
Melihat Askar masuk ke kamar kedua anaknya, membuat ia berinisiatif masuk ke kamar. Padahal di dalam kamar, Adzilla merasa bingung sendiri harus apa.
Dirinya bukan lah tipe wanita agresif. Ia lebih banyak menerima dari pada mendahului sesuatu.
"Aku harus, apa?" Gugup menerpa hati. Adzilla memutuskan untuk mengganti seprai dengan seprai baru. Sudah menggantinya pun Askar belum kunjung masuk ke dalam kamar.
Wajahnya bersemu merah ketika terbayang apa yang akan dilakukan nanti. Selama pernikahan sebelumnya, memang sudah terbiasa melakukan itu. Tetapi mengapa menjadi malu harus melakukan nya dengan Askar?
Ia pun membuka tas berisi pakaian yang di bawa ayah Yusuf sore tadi. Sebenarnya pakaian itu dirinya lah yang menyusun pada saat malam setelah ayah Yusuf memberitahu pernikahan nya dengan Askar.
Diambil satu lingerie hitam berbahan satin miliknya. Lingerie itu dibeli dahulu ketika membeli bakal kain untuk akad nikah mereka tanpa sepengetahuan Askar.
Ia pun membuka pakaian nya satu persatu kemudian memakai lingerie itu. Di depan cermin, Adzilla menatap dirinya. Melihat kedua aset berharga nya masih berdiri kokoh. Terlihat kencang dan berukuran sesuai ukuran badan nya.
Kedua aset itu berdiri kokoh walau sudah memiliki dua anak karena dahulu tak sampai setahun memberi ASI pada kedua anaknya.
Bukan tak ingin, hanya saja ASI nya tak keluar lagi.
Lalu ia memiringkan tubuhnya di depan cermin, pandangan nya beralih ke bokong nya yang tampak menonjol. Ia pun menghela nafas panjang. Entah apa maksud dari tubuhnya ini, berat badan bertambah tetapi yang nampak membesar bokong nya.
Kemudian menyentuh perutnya. Memang rata tetapi di balik lingerie itu terdapat Stretch Mark yang mulai memudar karena ia rajin mengobati guratan peregangan itu.
"Sayang."
Adzilla terjingkat kaget spontan memutar tubuh menghadap Askar.
"Astaghfirullah." ucap Adzilla menyilangkan kedua tangan di dada.
Hening.
...****...
"Putraku tercinta, jadilah anak lelaki yang pantang menyerah, disiplin, sabar, dan tangguh." Nasihatnya pada Satria.
Bocah 6 tahun itu pun mengangguk kemudian membaca doa tidur barulah memejamkan mata.
Askar bangkit setelah memperbaiki selimut Satria juga Sania. Menutup pintu baru lah melangkahkan kaki ke kamar mereka.
"Sayang." panggil Askar.
__ADS_1
Tubuhnya mematung melihat pandangan di depan mata. Pemandangan indah menyejukkan mata dan memancing hasrat kelaki-lakian nya.
Berulang kali menelan saliva dengan kasar. Sungguh ia tak bisa menahan lagi. Tetapi harus menahan sebentar saja.
Askar berjalan mendekati Adzilla. Menarik pinggang istrinya agar tubuh mereka saling bersentuhan.
"Apa kau sudah tak tahan, sayang?" tanya Askar dengan suara berat.
"Bu-bukan begitu-." Belum sempat Adzilla menyelesaikan bicaranya, Askar sudah membungkam mulut Adzilla.
Ada rasa tak percaya diri dari Askar karena tak memiliki pengalaman berciuman. Hanya Adzilla lah wanita pertama dan akan menjadi wanita satu-satunya yang akan ia cium bibir nya.
Tidak tahu istrinya itu menilai keahlian nya dalam ciuman atau tidak. Yang pasti keduanya kini saling menikmati. Ia mengikuti gerakan yang dilakukan Adzilla.
"Maaf, aku belum ahli." ucapnya membuat Adzilla tersenyum.
"Bibir mu sangat manis." goda Adzilla membuat wajah Askar bersemu merah.
"Kita sholat dulu ya." ajaknya pada Adzilla.
"Sholat apa, As?" tanya Adzilla karena ia tak tahu sholat apa selain sholat sunah tahajud dan sebelum sholat subuh.
Adzilla hanya menuruti. Sebenarnya ia tak tahu tentang sholat sunah sebelum berhubungan di malam pertama. Mungkin nanti ia akan bertanya pada Askar.
Selesai sholat. Keduanya duduk berhadapan. Entah apa yang di pikirkan mereka.
"Sayang, bolehkah aku memintanya sekarang?" tanya Askar.
Tatapan mereka bertemu. "As, tapi kau harus tahu bahwa aku gak akan merasa kesakitan saat melakukan itu karena kau bukanlah pria pertama yang menyentuh tubuhku. Aku gak akan malu-malu ketika kau menciumku, katakan padaku jika setelah kita melakukan itu, kau merasa tak puas. Jangan memilih untuk meninggalkan ku, tapi bicaralah padaku dan katakan keinginanmu agar merasa puas hanya padaku." terang Adzilla menggenggam tangan Askar kemudian mengecup punggung tangan itu.
Askar mengangguk. "Aku suka kau yang seperti ini, sayang. Mengungkap kan apa yang kau rasa daripada memendam nya sendiri."
Keduanya saling melempar senyum hingga tangan Askar menyingkap mukenah Adzilla hingga menampakkan tubuh mulus bagian atas Adzilla.
Adzilla membantu Askar membuka sarung dan baju koko suaminya dan membuka rok mukenahnya.
Tidak tahu siapa yang memulai, bibir keduanya sudah saling bercumbu. Melu mat habis, lidah saling berbelit bertukar saliva.
Ciuman itu terlepas ketika keduanya kehabisan pasokan udara, saling menatap dengan senyum mengembang walau nafas terengah-engah.
__ADS_1
Askar membawa Adzilla ke ranjang. Menyibakkan rambut ke belakang hingga menampakkan leher mulus dengan pundak terekspos dan jangan lupakan dua aset berharga itu menyembul seperti hendak keluar.
"Kau sengaja tak pakai br*a, yang?"
Adzilla tersenyum dan mengangguk. "Aku terbiasa membukanya kalau mau tidur."
"Kalau begitu, selama aku di rumah juga jangan pakai."
Askar tak memberi kesempatan Adzilla berbicara lagi karena ia sudah membungkam bibir Adzilla lagi.
Turun ke leher dan mempraktekkan yang pernah ia tonton dahulu saat masa sekolah bersama teman-teman nya.
Menurunkan tali spaghetti dari pundak Adzilla. Mengecup tiap jengkal kulit mulus alami istrinya hingga giliran dua aset yang sudah terpampang di depan matanya.
Seperti bayi kehausan, Askar langsung melahap satu aset dengan satu aset lagi telah di remas nya. Apapun yang di lakukan seakan menghilangkan rasa sakit di tangan kiri nya.
"Boleh aku yang pimpin?" tanya Adzilla berbisik. Keduanya sudah dilanda kabut gai rah.
Adzilla memulai berdasarkan pengalaman. Bukan hanya pengalaman, ia ingin merealisasikan fantasi nya yang tak pernah tersalurkan. Karena jika ia sedikit liar saja dahulu Bari sudah mengatakan jika ia mirip sekali dengan wanita malam.
Adzilla duduk di pangkuan Askar dengan kedua kaki pengapit perut suaminya. Mulai penyerangan dari bibir, turun ke leher, memberi sentuhan-sentuhan pada titik rang sang suaminya.
Senyuman nya merekah mendengar Askar menge rang atas perbuatannya, menghentikan penyerangan karena ingin melihat wajah tampan suaminya yang sedang menikmati sentuhan nya.
"Apa aku terlihat seperti wanita malam?" tanya Adzilla membuat Askar menatapnya.
"Ini sangat nikmat, sayang." puji Askar membuat Adzilla tersipu.
Inilah yang ingin ia rasakan, dipuji atas fantasi nya ketika di atas ranjang. Adzilla mendorong Askar hingga terlentang. Tangan nya menggeliat dari dada turun ke perut hingga berhenti pada tonjolan yang ada di balik celana.
Dielus terus menerus membuat Askar benar-benar mabuk kepayang. Di buka celana pendek itu juga benda segitiga pelindung.
Ia menelan saliva melihat ukuran milik Askar sangat jauh berbeda dengan milik Bari.
"Jangan di lihatin terus, aku malu sayang."
❤️
TBC
__ADS_1
Hayoo.. masih mau lanjut gak?