
"Bang, ayo kita bawa Sania ke Rumah Sakit." ujar Adzilla menggendong bayi Sania dalam keadaan demam tinggi.
"Apa nggak kau lihat sudah malam, hah? Aku mau istirahat." sentak Bari membuat Adzilla memejamkan mata karena terkejut.
"Tapi panas Sania sangat tinggi, bang." Ia terus membujuk suaminya agar mau mengantarnya membawa bayi mereka untuk berobat.
"Mengurus anak itu tugas mu, Zilla." bentak Bari lagi.
Akhirnya malam itu Adzilla membawa bayi Sania sendiri mengendarai motor. Tanpa di beri uang, beruntung ia sering menyimpan sisa uang belanja tanpa sepengetahuan Bari.
Jika saja Bari tahu ia memiliki uang maka bisa dipastikan keesokan hari Adzilla tidak diberi jatah uang belanja.
Sesampainya di Rumah Sakit, Adzilla dengan terburu-buru masuk ke sana dan meminta perawat untuk segera menangani anak nya.
Dengan perasaan cemas yang bercabang karena meninggalkan Satria di rumah dan keadaan Sania di ruang UGD.
Belum cukup kecemasan sampai disitu, pihak rumah sakit meminta Adzilla melunasi administrasi karena bayi Sania harus di rawat.
"Bu, apa di sini nggak bisa pakai kartu sehat dari Pemerintah?" tanya Adzilla karena melihat nominal nya cukup besar baginya.
"Maaf, bu. Kami hanya melayani untuk umum."
"Batas pembayaran kapan ,bu?"
"Besok pagi, bu."
Setelah bernegosiasi, Adzilla berjalan gontai menuju ruang UGD kembali. Kaki terasa lemah untuk menopang beban hidup sendiri.
Ia adalah seorang istri tetapi seperti hidup sendiri. Kemana harus mencari? sebenarnya ia ingin membawa bayi Sania ke rumah sakit Negeri agar bisa menggunakan kartu sehat. Tetapi jarak rumah sakit itu terlalu jauh, ia tidak berani berkendara sendiri dengan menggendong anaknya.
Lagi pula jika menggunakan kartu sehat, pastilah bayi Sania akan di tangani esok hari karena harus mengurus laporan ke pihak perusahaan dimana Bari bekerja.
Dengan berat hati Adzilla menelepon sang ayah untuk membantu untuk kesekian kali. Dan benar, malam itu ayah Yusuf langsung mendatangi Adzilla ke Rumah Sakit untuk menyelesaikan administrasi dan menemani putrinya.
Tercetak jelas dari raut wajah Ayah Yusuf bahwa ia sangat kecewa dengan menantu nya itu.
__ADS_1
Dahulu, ayah Yusuf tak membiarkan Adzilla pergi sendiri walau hanya ke warung jika malam hari. Dan apa yang ia lihat?
"Kemana suamimu, Zilla?"
"Bang Bari lelah baru pulang kerja yah, jadi Zilla nggak mau ganggu waktu bang Bari istkrahat, yah."
Ayah Yusuf hanya menggeleng karena tahu Adzilla berbohong padanya.
Bayi Sania sudah dipindahkan ke ruang rawat dan malam ini ayah Yusuf menginap di rumah sakit.
Keesokan hari, ayah Yusuf menjemput Satria ke rumah menantunya sekaligus memberitahukan pada Bari bahwa bayi Sania harus di rawat.
Tanggapan dari Bari membuat ayah Yusuf mengelus dada.
Sore hari Bari datang bersama ibu mertuanya. Ketepatan saat itu ayah Yusuf pulang kerumah. Terjadi kembalilah cibiran untuk Adzilla.
Tidak bisa mengurus anak.
Empat kata yang selalu di sematkan ibu mertuanya jika terjadi sesuatu pada kedua anaknya.
Diam. Ya, hanya diam.
Hatinya sudah membeku hingga tak dapat menangis lagi. Mungkin orang lain mengira jika ia adalah wanita kuat.
Jawaban nya adalah salah.
Ia butuh pelukan hanya untuk mengeluarkan sesak di dada. Uneg-uneg yang sudah menumpuk.
...****...
"Mama ngapain duduk melamun?" Satria sedari tadi mencari Adzilla.
Adzilla menoleh ke sumber suara lalu tersenyum pada anak sulungnya. Di usia sekarang, anaknya itu begitu mengerti keadaan dirinya. Jika anak seusia Satria masih sering merengek atau merajuk meminta mainan, maka itu bukan anak nya.
"Mama nggak melamun, Bang."
__ADS_1
"Apa mama kangen papa?"
Adzilla melongo mendengar pertanyaan Satria lalu terkekeh. "Memang boleh?"
Satria menggeleng. "Nggak boleh, ma. Nanti mama di marahin terus sama papa. Dan om papi bakal marah."
Dahi Adzilla mengerut mendengar ada yang aneh atas ucapan anak sulungnya. "Om papi?"
Satria mengangguk. "Iya, om papi Askar. Kenapa om papi sudah lama tidak datang, ma?"
"Om Askar kerja, bang cari uang."
Ia tak menyangka jika Askar sudah jauh mendekati kedua anaknya hingga nama panggilan juga sudah ada.
Memang setelah malam penolakan itu, Askar hanya beberapa kali datang ke rumah Ayah Yusuf. Ia sendiri tidak tahu alasan nya mengapa.
Mungkin saja pemuda itu mulai lelah.
Mungkin saja yang katanya cinta hanya obsesi semata.
Atau mungkin sudah memiliki wanita lain yang masih muda dan lajang.
Biarlah, mungkin begini lebih baik walau ia sedikit merasakan nyeri di hati jika dugaan nya benar terjadi.
Ada apa denganku?
...****...
Esok hari, seperti biasa ia mengantar Satria ke sekolah kemudian ikut ayah Yusuf ke ladang kelapa sawit karena hari ini waktunya menjual buah kelapa sawit.
Di tengah jalan, ia melihat sosok yang dikenal bersama seorang gadis.
Adzilla tersenyum miris.
❤️
__ADS_1
TBC