Chanel YouTube aku ya. Gak apa kan? memang penghasilan nya tak sebesar pendapatan dari jualan."


Adzilla tersenyum. "Gak apa, As."


"Dan nafkah batin, mau kau gimana yang?"


Adzilla melotot mendengar itu.


"Sayang, aku sebenarnya sangat ingin. Tapi tangan aku masih sakit. Kapan si sembuhnya?" tiba-tiba suara Askar berubah menjadi rengekan yang manja.

__ADS_1


"Dua Minggu lagi sudah di lepas kok. Terus tunggu pemulihan selama 3 bulan paling cepat kata dokter."


Askar mencebik. "Itu sangat lama."


"Nanti malam aku yang kerja."


Ucapan Adzilla begitu ambigu di telinga Askar membuat pria itu diam sejenak lalu senyuman merekah terbit.


"Oke. Ayo kita beli lontong."


Adzilla mengangguk lalu berjalan dengan tangan tetap berada di genggaman tangan Askar.


Warung itu tak jauh dari rumah kontrakan mereka. Di sepanjang jalan Askar banyak memberi wejangan pada Adzilla.


Itu diberikan karena Adzilla yang bertanya. Dan Askar menjawab dari apa yang ia tahu saja.


Di warung mereka makan dengan tenang. Tak sedikit yang menyapa Askar karena ia sudah cukup banyak dikenal dan mengenal daerah dimana mereka bertempat tinggal sekarang.


...****...


Malam harinya. Satria dan Sania sudah di antar ayah Yusuf sore tadi. Dan saat ini kedua anak itu tengah bermain pada papi baru mereka.


Adzilla tersenyum melihat kedekatan ketiga nya. Menatap wajah Askar. Pemuda tampan dan muda itu memperlakukan nya bagai Ratu.


Mungkin terdengar lebay. Atau bahkan patut di katakan begini. 'Baru nikah jadi masih hangat-hangat nya. Coba kalau sudah setahun, lima tahun atau lebih pasti itu suami akan berubah menjadi dingin karena bosan.


Tetapi ia bertekad untuk membuat Askar jatuh cinta berulang kali padanya. Jangan ditanya bagaimana dirinya pada Askar. Menatap pria itu dari kejauhan begini saja sudah membuat jantungnya berdebar.


Melihat jam sudah hampir tiba waktu tidur kedua anaknya, ia pun memilih masuk ke kamar menunggu Askar datang.


...****...


Melihat Adzilla masuk kamar, Askar mengajak kedua anak sambungnya masuk ke dalam kamar. Sania sudah tertidur dan ia beralih ke kamar Satria.


"Putraku tercinta, jadilah anak lelaki yang pantang menyerah, disiplin, sabar, dan tangguh." Nasihatnya pada Satria.


Bocah 6 tahun itu pun mengangguk kemudian membaca doa tidur barulah memejamkan mata.


Askar bangkit setelah memperbaiki selimut Satria juga Sania. Menutup pintu baru lah melangkahkan kaki ke kamar mereka.


"Sayang."


❤️


TBC

__ADS_1


__ADS_2