
Mira menyetujui semua yang di persyaratkan om Amir, meskipun dia dengan berat hati harus ikhlas seumur hidupnya tidak bisa mengakui bahwa Adrian adalah anak kandungnya.
"Sayang kenapa kamu menyanggupinya, tanpa berfikir panjang terlebih dahulu, apakah kamu tidak menyesal nantinya, dia adalah anak kandungmu jadi kamu berhak untuk mengakuinya dan memberitahukan semuanya pada anakmu itu"
"Sayang yang terpenting sekarang aku bisa berjumpa dengannya dan bisa memeluknya itu yang terpenting, tak ada hal penting lain bagiku selain bisa memeluk anakku"
"Ia sayang, yang terbaik untukmu saja"
"Ia mas, yang terpenting adalah mas sekarang harus dukung aku dan mendampingiku"
"Ia sayang, aku akan selalu ada untukmu"
"Sudah jangan berdebat sekarang ini, Mira cepat tanda tangan di atas matrai ini dan setelah ini kau bisa bertemu anakmu"
"Ia om, aku akan segera menandatanganinya"
Rico tetap memegang tangan kiri Mira, sedangkan tangan kanan Mira langsung menandatangani persetujuan itu.
"Mbok panggil tuan Adrian dan suruh dia cuci kaki dan tangannya terus bawa dia kemari!!"
"Ia tuan"
"Tuan Adrian ............. teriakan dari pembantunya"
"Ia mbok"
Adrian berlari menghampiri pembantu itu.
__ADS_1
"Ada apa mbok, kok mbok panggil-panggil saya, mbok tau kan saya lagi main bersama teman-teman"
"Ia tuan, tapi tuan dipanggil ayahnya, tapi sebelum pergi ke ayah, harus cuci tangan dan kaki serta ganti baju, tuan kotorkan habis lari-lari"
"Ia mbok, adrian bersih-bersih dulu"
Adrian berlari untuk membersihkan tangan dan kakinya serta berganti pakaian, setelah dia rapi dia langsung dengan semangatnya menghampiri ayahnya.
"Ayah!!!! teriakan Adrian sambil berlari kencang menuju ayahnya.
"Awas nak, jangan lari-lari nanti kamu jatuh dan berdarah"
"Tidak yah, Adriankan laki-laki andai aku jatuh pun aku tak akan menangis"
"Emmmmm. memang benar, jagoan ayah ini"
"Ia benar, anak ayah"
Adrian memeluk om Amir.
"Ayahku sayang, ada apa aku di panggil, padahal tadi lagi seru bermain bola"
"Begini sayang, ayah mau memperkenalkan, teman ayah padamu"
Mira melihat kedekatan om Amir dengan Adrian , dia sangat iri sekali, andai Adrian tau bahwa dia adalah ibu kandungnya pasti, adrian akan sayang padanya dan akan menyayanginya seperti dia menyayangi om Amir.
"Oh ini teman ayah, sepertinya Adrian sudah pernah bertemu sama kakak ini, tapi adrian lupa bertemu dimana ayah"
__ADS_1
"Emang dimana nak"
"Adrian lupa"
"Emang kamu pernah bertemu adrian ya Mira"
"Ia om, Mira bertemu dengan Adrian di pusat perbelanjaan"
"Ia ayah adrian lupa, oh kakak adalah teman ayahku ya"
"Ia nak, kenalkan nama kakak adalah Mira, teman baik ayahmu, sini nak kakak ingin peluk kamu boleh"
Mira sudah tidak sabar sekali untuk memeluk anaknya tersayang. Sedangkan Adrian menoleh ke arah ayahnya seraya meminta izin, perlu di ketahui Adrian adalah anak yang sangat penurut dengan ayahnya, dia sangat sayang sekali dengan ayahnya.
"Boleh sayang, sana dekat dengan kak Mira"
"Ia ayah"
Adrian berlari ke arah Mira dan membuka tangannya, begitupun Mira dengan tidak sabarnya dia langsung memeluk Adrian dengan tak kuasa menahan tangisnya lagi. Adrian sangat bingung, kenapa kakak Mira menangis.
Adrian melepaskan pelukan Mira.
"Sudah lah kak, aku bingung kenapa kakak menangis, apa Adrian ada yang salah?"
"Tidak nak kamu tidak salah, cuma kakak sangat bahagia sekali, akhirnya kakak bisa bertemu dan memelukmu nak"
"Oh begitu"
__ADS_1
bersambung