
Pengalaman hari ini mungkin merupakan pengalaman terlucu sekaligus paling ironis yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Hari yang merupakan hari paling bersejarah yang menentukan masa depan.
Tanggal 10 maret merupakan hari terpenting di dunia saya karena pada tanggal tersebut, saya dan Rico sudah melangsungkan sebuah pernikahan. Pada hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup itu, saya dan Rico saling menyerahkan ego dan sepenuhnya siap berbagi atas nama komitmen dan cinta. Uniknya, yang terus terlintas dalam pikiran saya adalah lirik lagu Sheila On 7 yang berbunyi: Tuhan, sekali ini saja, lancarkan hariku, hariku bersamanya. Ijinkanku semakin dekat padaMu, menyempurnakan separuh agama bersama seorang imam di sampingku. Ijinkan kami menikah hari ini.
Hujan yang turun pada malam itu seolah menandakan banyaknya rejeki yang sudah diberikan Tuhan selepas hari pernikahan kami yang sempurna. Namun, ketegangan yang diakibatkan oleh beberapa hari untuk mempersiapkan pernikahan, rasa lelah, dan rasa bahagia yang luar biasa pada hari itu membuat kami berdua sangat kelelahan. Pekerjaan rumah pertama saya adalah membersihkan kuteks, membersihkan dempulan wajah yang berlapis-lapis, mengerok pidih dengan sendok, dan terakhir, membubuhkan pembersih dan penyegar untuk memastikan bahwa wajah saya sudah benar-benar bersih. Waktu yang saya butuhkan untuk melakukan itu semua kurang lebih sekitar 1 jam dan fakta paling menyebalkan yang saya temukan adalah alis saya hanya tinggal separuh.
Rasanya sedikit aneh ketika bersama dengan seorang pria yang baru saja menjadi suami kita. No romantic music, no lingerie, no kissing, no hot chocolate karena yang ada hanyalah baby doll panjang, kondisi alis yang tinggal separuh, dan rambut yang masih setengah kering. Apa lagi bayangan yang Anda harapkan?
__ADS_1
Berulang kali Rico membual tentang malam pertama pada hari-hari sebelum hari pernikahan kita. Bahkan dia sempat mengecek tempat tidur kami. Tapi, saya sangat yakin bahwa malam itu kami akan sama-sama lelah luar biasa dan yang kami butuhkan hanya satu, tidur yang sangat nyenyak. Yang pertama kali terjadi adalah kami saling berebut posisi paling nyaman di tempat tidur mengingat Rico membutuhkan luas permukaan yang jauh lebih besar dari saya. Akhirnya kami mengambil keputusan pertama kami sebagai suami istri, yaitu tentang bagian tempat tidur masing-masing. Setelah menang dan berhasil menyuruh suamiku mematikan lampu, si tuan besar turun ke tempat tidur dengan bersemangat.
Mendadak terdengar suara, "BRAAAAAKKKKK!!"
Kami berdua saling pandang dan akhirnya sama-sama tertawa cekikikan. Saya tidak tahu tepatnya bagaimana gaya suami saya ketika dia hendak mengambil posisi ternyaman di tempat tidur, tapi yang jelas adalah dia telah merusakkan penahan kayu tengah bagian bawah tempat tidur. Kayu tersebut terlepas dari tempatnya. Aku tidak bisa berhenti tertawa, sementara Rico panik bukan kepalang. Lalu? Rico memutuskan untuk menggelar kasur di lantai karena dia takut tempat tidur tadi akan rusak semakin parah apabila dipaksa ditiduri. Sedangkan aku dengan suksesnya menguasai ranjang pengantin kami sendirian dan tidur dengan sangat nyenyak malam itu.
Rico berkata
__ADS_1
"Sayang malam pertama kita gagal, besok di coba lagi ya"
Aku hanya bisa tertawa lepas. Haaaaaa.
malam pertama yang harusnya kita lewati bahagia malah menjadi tawa.
bersambung
__ADS_1