SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)
61. Dianaaa


__ADS_3

"Tenanglah. Ibu pasti baik-baik saja," tutur Reza sembari mengusap punggung Mentari.


Membiarkan istri kedua nya menumpahkan segala kesedihan. Tadi, setelah Reza dan Mentari sudah tertidur. Mentari harus bangun pada dini hari untuk membuang hajat kecil seperti ibu hamil tua lain nya akan mengalami hal itu.


Reza terbangun setelah mendengar Mentari berteriak kencang memanggil nama ibu dan juga memanggilnya. Betapa terkejutnya Reza melihat Ibu Lia tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.


Dengan cepat ia menggendong tubuh Ibu Lia ke kamar mertuanya itu lalu kembali ke kamar untuk memakai kaos setelahnya keluar menuju rumah Pak RT untuk meminjam mobil dengan tujuan membawa ibu mertuanya ke Rumah Sakit.


Disinilah mereka. Duduk di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Tim medis keluar dari ruangan tersebut.


"Gimana keadaan orang tua kami, Dok?" tanya Reza sembari merangkul Mentari.


"Maaf. Kami telah berusaha semampu kami, tetapi Allah berkehendak lain, Ibu Lia diperkirakan meninggal sebelum dibawa ke Rumah Sakit."


Perkataan Dokter membuat dunia Mentari menjadi gelap. Tubuhnya ambruk dalam dekapan Reza. Ya, Mentari tak sadarkan diri setelah mendengar Ibu Lia telah tiada.


Dengan sigap Reza menggendong Mentari ke ruangan yang diarahkan salah satu perawat disana.


Cukup lama Reza menunggu Mentari sadar barulah ia akan pulang mengambil uang untuk mengurus administrasi almarhumah Ibu Lia dan perawatan Mentari.


Pikiran nya bercabang memikirkan bagaimana Mentari hidup sendiri sedang hamil besar apalagi jika sudah melahirkan nantinya.

__ADS_1


Merasakan tangan Mentari bergerak membuat lamunan Reza buyar. "Sayang, apa yang kau rasakan? ada yang sakit?"


Reza menatap pias melihat Mentari yang hanya diam saja dengan tatapan kosong dan air mata mengalir deras.


Reza bangkit langsung memeluk Mentari. "Tetaplah sabar sayang, ingat ada anak kita yang harus kau perhatikan juga."


Setelah mengatakan itu Reza merasakan tubuh Mentari berguncang bersama isak tangis memilukan hati.


"Aku sendirian, Za."


Reza mengelus kepala Mentari dengan lembut. "Kau gak sendiri, ada aku."


"Aku pulang dulu mau ambil uang untuk ngurus administrasi. Kau mau ikut?"


Mentari menggeleng. Ibu hamil itu lebih banyak diam walau sudah tak menangis lagi.


Memang berat meninggalkan Mentari sendiri disini, tetapi segera ia harus menyelesaikan administrasi agar jenazah Ibu Lia segera di semayamkan.


Semoga cukup uang simpanan ku sendiri tanpa harus mengambil tabungan yang dikumpulkan Diana.


Dengan naik ojek Reza menuju ke rumah nya. Ada rasa khawatir meninggalkan Diana sendiri di rumah apalagi ponselnya juga tertinggal di rumah Mentari.

__ADS_1


Usai memberi ongkos pada tukang ojek, satu alisnya terangkat melihat pintu pagar terbuka namun tak menjadi masalah baginya.


Di buka rumahnya menggunakan kunci cadangan yang selalu dibawanya. Ruang tamu masih dalam keadaan mati dan Reza mewajari mungkin Diana bangun kesiangan.


Tetapi langkahnya terhenti mendengar Diana cekikikan di dalam kamarnya.


"*Iihh, geli mas."


"Geli atau enak*?"


Tubuh Reza membeku mendengar suara pria bersama istri pertamanya di dalam kamar. Darahnya mendidih mendengar candaan berubah menjadi suara desa han bersahutan.


Tangan nya terkepal tak menyangka bila Diana berkhianat. Wanita yang selalu manja padanya yang selalu ia anggap wanita polos ternyata sekali lagi membuat kesalahan besar padanya.


Brak.


"Dianaaa," teriak Reza.


❤️


TBC

__ADS_1


__ADS_2