SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
69. Extrapart 1


__ADS_3

Sembilan belas tahun kemudian.


Askar dan Adzilla mengantar anak bungsu mereka di Bandar Udara Kualanamu, Medan. Isak tangis mengiringi langkah kaki satu keluarga kecil itu.


"Kak Sania jangan menangis," tutur Aisyah memeluk kakak perempuan nya yang sudah berusia dua puluh empat tahun.


Sania mengangguk. "Kabari kalau sudah sampai. Nanti kalau uang sertifikasi kakak sudah keluar, kakak main ke kosan kamu."


Aisyah mengangguk, lalu beralih di hadapan sang Mami sedari tadi sudah mengangis. Diusap air mata Mami nya. "Jangan nangis, Mi. Ais kan disana belajar. Ada Abang Satria dan Kak Lestari disana," tutur Aisyah lirih.


"Jaga diri. Jangan ikut bergaul bebas, Nak."


Aisyah mengangguk kemudian memeluk sang Mami, begitu juga saat berhadapan dengan sang Papi.


Tentu saja ia juga merasakan hal sama. Namun, cita-cita harus di gapai. Apalagi ia mendapatkan beasiswa di salah satu Universitas bergengsi di Ibu Kota.


Hari ini, ia berangkat ke Jakarta bersama kakak tirinya, Satria. Kakak sulung nya sudah menikah dengan teman dekat nya dahulu. Nabila namanya. Satria sendiri sudah menjadi seorang Ustadz dan mengajar di Pondok Pesantren di Jawa Timur.


Tapi menurut Aisyah. Walau pernikahan sang kakak terlihat baik-baik saja, tak ada yang tahu jika sang kakak menyimpan kepingan luka yang terus dicoba terima oleh sang kakak.


Kisah cinta yang miris.


Kebaikan dan kebodohan itu beda tipis, menurut Aisyah.

__ADS_1


...****...


"Ini kontrakanmu, dik."


Aisyah mengangguk. "Terimakasih, bang."


Aisya memindai pandangan seisi rumah kontrakan sederhana. Tentu saja tak masalah baginya. Yang terpenting leetak kontrakan tidak jauh dari Kampus karena akan lebih menghemat biaya.


"Nanti kita belanja ke Pasar. Biar Kak Nabila istirahat saja," ucap Satria dan lagi-lagi Aisyah mengangguk.


Ia pun masuk ke salah satu kamar yang hendak menjadi kamarnya. Ia membereskan segala barang ke lemari dan rak buku.


Seusai itu, ia keluar kamar karena sudah bersiap. Ia terkesiap melihat penampilan Satria. Sangat tampan, ini yang di suka Aisyah dari Satria. Kakak nya itu sangat tahu menempatkan penampilan, seperti sekarang memakai kemeja panjang biru tua dan celana bahan denim.


"Kakak sudah menikah," tutur Satria terkekeh seraya keluar rumah bersama Aisyah.


Aisyah mencebik. "Abang berhak bahagia."


"Pernikahan bukan hanya sekedar cinta. Ada campur tangan Allah bagaimana hamba-Nya berjodoh dengan orang yang seperti apa. Dan Abang memilih Nabila," tutur Satria lemah lembut. Ia sangat tahu adik bungsunya ini sedikit pembangkang.


"Tapi enggak dengan mempertaruhkan kebahagian Abang. Ais berharap Abang menemukan seseorang yang membuat Abang mengenal cinta yang sebenarnya."


Tidak ada sahutan karena keduanya sudah memasuki taksi menuju Pasar Tradisional. Aisyah dan Satria memilah bahan memasak selama seminggu ke depan.

__ADS_1


Setelah berbelanja dan menunggu taksi di pinggir jalan raya. Tanpa di duga, ada seorang gadis menabrak Aisyah.


"Ah. Maaf kak, aku gak sengaja!" ucap gadis itu.


Ada yang aneh disini, Satria diam membisu menatap gadis itu lalu menunduk seraya mengucap istighfar.


"Yah. Pergi saja itu orang tanpa membantu. Gila, larinya cepat banget."


Satria menegur Aisyah. Beruntung semua belanjaan dipegang Satria.


...***...


Hari telah tiba. Sudah waktunya Aisyah masuk Kuliah. Satria dan Nabila sudah kembali ke Jawa Timur. Ia juga sudah menghafal jalanan sekita kontrakan dan kampus juga selama seminggu ini.


Dari jarak rumah kontrakan menuju Kampus hanya naik satu bus saja. Halte bus masih terlihat sepi. Ia berdiri menunduk ke bawah. Dirinya mematung ketika tubuhnya terciprat air genangan di jalan. Lebih tepat seperti tersiram karena bagian pakaian nya banyak terkena air genangan itu.


"Sialan," umpat Aisyah kemudian mengambil batu lalu melempar mobil yang sudah melakukan kekacauan paginya.


"Mampus. Berhenti, malah pecah itu mobil."


"Buset. Ini harus astaghfirullah atau masyaallah, atau subhanallah? ganteng amat ciptaan Allah," cicit Aisyah menatap pria keluar dari mobil dengan setelan kantoran dan kacamata hitam bertengger di hidung.


"Mana Bule, lagi. Boleh minta foto gak ya?"

__ADS_1


__ADS_2