SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
41. Astaghfirullah


__ADS_3

"Astaghfirullah." Adzilla terbangun langsung terduduk karena teringat begitu lama tidur.


"Ya Allah, anak-anak sudah pada makan dan mandi belum, ya?" tanyanya panik melihat jam di dinding sudah melewati waktu Ashar.


Adzilla langsung berjalan cepat ke kamar mandi berwudhu kemudian ke ruang sholat untuk menjamak sholat Zuhur dan Ashar.


"Jangan di buka mukenahnya, ada Reza di depan." tegur Askar ketika Adzilla hendak membuka mukenah saat mendekatinya.


"Iya, maaf. Pi, maaf aku baru bangun. Pasti kalian lapar ya. Maafin aku."


"Kami sudah makan dan mandi. Jangan khawatir, aku ngerti kalau kau sudah bekerja keras tadi malam." ucap Askar menggoda dengan menarik turunkan alisnya.


Adzilla menunduk tersipu malu. Askar juga memberitahu bila kedua anak mereka sedang bermain di rumah tetangga.


Diraih tangan kanan Askar kemudian di cium punggung tangan itu. "Makasih ya."


Askar mengangguk kemudian mengecup pucuk kepala Adzilla. "Sekali lagi, kalau sholat itu jangan buru-buru, yang." tegur Askar membuat Adzilla cengengesan.


"Hehehe.. Iya maaf, tadi aku kira kalian kelaparan."


"Jangan minta maaf denganku. Minta ampun sama Allah. Kan sayang 8 rakaatnya." Askar masih terus menegur Adzilla.


"I-iya."


Askar menghela nafas. "Jangan sedih, cukup kali ini saja sholatnya terburu-buru ya."


Adzilla mengangguk merasakan kecupan di pucuk kepalanya. Ia segera ke dapur membuatkan minum untuk Askar dan Reza.


Masih dengan mengenakan mukenah, ja berhalan menuju teras rumah membawa nampan berisi dua gelas teh dan sepiring pisang goreng.


Entah dari mana pisang goreng itu, tetapi masih panas. Mungkin Askar atau Reza yang membelinya, pikir Adzilla.


Adzilla masuk ke dalam kamar, merenungi teguran Askar. Dan kini sadari bila sholatnya benar-benar salah.


Apalagi sering sekali ketika melaksanakan sholat, tiba-tiba gerimis datang maka pikiran nya melayang ke jemuran yang belum di angkat, Satria atau Sania akan berlari keluar rumah untuk mandi hujan.


Belum lagi ketika melaksanakan sholat tiba-tiba mengantuk dan ingin sekali rasanya menguap, perut mules ingin buang angin.


"Astaghfirullah, begitu rendah nya iman ku." gumam Adzilla kemudian membuka mukenahnya berganti pakaian tertutup.


...****...


"Sayang." Panggil Askar di ruang tamu setelah Reza sudah pulang.

__ADS_1


"Ya. Apa Reza sudah pulang?" tanya Adzilla.


"Sudah, tadi dia kesini ngambil gaji. Maaf ya soal tadi?" ucap Askar.


Sungguh, ia takut Adzilla tersinggung atas teguran nya tadi.


"Maaf untuk apa, pi?" tanya Adzilla melembut.


"Sudah tegur kamu." ucap Askar lirih.


Adzilla tersenyum kemudian bangkit mendekati suaminya. Di tuntun duduk di sisi ranjang. Kepalanya disandarkan di bahu Askar.


"Jangan minta maaf bila teguran mu itu benar, pi. Memang benar apa yang kau ucapkan. Terimakasih suami berondongku."


"Haish.. Kenapa bahas umur sekarang? bukan nya kau beruntung, yang?"


Adzilla menegakkan tubuhnya menatap wajah Askar. "Beruntung apa?"


"Dapat suami awat muda." jawab Askar bangga namun tidak dengan Adzilla. Wajah wanita itu berubah datar membuat Askar keheranan.


"Sayang, kenapa?"


"Gak ada."


"Apasih." cicit Adzilla mendorong wajah askar agar menjauh.


"Aku kan pernah bilang, apapun yang kau rasakan lebih baij di ungkapi jangan di pendam sendiri, yang."


Tatapan mereka bertemu. "Aku gak rela wajah tampan kau ini di pandangi perempuan lain." Adzilla menangkup kedua pipi Askar.


"Suamiku, bisakah hanya aku dan muhrim mu saja perempuan yang kau pandang juga menurunkan pandanganmu ketika bersama perempuan lain? bisakah hanya nama ku yang bertahta di hatimu? bisakah hanya aku yang menjadi istrimu di dunia dan di akhirat? bisakah hanya tubuhku yang kau jamah?" Adzilla menatap lekat suaminya yang juga tengah menatap nya.


Askar mengangguk. "Aku takut untuk berjanji, tapi akan aku buktikan hanya dirimu satu-satunya. Aku akan berusaha tidak akan menyakiti mu. Cukup sebelum menikah membuat kita saling menyakiti." Askar memeluk Adzilla.


"Hah, rasanya aku sangat kangen tahu." ucap Askar membuat Adzilla mencebik bibir.


"Aku ini masih di pelukanmu loh, suamiku."


Askar terus saja tersenyum mendengar panggilan Adzilla berubah sedari tadi tak ada menyebut namanya. Bukan tak suka Adzilla memanggil namanya saja, tetapi tak sopan bila istri hanya memanggil nama suami dengan nama.


Askar juga tak enak hati untuk menegur karena menjaga hati Adzilla. Dengarlah, sedari bangun tidur Adzilla memanggil Askar dengan 'pi' dan 'suamiku'.


"Pintaku hanya satu, tetaplah bersamaku apapun yang terjadi, yang. Bersabarlah jika suatu saat nanti kita kekurangan materi, dan tegurlah aku jika kau mulai kekurangan kasih dan sayang ku."

__ADS_1


Masih dalam pelukan Adzilla mengangguk. Matanya terpejam menikmati harum dari parfum bercampur bau tubuh Askar yang sudah ia kenali sejak tadi malam.


Kepalanya mendongak menatap Askar hingga waktu seakan menggiring keduanya untuk semakin dekat dan bibir keduanya bertemu.


"Papi sama Mami ngapain?" tanya Satria berdiri di ambang pintu.


Spontan membuat keduanya menjauhkan diri sembari mengelap bibir masing-masing lantaran basah akibat saliva mereka.


Saling melirik kemudian membuang muka sembarang arah akibat malu di pergoki anak mereka.


"Papi, tadi apain mama?" tanya bocah enak tahun itu dengan polos.


"Eem.." Askar bingung harus menjawab apa sembari melirik Adzilla yang tengah tersenyum.


"Abang, adik Sania mana?" tanya Adzilla mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Mandi. Abang juga mau mandi." Satria berlalu begitu saja membuat Askar dan Adzilla bernafas lega.


...****...


Sore itu di taman kota. Mentari susuk sendirian disana karena merasa penat seharian bekerja.


Awalnya ia melihat orang-orang disana biasa saja hingga matanya tak sengaja melihat seseorang yang sangat dibenci nya.


Apakah kalian percaya jika ada orang jahat dahulu nya adalah orang yang begitu baik? Tetapi kebaikan nya tak pernah di hargai, kebaikan nya tak pernah di anggap ada, hingga apapun yang dimiliki diserahkan secara cuma-cuma.


Ya, dahulu Mentari pernah mencintai begitu parah kepada seseorang hingga suka rela kesucian nya diserahkan pada seseorang itu sebagai bukti cinta nya.


Tetapi lihatlah pria itu. Setelah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga pada dirinya malah meninggalkan nya dengan hinaan yang begitu menyakitkan.


Pria itu begitu bahagia bersama dengan wanita lain sedangkan dirinya begitu takut untuk menjalin hubungan dengan pria lain.


Sebenarnya, ia mendekati Askar kemarin karena hatinya yang mudah baper atas perlakuan Askar yang memang baik pada orang lain.


Dan alasan lain nya ia ingin menunjukkan pada pria itu bahwa dirinya juga bisa mendapatkan pria lebih baik dari dia.


Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Sungguh, mata indah itu yang duku begitu ia puja tetapi tidak dengan sekarang.


*Aku membencimu.


❤️


TBC*

__ADS_1


__ADS_2