
“apa kenapa saya mendapatkan bagian juga?’
Tanya Mira pada para pengacara itu.
“maaf nona mira, ini adalah isi wasiat yang ada jadi harus di patuhi, amanat dari tuan Amir”
“Ia pak saya, sangat mengerti”
Wasiat itu bagi Mira laksana bom waktu, dia ingin sekali rasanya menolaknya namun semua sudah terjadi, Dia merasa sangat tidak enak sekali menerima wasiat itu, sebenarnya ia ingin lepas dari bayang-bayang tuan Amir, namun semua itu tidak bisa di lakukan, karna mau bagaimanapun dia ada Adrian yang membuat dia tidak bisa lepas dari bayang om Amir.
“Non, mbok jadi terharu, kenapatuan Amir memberi hartanya pada mbok”
“Mbok itu tanda bahwa tuan Amir sayang sama kita semua dan tidak mau melihat kita kekurangan, tugas kita sekarang adalah jaga Adrian dengan baik, dan menjaga amanah dari om Amir dengan baik pula”
“Ia non, mbok akan jaga tuan Adrian dengan baik, agar dia tidak merasa kesepian sama sekali”
“Maaf mba Mira, saya harus pulang terlebih dahulu, semua wasiat sudah saya sampaikan dengan baik semuanya, ucap para pengacara”
“Ia pak terimakasih atas bantuan, bapak-bapak selama ini”
“Ia sama-sama nona”
__ADS_1
Para pengacara, keluar dari rumah Adrian, Adrian yang masih kecil tidak mengerti apa yang mereka katakan tadi.
“Kakak, apa yang pengacara katakan tadi?’
“Ayah Amir memberikan semuanya pada Adrian, agar Adrian bisa sekolah yang tinggi dan Adrian bisa menggapai cita-cita Adrian yang kamu cita-citakan selama ini, jadi semangat saja menggapai cita-cita ya”
“Ia kakak, Adrian ingin sekali menjadi seorang dokter, agar bisa membantu orang-orang yang lagi sakit”
“Ia Adrian sayang, semoga cita-citamu tercapai sayang, Adrian harus belajar yang giat agar cita-citanya tercapai dan Ayah amir bahagia melihat Adrian sukses”
“Ia kakak, Adrian janji akan menjadi orang yang sukses, biar ayah tenang disana.
Tingtung……… tingtung, suara bel kembali berbunyi, ternyata Rico yang tiba.
“Ia sayang, aku mau cerita padamu?”
“Cerita apa sayang?”
“Sayang, aku bingung sekali aku tak mungkin bisa lepas dari rumah ini, karna aku diberi warisan 25% dan harus membesarkan Adrian sampai dewasa karna dia adalah anakku, terus aku bingung bagaimana hubungan kita, dan setelah kita menikah bagaimana juga, ibumu juga sendirian disana dan pasti beliau kecewa dan tak mau jika harus tinggal di rumah om Amir”
“Ah kamu sayang takusah bingung begitu, nanti kalau kita menikah, kita bisa ajak adrian ke rumah kita?’
__ADS_1
“Terus rumah ini bagaimana?’
“ada mbok Ijah kan yang akan mengurusnya, dan kita bawa Adrian ke rumahku, memang rumahku tak sebesar rumah Adrian tapi insya Allah dia akan nyaman”
“tapi apakah dia mau sayang aku ajak pergi?’
“Sebagai belajar dulu, kita bawa 1 minggu, trus 1 minggu lagi kita pulang lagi ke rumah ini, kita buat Adrian terbiasa dulu sayang, jadi kamu tak usah berfikir macam-macam ya, yakinlah semua akan baik-baik saja”
“Ia mas, terimakasih sudah mau menerima aku dan Adrian”
“Ia sayang, sekarang kalian adalah bagian dari aku, kita ini satu keluarga, kita akan rawat Adrian bersama-sama sampai kelak dia dewasa dan bisa mandiri, jadi kamu harus tenang”
“Hay kak Rico, kapan tibanya kak?”
“Baru saja Adrian sayang”
“Kakak mau ajak kamu jalan-jalan mau tidak?’
“Tentu aku mau sekali kak”
Adrian begitu sangat bahagia sekali melihat ke datangan Rico, dia begitu dekat sekali dengan Rico, dan Mira sangat bahagia sekali melihatnya.
__ADS_1
Bersambung