SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
22. Jaga Hati


__ADS_3

Jatuh cinta memang indah. Segala hal terlihat mempesona, terutama si dia. Setiap hari rasanya akan terasa kurang jika tidak bertemu dengannya. Tapi ingat, kamu perlu mengontrol perasaanmu agar tidak terlalu tenggelam dalam perasaan cinta.


Terlalu mencintai dengan perasaan yang menggebu-gebu hanya akan menjerumuskan kamu kepada hal-hal buruk. 


Seperti Askar sekarang. Lebih tepatnya selama jatuh cinta pada Adzilla. Dirinya benar-benar belajar mengontrol perasaannya agar tidak tenggelam dalam perasaan cinta. Walau sebenarnya sudah lama ia tenggelam dalam kubangan cinta Adzilla.


Senyum nya mengembang melihat Adzilla masih bingung memilih cincin.


Ya, sekarang ini Askar dan Adzilla berada di salah satu toko mas di kota tersebut untuk membeli cincin pertunangan mereka.


"Kau suka yang mana, kak?"


"Simple saja. Yang bisa di pakai setiap hari dan gak mencolok."


Askar pun ikut melihat barisan cincin couple di dalam italase. "Coba yang itu, bu." Ia menunjuk satu pasang cincin polos.


"Nah iya itu." Kemudian Askar melihat sepasang cincin itu dengan tetap tersenyum. Di ambil satu cincin berukuran lebih kecil lalu ia pasangkan ke jari kanan Adzilla.


"Ini bagus, As."


Askar tersenyum melihat Adzilla menatap cincin pilihan nya dengan mata berbinar. Bahkan tanpa rasa malu, pujaan hatinya itu mengambil potret jemari yang tersemat cincin tersebut.



"Kita ambil ini saja?" tanya Askar kemudian dan di angguki oleh Adzilla.


Askar meminta salah satu pegawai toko untuk mengemas sepasang cincin tersebut kemudian membayarnya.


"Kita mau kemana setelah ini?" tanya Adzilla.


"Kafe, yuk." Ajak Askar membuat lamgkah wanita itu terhenti.


"Gak mau ah, mahal."Askar terkekeh lagi. Sungguh wanita pujaan hatinya ini sangat istimewa. "Aku ada rezeki lebih semalam jadi enggak apa-apa kalau kita habiskan hari ini.


Berbagai bujuk rayu ia berikan akhirnya Adzilla setuju aku ajak ke kafe. Dari alasan-alasan yang di utara kan nya tadi, membuat ia mengerti bahwa Adzilla belum pernah ke kafe.

__ADS_1


Miris melihat bagaimana kehidupan pernikahan Adzilla. Semenderita itukah?


Apakah dahulu Adzilla hanya melakukan peran sebagai pembantu bergelar istri? apakah Adzilla tak pernah merasakan masakan di kafe dan restaurant?


Bagaimana bisa?


...****...


Duduk berseberangan membuat Askar leluasa menikmati keindahan wajah canti dari Adzilla. Baru ia sadari bahwa Adzilla lebih kelihatan cantik setelah berpisah dari Bari.


"Kak, lihat sini." Ujar Askar siap memotret Adzilla.


"Askar, malu ih." Adzilla langsung menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Yah, sayang sekali. Lihat ini."


Tidak marah, melainkan senang melihat Adzilla tertawa ketika ia gagal mendapatkan potret wajah pujaan hatinya.


Tidak tahu saja jika di dalam galeri ponselnya sudah banyak foto candid seorang Adzilla Rahma.



"Pasti mahal, kan?"


Lagi-lagi Askar terkekeh karena calon istrinya itu memikirkan harga makanan yang sudah berada di depan mata.


"Karena mahal itu, kakak harus habiskan. Kalau habis nanti aku belikan es krim cokelat."


Nah kan, kalau sudah di tawari es krim barulah semangat, pikir Askar.


"Bener ya?"


Askar mengangguk cepat. "Sama untuk anak-anak juga. Sekarang makan, ya. Jangan pikirin harga. Aku kerja untuk senangin kalian."


Tidak tahu siapa yang memulai lebih dahulu, tetapi baik Askar ataupun Adzilla tetapi mereka kompak memberikan perhatian.

__ADS_1


"Enggak suka kulit ayam, kak?" tanya Askar melihat kulit ayam di piring Adzilla nganggur.


Adzilla tersenyum canggung. "Maaf ya, As. Aku gak bisa makan kulitnya. Tapi tetap di belikan es krim cokelat kan walau gak aku habisin?"


Askar tercengang mendengar jawaban Adzilla. Bagaimana bisa pujaan hatinya itu berpikir seperti itu. Ingin rasanya Askar menertawai calon istrinya sekarang. Tetapi itu tak akan mungkin di lakukan.


"Sayang, kenapa berpikir aku akan membatalkan untuk membelikan mu es krim walau hanya tak menghabiskan kulit ayam nya? taruh di piringku kulit ayam nya." ujar Askar kemudian langsung menyerahkan piringnya kepada Adzilla.


"Terimakasih, sayang."


Setelah makan di kafe, Askar mengantatkan Adzilla pulang karena sudah hampir jam 4 sore dan ia harys bersiap untuk berjualan.


Sampai di rumah ayah Yusuf, Askar bermain sebentar dengan kedua anak Adzilla dan menemani mereka menikmati es krim yang tadi di beli.


"Aku pulang, ya."


Askar tersenyum kembali menatap wajah Adzilla.


"Jangan lihatin aku seperti itu." Adzilla menunduk malu membuat Askar tertawa.


Puas tertawa Askar mengecup jung tiga jemari nya lalu di tempel ke pipi Adzilla. "Aku pulang mau cari duit dulu ya biar bisa maharin, kakak. Titip salam sama ayah."


"Hati-hati."


Askar mengangguk lalu memakai helm. Ketika hendak melajukan motornya, Adzilla mengatakan sesuatu yang membuatnya bahagia.


"As."


"Ya."


"Jaga hati. Ingat ada aku pemilik hatimu."


❤️


TBC

__ADS_1


__ADS_2