SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
62. Berduka


__ADS_3

Reza mengatur nafas untuk terlihat biasa saja di depan Mentari. Ia harus segera menyelesaikan masalah istri keduanya ketimbang masalah rumah tangga nya dengan Diana.


Tadi, setelah memergoki istri pertamanya dengan Indra yang dikenal sebagai kakak sepupu istrinya itu sempat memotret nya memakai ponsel yang diberi Askar khusus untuk berjualan.


"Kalau kau masih tahu diri cepatlah berkemas dan angkat kaki dari rumahku," ucapnya tadi sebelum pergi kembali ke rumah sakit setelah membawa dua buku tabungan nya.


Seusai menyelesaikan administrasi untuk rawat inap dan kepulangan jenazah Ibu Lia, ia menghampiri Mentari untuk ikut pulang ke rumah mereka.


Pak RT sudah mengabari jika rumah kontrakan Mentari telah ramai dihadiri pelayat.


"Sabar, sayang. Ibu sudah tenang," ucapku menenangkan padahal hati Reza sendiri tengah bergemuruh.


Ia tak tahu apa ini sebuah kebetulan atau justru takdir dari Sang Pemilik Jagat Raya untuknya agar dapat bersatu dengan Mentari.


Sekelebat kejadian-kejadian aneh yang pernah tertangkap basah dari Diana olehnya. Rupanya begitu banyak kejadian yang sama sekali tak pernah diduga bahwa kejadian itu adalah petunjuk perselingkuhan Diana dan Indra.


Di rangkul tubuh sang istri kedua dengan mengusap-usap perut buncit Mentari. Ia cukup takjub melihat Mentari yang sangat tegar. Sedari tadi istrinya itu tak berhenti membaca Al-Qur'an walau membaca sembari menghapus air mata yang jatuh dengan sendirinya.

__ADS_1


...****...


Tangis duka memenuhi ruang tamu ketika jenazah masuk ke dalam ruangan dan di taruh ditilam yang sudah disediakan para tetangga.


Reza membawa Mentari masuk ke dalam kamar untuk ganti pakaian. Namun sesampainya di dalam, tangis Mentari pecah membuat Reza merasa iba.


"Ibu, Za."


"Istighfar, Tari. Jangan buat aku takut," tutur Reza begitu khawatir.


"Mentari. Hei, sayang. Bangun. Jangan buat aku takut," istrinya tak sadarkan diri dalam pelukan. Di baringkan Mentari di atas ranjang lalu keluar meminta salah satu tetangga untuk menunggu Mentari di kamar sedang ia akan mengambil air hangat dan mengambil makanan.


"Minum dulu," ujarnya membantu Mentari minum air hangat yang dibawa.


"Aku gak lapar, Za."


Ucapan Mentari tak dihiraukan Reza dengan segala bujukan agar mau makan walau hanya beberapa sendok saja.

__ADS_1


Merasa jauh lebih baik, Mentari ikut keluar kamar. Reza menghela nafas ketika melihat beberapa pelayat adalah teman Sekolah Menengah Atas mereka.


Untuk kali ini ia tak ingin berpura-pura seperti dahulu. Biar saja mereka berbicara apa tentangnya juga Mentari untuk saat ini.


...****...


Jenazah baru saja di kebumikan. Para pelayat berangsur meninggalkan kediaman Mentari. Hari sudah mulai petang dan Reza sudah izin pada Askar untuk tidak masuk kerja selama seminggu.


"Sayang, makan lagi yuk."


Mentari hanya menggeleng. "Gimana aku tanpa ibu, Za?"


Reza kembali mendekap Mentari. "Ada aku, setelah acara tahlilan ibu selesai. Kau ikut aku kerumahku,"


Mentari melepas pelukan menatap Reza begitu intens. "Bagaimana dengan Diana?"


"Jangan dipikirkan, yang penting kau ikut aku. Masalah Diana biar aku yang hadapi. Jangan menangis lagi. Ibu pasti sedih," tutur Reza menenangkan dan membiarkan Mentari bersandar di dada nya.

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2