SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
7. Sholat berjamaah


__ADS_3

Satu purnama telah terlewati dengan meninggalkan berbagai cerita. Namun, bukan berarti perjalanan kisah hidup berakhir begitu saja. Selama alam semesta masih baik-baik saja, masa depan akan tetap selalu melambai asa.


Di depan jendela, Adzilla memandang langit tertutupi awas berwarna abu-abu tengah mengeluarkan tangis membasahi alam. Seakan mengerti dengan keadaan hati yang selalu menangis.


Bukan menangis karena berpisah dengan Bari. Namun, menangisi kebodohan dirinya yang pernah menaruh harapan pada orang yang salah.


Menangisi kebodohan dirinya yang rela menghabiskan masa muda nya dengan hidup bersama orang yang salah.


"Zilla." Panggil ayah Yusuf mendekati putri semata wayang nya.


Adzilla menoleh ke arah pintu dimana sang ayah berada. Memaksa tersenyum lalu berjalan mendekati.


"Ada apa, yah? ayah mau teh?"


"Enggak, ayah cuma mau lihat anakmu."


"Oh, mereka tidur."


"Ya sudah. Ayah mau ke kamar lagi." Ayah Yusuf meninggalkan kamar Adzilla.


Hingga sampai saat ini, Adzilla belum ada kembali ke rumah Bari walau hanya untuk mengambil barang-barangnya juga kedua anaknya.


Begitupun Bari tak ada niat untuk menjemput ataupun mengantar barang mereka. Mungkin memang perpisahan lah yang memang Bari inginkan.


Teringat sidang pertama Minggu kemarin juga Bari hanya diam saja. Ia memang datang sendirian sedang Adzilla bersama ayah Yusuf, kedua anak nya, dan Askar.


Askar?


Ya, pemuda itu sudah beberapa kali datang kerumah hanya sekedar mengantar Satria dari tempat les sore. Pemuda itu bilang hanya kebetulan tetapi Adzilla tidak mempermasalahkan hal itu. Dan ia tak ingin curiga sedikitpun karena mereka sudah saling mengenal walau tidak ada kedekatan yang spesial.


Tidak ada?


Benarkah?


Benar. Adzilla menekankan kata itu di hatinya. Ia ingin istirahat untuk berhubungan dengan lawan jenis.


Adzilla sadar, dirinya bukan lagi seorang gadis. Ia adalah janda beranak dua. Jika ingin menikah pun, pastinya bukan hanya cinta untuknya saja tetapi pria itu harus menerima kedua anaknya


Decakan dan cebikan terdengar ketika ia menyadari sudah memikirkan menikah lagi padahal proses perceraian saja belum selesai.


Di sisir rambut hitam legam sebahu itu dengan perlahan sembari menatap wajahnya dari pantulan cermin.


Teringat ucapan Askar yang membuatnya tersipu malu.


"Kamu cantik dengan hijab mu. Kamu anggun dengan kesederhanaan yang kamu miliki dan kamu santun dengan perilaku yang terjaga serta bersahaja."

__ADS_1


Namun sedetik kemudian ia sadar bahwa hal itu salah. Langsung menyuruh Askar pulang.


Waktu sholat Maghrib telah tiba. Adzilla membangunkan kedua anaknya untuk sholat bersama dengan ayah Yusuf yang menjadi imam.


Dengan telaten Adzilla mengajari kedua anaknya berwudhu. Kemudian memakaikan love untuk Satria dan mukenah anak untuk Sania barulah ia mengenakan mukenah.


Ternyata sajadah untuk mereka sudah disediakan ayah Yusuf. Mereka sholat di ruang tamu karena tak ada ruang khusus untuk sholat.


Setelah berdiri sesuai shaf , terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari depan rumah.


Ayah Yusuf dan Adzilla langsung saling pandang merasa heran siapa Maghrib-Maghrib begini bertamu ke rumah orang.


"Biar Zilla buka pintunya yah."


Adzilla berjalan masih mengenakan mukenah ke arah pintu lalu membukanya.


"Waalaikumsalam." sahut Adzilla sembari membuka pintu.


Ia tersentak mendapati Askar mengenakan jas hujan kedinginan menenteng satu kantung plastik sedang.


"Astaghfirullah, bang Askar. Ada apa?" Tanya Adzilla panik dengan keadaan Askar sampai lupa mempersilahkan masuk.


Dari dalam rumah ayah Yusuf masih menunggu Adzilla tetapi tak kunjung tiba membuat ia juga ikut melihat siapa tamu tersebut karena ia juga tak ingin waktu Maghrib habis hanya karena ada tamu dirumahnya.


"Loh, nak Askar kok masih di luar? Masuk-masuk. Maafkan anak bapak nggak sopan biarin nak Askar di luar kedinginan."


"Kenapa? oh iya, nak Askar sudah sholat?"


"Be-belum pak."


"Ya sudah, ayo kita sholat berjamaah. Disini mesjid jauh dan masih hujan. Apa baju mu basah?" tanya ayah Yusuf melihat Askar membuka jas hujan nya.


"Enggak pak, cuma celana saja sedikit basah."


"Pakai sarung bapak mau?"


"Mau, pak."


Askar di antar Satria ke kamar mandi. Jangan lupakan Sania begitu girang apalagi Askar membawa burger kesukaan nya.


Selesai berwudhu Askar memakai sarung ayah Yusuf kemudian menghampiri mereka yang telah menunggunya.


"Nak Askar bisa jadi imam?" tanya ayah Yusuf membuat Askar dan Adzilla memandang ayah Yusuf.


"Bisa, pak." jawab Askar tegas kemudian ia berjalan menuju sajadah tempat ayah Yusuf berdiri tadi.

__ADS_1


Sedang Adzilla masih diam saja lalu memulai sholat ketika Askar telah mengucapkan 'Allahuakbar' setelah niat.


...****...


Selesai sholat Adzilla membawa mukenah Sania ke dalam kamar lalu melipat begitu juga mukenah nya kemudian ia memakai kaos panjang dan rok panjang juga serta hijab instan menutupi dada. Tak lupa ia memakai kaos kaki seperti biasa.


Ia akui, dirinya bukanlah wanita sholehah namun memiliki keinginan yang ia wujudkan perlahan untuk berubah menjadi wanita yang menaati perintah dan larangan Allah SWT.


Jika saja tidak ada Askar pastilah ia akan mengenakan daster atau baju tidur tanpa hijab di dalam rumah.


Selesai dengan penampilan, Adzilla langsung ke dapur membuatkan teh. Membiarkan Ayah Yusuf dan Askar mengobrol.


...****...


Di ruang tamu.


"Nak Askar, terimakasih sudah sering temani Satria dan Sania." ucap ayah Yusuf tulus.


Askar tersenyum simpul kemudian mengangguk. Lalu kembali menyuapi burger ke Sania.


"Om, Satria juga mau di suapin." rengek Satria pada Askar berpindah duduk di sisi kiri Askar. Askar duduk di tengah terapi-terapi Satria dan Sania.


"Abang juga mau? sebentar ya. Ini, katanya kalau di suapin dari tangan orang ganteng maka Satria jadi tambah ganteng." celetuk Askar membuat ayah Yusuf tergelak tetapi tidak dengan Adzilla.


Wanita itu bahkan bergumam. "Dasar cowok Narsis."


Gumaman Adzilla masih terdengar oleh Askar karena wanita itu tengah meletakkan segelas teh di depan nya.


Cantik. gumam Askar dalam hati ketika melihat wajah teduh Adzilla yang terbalut hijab itu.


"Ada perlu apa abang kesini? jangan alasan mampir sebentar." tanya Adzilla dengan tatapan menyelidik.


"Mana pula begitu, kak. Aku kesini mau antar burger kesukaan Satria dan Sania." kilah Askar padahal ia sengaja datang kerumah ayah Yusuf agar bisa curi-curi pandang pada Adzilla.


"Terus? kenapa ada dua kebab lagi?" tanya Adzilla masih ketus bahkan ayah Yusuf sudah menegur masih saja memperlihatkan wajah ketusnya.


"Ya itu untuk bapak sama kakak." sahut Askar jujur.


Adzilla menghela nafas. Askar adalah tipe cowok pemaksa selain narsis yang baru-baru ini ia ketahui.


"Abang itu jualan untuk cari untung, ngapain kasih ke kami? nanti rugi baru tahu rasa."


"Kalau rugi, ya kakak harus tanggung jawab dengan cara aku nikahi." gumam Askar. Ia berani mengatakan hal tersebut karena ayah Yusuf tengah fokus menonton televisi.


Adzilla sendiri menegang mendengar gumaman Askar. Ia terus menekan kata tidak di dalam hatinya.

__ADS_1


❤️


TBC


__ADS_2