SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
34. Di rumah sakit


__ADS_3

Adzilla menyusuri koridor Rumah Sakit dengan perasaan gamang menyelimuti hatinya. Setelah Hana dan Heri mendatanginya dua hari lalu, barulah ia memberanikan diri.


Benar-benar tak menyangka bila keputusan meninggalkan Askar secara sepihak membuat pria yang masih ia cintai itu begitu terpuruk.


"Askar, ini faktor usia mu yang masih muda atau karena cinta mu yang menggila?" tanya Adzilla pada diri sendiri karena masih tak percaya dengan perubahan Askar.


Memang, semenjak terakhir kali Askar mendatangi untuk membujuk dirinya kembali berhubungan tak pernah lagi Adzilla bertemu dengan pria itu.


Bukan tak rindu ataupun tak cinta lagi. Adzilla belajar untuk menerima takdir yang sudah di gariskan untuknya.


Dengan menenteng rantang berisi makanan kesukaan Askar dan buah-buahan, ia terus berjalan menguatkan hati untuk mengobati luka hati dan fisik Askar.


"Kenapa aku gugup begini, sih?" sungut Adzilla tepat di depan pintu ruang rawat Askar.


"Awwh.. Sakit, woy."


Mendengat suara pekikkan dari dalam membuat Adzilla menempelkan telinga di daun pintu tersebut.


"Makanya, galau gagal nikah itu banyakin sholat dan ngaji bukan malah balapan. Rasakan akibatnya. Kau kira Zilla mau sama kau dengan luka lecet dan tangan yang patah?"


"Zilla gak bakal tahu kalau kau gak kasih tahu dia. Bisa ganti gak sih makanan nya? ini hambar, Za."


"Kenapa kau cerewet sekali? kau kan sakit makanya makan beginian. Ak**u heran lihat kau, As. Kau kan sudah tahu kalau permasalahan kalian sudah selesai. Kenapa gak datangin Zilla? malah balapan begini."


"Diamlah, Aku takut di tolak lagi."


Adzilla menggeleng mendengar perdebatan mereka. Bahkan ingin rasanya Adzilla tertawa mendengar itu.


"Baiklah, Zilla. Sudah waktunya kau menebus kesalahan mu. Semangat cantik." Adzilla memberi semangat pada diri sendiri. Mengetuk pintu seraya mengucap salam.


Mendengar jawaban salam dari dalam dan mempersilahkan untuk masuk, segera mendorong handle pintu.


Mencoba tetap tersenyum di tengah rasa gugup. Memilih duduk di sebelah brankar berseberangan dengan Reza.


"A-aku keluar dulu cari makan siang. Kak Zilla bisa suapi Askar kan?" Sebenarnya Reza ingin sekali melihat bagaimana interaksi teman dekat nya dengan Adzilla namun, tatapan Askar memberi kode untuk meninggalkan mereka berdua maka memilih mengalah saja.


...****...


Adzilla berdehem menetralkan kegugupan. Rasanya sangat canggung berada di dekat Askar dari sekian lama mereka berpisah.


Ia pun merasa heran mengapa Askar diam saja bahkan tak ada niat untuk melihat ke arah nya.


Apa dia ngambek?

__ADS_1


"As."


"Hem?"


"Mau makan? aku bawain sup ayam sama sambal kesukaan mu." Adzilla mencoba terus mengajak Askar bicara.


Ia mengerti bila Askar wajar marah padanya karena rasa cinta nya tak begitu kuat seperti cinta Askar. Seharusnya dirinya percaya pada Askar karena bisa di lihat bagaimana Askar sangat menjaga jarak di antara mereka walau satu kebiasaan pria itu yang tak ia tolak.


Mengecup tiga ujung jemari lalu di tempelkan pada dahinya.


"Aku sudah makan." ucap Askar datar.


Adzilla menghela nafas. "Aku yang masak." ucapnya membuat Askar menoleh ke arahnya tetapi tetap dengan wajah datar.


"Sedikit saja."


Adzilla tidak mempermasalahkan tatapan datar Askar. Dengan semangat ia membuka rantang kemudian mengambil nasi dan sup ayam beserta sambalnya.


Ketika Adzilla hendak menyuapi, Askar menolak dan berusaha merebut piring dari tangannya. Tentu saja ia mengelak.


"Aku mau makan sendiri."


Ingin rasanya Adzilla tertawa saat ini melihat wajah Askar yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.


"Atau aku hatus menerima pinangan dari laki-laki lain saja?" cecar Adzilla membuat Askar diam saja untuk beberapa saar. Bisa di pastikan jika pria di depan nya ini tengah memikirkan semua ucapan nya.


Benarkan? sangat jelas Askar baru menyadari dengan mata terbelalak kemudian menatapnya aneh.


Tetapi tatapan aneh itu seakan mengintimidasi dirinya hingga membuat gugup. "Ada apa, As?"


"Aku baru sadari kalau kau tambah cantik, yang."


Ah, senyuman pria itu salah satu yang sangat dirindukan. "Yang?"


Askar tampak mengangguk. "Sayang."


"Aku akan sembuh kalau kau yang merawat. Awas saja kalau kau berani terima pinangan dari orang lain. Aku bakalan ganggu rumah tangga kalian. Kalau perlu, aku bakal lakuin apa yang sudah kalian tuduhkan padaku."


Adzilla tercengang dengan ucapan Askar tetapi tangan nya terus bergerak menyuapi pria itu. "Emang kau mau lakhin apa, As?"


Askar tak lantas langsung menjawab tetapi tatapan nya benar-benar mengintimidasi Adzilla.


"Aku bakal perkosa kau, yang. Biar kita bisa segera nikah."

__ADS_1


"Astaghfirullah, Askar. Perkosa endasmu. Awas saja kalau kau berniat begitu." Saking gemas nya Adzilla pada Askar membuat ia mencubit perut.


"Awwh.. Sakit, yang." ringis Askar membuag Adzilla merasa bersalah.


Ia menyingkap pakaian Askar untuk melihat luka yang terkena cubitan nya. "Askar, kau mengerjaiku? jahil banget sih." sungut Adzilla karena di perut Askar tak ada yang luka dan ia pun meletakkan piring di atas nakas karena sudah habis.


Askar tertawa kemudian memeluk kepala Adzilla berbalut hijab itu dengan satu tangan. Tubuh Adzilla terpaku atas perlakuan dari pria itu. Terdengar jelas detak jantung Askar begitu kencang.


"As."


"Biaekan begini sebentar lagi, yang. Aku begitu merindukan mu. Bahkan detak jantungku masih sama saat berada di dekatmu."


Adzilla menelan saliva dengan kasar. "As, aku merasa tak nyaman." Setelah mengatakan itu barulah pelukan terlepas.


"Maaf." kata Askar membuat Adzilla mengangguk.


"Jangan aneh-aneh lagi, kau buat aku khawatir, As. Gimana kalau anak-anak tahu kau begini? cukup buat aku pusing harus beralasan karena papi mereka tak datang lagi."


"Hanya khawatir?"


Tatapan mereka bertemu. Mata Adzilla menganak sungai. "Aku takut kau akan pergi ninggalin aku." Setelah mengucapkan itu, Adzilla duduk kembali dengan kepala menunduk dalam.


Askar sendiri hanya diam mengelus kepala Adzilla berbalut hijab itu. "Bahkan setelah masalah serumit itu dan kau memilih memutuskan hubungan kita saja aku tak pernah meninggalkan mu."


Adzilla mendongak membuat Askar mengusap air matanya. "Aku takut kehilanganmu lagi." ucap Adzilla dengan wajah sendu.


...****...


Cukup lama Askar berusaha menenangkan Adzilla yaang terus saja menangis setelah menceritakan apa yang terjadi dan penyebab wanita itu mengambil keputusan secara sepihak.


Sungguh, ia tak marah walau seharusnya hal itu wajar jika dilakukan. Tetapi Askar lebih memilih menasehati dan membuat kesepakatan.


"Apapun itu, mau sekecil apapun yang gak sukai di antara kita. Bicarakan lebih dulu agar bisa menemukan solusi."


Dan ketika Adzilla meminta untuk memaafkan Hana, ini lah yang dihindari tetapi karena wanita itu mengatakan bahwa tak pernah marah pada kakaknya menjadi kan ia terpaksa memaafkan.


"As."


"Ya." Tatapan mereka bertemu lalu Adzilla memutuskan pandangan karena tengah melihat luka lecet di beberapa bagian tangan dan kaki, lalu tangan kiri nya berada di arm slim.


"Kok cuma tangan sama kaki yang luka? kepala nya kok gak ada?"


❤️

__ADS_1


TBC


__ADS_2