
Mungkin di Indonesia sebagian besar penduduk nya lebih suka berdesakan. Sama seperti sekarang ini. Mentari sedang berdiri menunggu giliran dilayani oleh penjual Kebab Abang Handsome.
Bukan bermaksud untuk menemui Askar lagi, tidak. Ia berdecak ketika harus orang yang begitu dibenci nya harus melayaninya.
"Kangen pengen lihat aku?" tanya orang itu.
Ingin sekali Mentari berteriak memaki orang itu. Pria baji ngan yang tak mau bertanggung jawab. Pria yang selama ini hidup bahagia di atas penderitaan nya.
"Kebab durian satu." ucap Mentari tak menanggapi pertanyaan orang itu.
"Ck. Jangan sok jual mahal padahal murahan."
Mentari hanya diam merasakan perih di hatinya. Ucapan itu sungguh menyakitinya. Tetapi sesakit apapun hatinya mengapa tak bisa menghilangkan sayang dan cinta terhadap pria itu.
"Jangan pernah bahas lain selain antar penjual dan pembeli." Sekuat tenaga Mentari menahan air mata itu.
Selama ini, ia selalu menyembunyikan kesedihan nya sendiri. Tidak ada yang tahu sepahit apa kehidupan masalalunya termasuk sang ibunda.
Pria itu menyelesaikan pesanan Mentari dengan hati dongkol karena sikap wanita itu.
Pesanan selesai tetapi tak langsung menyerahkan. Pria itu berjalan mendekati Mentari lantas menarik tangan wanita itu. Meski meronta-ronta tak ada niat untuk melepas cengkramannya.
"Za, sakit." cicit Mentari seraya mengikuti langkah pria itu yang tak lain adalah Reza.
"Naik." titah Reza dingin dengan wajah datar.
"Jangan mengaturku, Za. Lepasin."
"Naik, Mentari Adila." Sentak Reza merasa geram. Entah mengapa ia tidak menyukai sifat tak menurut Mentari.
Ia lebih suka Mentari si penurut seperti saat Sekolah Menengah Atas. Ya, sedari dahulu ia tahu bila Mentari menyukai nya tetapi dirinya tidak dan juga tahu Askar menyukai wanita itu. Namun Askar tak tahu jika sebenarnya Mentari menyukainya.
Rasa cinta Mentari ia manfaatkan hingga malam panas itu terjadi pada saat usia mereka menginjak usia 17 tahun.
Sebenarnya, kalimat yang terlontar dahulu itu hanya menguji tanpa niat. Tetapi melihat kesungguhan Mentari untuk menyerahkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup wanita itu semakin membuat dirinya tertantang dan pada akhirnya ia juga menikmati.
"Apa kau benar-benar cinta sama aku?" tanya Reza ingin melihat kesungguhan Mentari. Kala itu mereka berdua berada di kosan Mentari.
"Ya."
"Apa buktinya?"
"Kau ingin bukti apa, Za?"
"Aku ingin kau serahkan kesucianmu untukku." Reza spontan mengatup bibirnya tanpa sengaja mengucapkan kalimat penentu yang tak tahu bagaimana kedepan nya.
__ADS_1
Hening sesaat. Hingga jawaban Mentati membuat Reza bingung tetapi sudah terlanjur, pikirnya.
"Apa kau akan percaya dan terima aku kalau malam ini aku serahin kescian ku padamu?" tanya Mentari memberanikan menatap Reza.
Reza menelan saliva terasa kasar. "I-ya."
"Baiklah, lakukan kalau itu mau mu. Agar kau benar-benar percaya dengan perasaanku."
Setelah pembicaraan itu, terjadilah hal yang seharusnya tak terjadi. Kebodohan terbesar Mentari adalah malam itu. Hingga sekarang masih penumpuk penyesalan.
...****...
"Reza, kenapa kau bawa aku kesini?" tanya Mentari takut-takut karena Reza memberhentikan sepeda motor itu di tempat parkir hotel.
"Check-in."
Mentari mematung. Bayangan kejadian empat tahun silam terbayang dalam ingatan. Tidak, ini tidak boleh terjadi lagi.
Mentari turun dari motor ingin kabur dari sana namun tangan nya sudah di cekal lebih dahulu oleh Reza.
"Lepasin aku, Za." ronta Mentari masih dengan suara pelan.
"Jangan melawanku, Mentari."
"Ku mohon, Za. Lepasin aku, kau yang memilih untuk pergi dan gak hargai keberadaanku." Mentari terus berusaha agar Reza melepaskannya.
Reza terus berusaha menarik lengan Mentari ke meha resepsionis. Ia tahu di hotel ini siapa saja bebas check-in karena ia pernah kesini dengan Mentari hingga akhirnya mereka berpisah tanpa kata putus.
Sesampainya di dalam kamar hotel. Reza mengunci pintu tersebut langsung melempar kunci tersebut ke atas lemari.
Ia tersenyum miring melihat Mentari menjauhinya. Sebenarnya, sejak kejadian dahulu ia menerima Mentari tetapi merahasiakan hubungan mereka karena ia memikirkan perasaan Askar. Hingga sesuatu membuat keduanya saling menjauh dan Reza membenci Mentari begitu juga wanita itu.
Berjalan mendekati Mentari sembari menelisik penampilan wanita itu. Jaket denim dibalik jaket itu adalah seragam kerjanya. Hijab hitam dengan gaya kekinian. Celana keper hitam serta sepatu pansus warna senada. Dan jangan lupakan make-up merias wajah nya.
Ketika Reza duduk dekat Mentari, spontan wanita itu menjauhinya. "Aku mau pulang." ucap Mentari berdiri menjauhi Reza.
"Besok kita akan pulang."
Ucapan Reza membuat Mentari menoleh dengan sorot tajam. "Siapa kau bisa mengaturku, Reza?"
Reza melihat kilatan amarah dimata Mentari semakin tak suka. Karena ia tak lagi menemukan Mentari nya yang dahulu.
"Jangan membentakku, Tari. Kau lupa akal laki-laki pertama yang menyentuhmu?" benatk Reza meninggikan suara.
Mentari mendengar itu mengepalkan tangan. Sungguh, ia tak ingin membahas kebodohan nya yang dilakukannya dahulu.
__ADS_1
"Tapi kau juga jangan lupa kalau bukan kau laki-laki terakhir menyentuhku." Mentari terpaksa berbohong agar Reza tak lagi menjatuhkan harga dirinya.
Tetapi agaknya ucapan Mentari membuat emosi dan cemburu Reza tersulut. Ia bangkit langsung mendekati Mentari.
"Mau apa kau?" tanya Mentari setenang mungkin walau dalam hati berdoa untuk meminta perlindungan.
Reza tersenyum miring. "Kau pasti tahu apa mau ku, bukan?"
Saat Reza sudah mendekat ke wajah Mentari harus terhenti karena ucapan wanita itu.
"Kenapa baru mendatangiku sekarang? apa para pacar mu itu gak bisa memuaskan mu sampai kau merindukan sentuhan ku sekarang? Tapi sayang, sentuhan mu gak ada apa-apanya dibandingkan sentuhan pacar ku yang sekarang."
Reza benar-benar merasa harga dirinya telah di injak ditambah mendengar Mentari telah memiliki pacar tanpa sadar merasa cemburu. Andai Mentari tahu jika ia sedang bercum bu dengan mantan atau pacarnya sekarang yang selalu di ingat adalah bibir dan kemolekan tubuh Mentari.
Itulah sebabnya ia tak bisa melakukan lebih dari bercum bu dengan wanita lain. Atau membantunya ejaku lasi.
Dengan perasaan emosi, Reza membuka topi dan kaos yang dikenakan membuat Mentari berangsur mundur.
"Aku ingin tahu bagaimana hebatnya pacarmu memuaskan mu di ranjang. Apa lebih hebat dari kemampuan ku yang sekarang?"
Pertanyaan reza membuat Mentari semakin panik. Ia lupa jika dirinya sedang di kurung oleh pria di depan nya. Terus berangsur mundur hingga berhenti tepat di dinding kamar hotel itu.
"Kau ma-mau apa, Za?" tabya Mentari walau sudah tahu maksud tatapan pria itu.
"Jangan tanyakan yang kau sudah tahu jawaban nya, Mentari." Reza membuka hijab Mentari kemudian menggerai rambut hitam wanita itu sembari menghirup harum rambut itu masih sama seperti dahulu.
"Jangan lakukan ini, ku mohon."
Tetapi emosi, cemburu, dan gai rah menjadi satu tak mampu mendengarkan permohonan Mentari hingga terjadi lagi malam terlarang setelah empat tahun tak menjalin hubungan.
...****...
Pagi harinya. Mentari terbangun lebih dahulu langsung bangkit masuk ke kamar mandi. Di dalam sana, wanita itu menangis sejadi-jafi nya.
Memohon ampun dan mengucapkan maaf yang di tuju untuk ibunda di kampung yang jauh dari Kota tersebut.
Menyesali perbuatan bahkan merasa jijik dengan tubuh nya.
Lama ia di dalam kamar mandi hingga puas barulah keluar dari sana. Memakai kembali pakaian malam tadi tanpa menghiraukan keberadaan Reza yang tengah duduk memerhatikan nya.
"Aku sudah mencatan nomor mu dan aku juga sudah menyimpan nomorku di handphone mu. Jangan abaikan aku. Mulai sekarang kau simpananku."
Deg
❤️
__ADS_1
TBC