
"Kenapa papi sayang mama?" tanya Satria di tengah kegiatan nya yang tengah mewarnai.
Askar dan Satria sore itu sedang asyik mewarnai buka gambar yang baru saja dibeki Askar. Tangan kiri Askar juga sudah mulai pulih setelah 8 minggu pengobatan rutin.
"Papi nggak tahu harus jelasin gimana sama abang. Tapi satu hal, semenjak ketemu dengan mama, ada rasa ingin melindungi mama, abang, dan juga adek Sania."
"Oh, lindungi dari papa Bari biar gak di marahi ya, pi?"
Askar menghentikan mewarnai nya kemudian menghadap Satria dengan mengulas senyuman.
"Bukan hanya dari kemarahan papa Bari. Sudah kewajiban seorang suami melindungi keluarga, termasuk sang Istri. Dan suami mama sekarang papi. Melindungi ini bukan cuma dari penjahat. Papi harus melindungi harga diri mama, kehormatan, memperlakukan mama dengan baik dan menjunjung tinggi derajat mama."
Sebenarnya jawaban Askar ini tidak tahu apakah dimengerti atau tidak tetapi rasanya ia ingin menjelaskan itu.
"Bang, ingat selalu ya. Kita sebagai laki-laki enggak boleh berlaku dan bertutur kasar sama perempuan. Apalagi sama mama. Enggak boleh sekali-kali abang melakukan itu, meninggikan suara apalagi membentak mama. Enggak boleh ya sayang."
Satria mengangguk paham. Kemudian mengecup pipi Askar membuat pemilik pipi tersenyum.
Banyak mereka mengobrol sembari mewarnai. Nasihat dan candaan yang Askar lontarkan mampu membuat kedekatan mereka lebih kentara lagi.
...***...
Menemukan cinta sejati memang bukan hal mudah. Butuh waktu dan proses yang lama sebelum akhirnya mengetahui apakah kita bersama orang yang tepat, walaupun sudah menikah.
Bahkan, pasangan yang telah menikah pun mungkin masih belum mengetahui apakah orang yang dinikahinya merupakan yang tepat. Akibatnya, banyak kasus perceraian yang terjadi di tengah perjalanan rumah tangga.
Di dalam kamar, Adzilla barus saja terbangun. Mengucap hamdalah karena diberi nikmat tidur di siang hari dan juga merutuki akibat rasa nyaman membuat nya terlena hingga lalai dengan tugas nya sebagai istri dan ibu.
Matanya mencari-cari sesuatu yang tadi tergeletak di sebelah bantal tidurnya. "Kemana perginya?"
Adzilla berjalan keluar kamar mendapati Askar sedang tertawa bersama dengan Satria sembari mewarnai. Pemandangan yang dulu tak pernah dilihatnya ketika masih menjadi istri Bari.
Memang Askar sama dengan Bari suka bermain ponsel. Seperti sekarang ini, di atas meja tempat Askar dan Satria mewarnai terdapat ponsel yang tak lain adalah milik suaminya.
Sebentar-sebentar tangan Askar memegang ponsel embari menanggapi ocehan Satria. Berbeda dengan Bari dahulu, Satria atau Sania akan dimarahi jika mengganggu Bari bila sedang bermain ponsel.
Tapi tunggu, tujuan utama keluar kamar adalah mencari benda itu. Ia pun memanggil Askar dan mengajaknya masuk ke kamar.
"Ada apa?" tanya Askar melembut.
"Lihat br*a aku enggak?"
__ADS_1
...****...
Ingin rasanya Askar tertawa setiap kali Adzilla bertanya benda itu ketika baru bangun tidur. Selama menikahi Adzilla, ia baru menyadari ada kelemahan dari wanita lemah lembut dan sabar ini.
Ceroboh dan sedikit pelupa.
Pertanyaan dimana br*a itu hampir setiap hari terlontar dari bibir Adzilla untuknya. Terkadang ia berpikir
Yang pakai br*a siapa yang di tanya siapa?
"Tadi diletak dimana?" tanya Askar. Seperti biasa, ini adalah pertanyaan balik ketika Adzilla bertanya tentang benda itu.
"Di sebelah bantal."
Ingin rasanya Askar tertawa melihat Adzilla tampak bingung mencari-cari benda itu di setiap sudut kamar.
"Pasti kau sembunyiin kan, pi?"
Wah, apakah insting istrinya sudah menyala sekarang?
Askar cengengesan.
Tetapi sepertinya otak Askar sudah traveling melihat dua aste bergelantungan di balik daster sang istri tanpa benda pelindung itu.
Askar menarik pinggang Adzilla hingga tubuh mereka merapat. "Kan sudah aku bilang, kalau di rumah ada aku jangan pakai benda itu."
Adzilla mencebik mendengar permintaan Askar. Walau kesal tetapi tetap di turutinya. Adzilla sendiri baru menyadari dibalik Askar yang penyayang, bijak, dan tegas dalam ibadah itu menyimpan sifat mesum dan tangan yang nakal.
"Aku gak mau dinakali papi lagi. Lepasin, pi." rengek Adzilla.
"Sayang, kau membangunkan dia." Askar semakin mengeratkan rangkulan nya.
Adzilla mulai meronta agar tubuh nya menjauh karena merasakan ular piton babon telah bangun.
"Papi.. Ih, lepasin. Tadi sudah. Anak-anak sudah bangun." rengek Adzilla lagi tanpa sadar suara rengekannya semakin membuat hasrat Askar membara.
Masih dalam keadaan tubuh tanpa jarak. Askar menunduk, merapikan anak rambut Adzilla lalu di kecup bibir ranum sang istri.
"Kau pasti tahu kalau menolak ajakan suami itu dosa kan, yang?" tanya Askar dan melanjutkan ucapan tanpa menunggu jawaban dari Adzilla.
"Bila seorang suami memanggil istrinya ke ranjang lalu tidak dituruti, hingga sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat melaknati dirinya sampai Shubuh,” Askar menjelaskan apa yang pernah ia baca.
__ADS_1
"Rasul bersama istrinya di saat haidh, beliau menutup ******** istrinya dengan secarik kain lalu bersenang-senang dengan istrinya.
Dan tentu syariat Islam juga memberikan keringanan kepada seorang istri jika benar-benar memiliki alasan yang syar’i untuk menolak dengan “halus” ajakan suami, seperti ketika berpuasa Ramadhan atau mengqqdhanya, saat ihram atau mungkin istri sedang sakit, atau kelelahan yang membuat tidak mampu melayaninya. Faktor terpenting adalah komunikasi yang sehat dengan suami dalam hal ini." Askar terus menjelaskan apa yang ia ketahui.
"Terus, istriku ini mau menolak karena alasan apa?" tanya Askar sembari melabukan kecupan di kening Adzilla.
Adzilla mencebik. "Kalau sudah begini, gimana mau nolak? papi paling pintar melancarkan aksi papi kalau soal ranjang." cibir Adzilla sewot.
"Yang ikhlas, istriku. Sebentar lagi suami mu ini mau berangkat kerja. Kasih vitamin dulu."
"Askaarrr.. Dasar berondong mesum."
...***...
Adzilla mencebik bibir melihat tingkah Askar setelah dua jam lalu ia harus melayani suaminya. Kini, Askar selalu mengulas senyum sedang dirinya kelelahan.
Beruntung Sania masih di rumah ayah Yusuf sedang Satria tertidur di ruang tamu karena kelelahan mewarnai.
"Sayang, malam nanti jangan masak. Biar aku beli di luar saja." ucap Askar menghampiri Adzilla baru selesai mandi.
"Hem."
"Jangam marah dan cemberut begitu di depan suami. Dosa, yang."
Adzilla memaksa tersenyum membuat Askar terkekeh karena ia tahu bila sang istri tengah kesal padanya akibat pertempuran tadi tak memberi ampun Adzilla yang sudah merengek meminta untuk berhenti.
"Maaf, ya. Besok libur deh."
Adzilla menoleh dengan wajah cemberut. "Aku berharap jangan, pi. Karena besok jadwal aku datang tamu bulanan."
Ah, Askar melupakan hal itu. Selama dua bulan ini Adzilla selalu rutin datang tamu bulanan dan ia mengetahui istrinya selalu tampak sedih bila tamu itu datang.
Askar mendekap Adzilla dengan sayang. "Jangan sedih, mungkin belum waktu nya kita memiliki anak. Mungkin kita harus banyak berusaha dan banyak pacaran dulu."
"Tapi semoga aku hamil. Aku harus banyak berdoa lagi."
Askar tersenyum kemudian pamit untuk pergi berjualan. Dalam hati, ia memang menginginkan hal itu tetapi tetap saja tak ingin menuntut. Bila Adzilla tak hamil-hamil bukan kah itu berarti dirinya yang bermasalah.
❤️
TBC
__ADS_1