Simpanan Lelaki Tua

Simpanan Lelaki Tua
sajak perpisahan


__ADS_3

Mata sayu melihat tubuh yang kaku tak bernyawa


Isak tangis terus mengalir di wajah terekspresi


Suasana duka terselimuti di suasana hari ini


kenapa begitu cepat engkau meninggalkanku


Mira belum sempat memberi kebahagiakan seutuhnya


Belum bisa membalas ke baikan om Amir


Namun semua telah bisu karena engkau telah meninggalkanku


Tubuh sungguh tiada daya lagi untuk membuka mata


Aku tengok jasadmu mata telah terpejam selamanya


Terlihat senyum di raut wajahmu


Semua hanya tinggal kenangan kepada dunia untuk bercerita


Kain kafan putih terbalut di tubuhmu yang mulia


Ku bisikkan di kedua telinga itu yang lembut


semoga engkau bahagia kekal selamanya


Tunggu aku di sana nanti kita akan berkumpul di surga

__ADS_1


Terboyong jenazahmu di masukkan ke dalam liang lahat sempit


Terbujur sendiri berteman dengan amal yang telah dilakukan


Kepergianmu wahai om Amir meninggalkan aku selamanya


Jemput aku nantinya bersama sayap malaikat menuju nikmat yang sesungguhnya.


Tangis Adrian, membuat hati kecilku semakin perih, dia memelukku erat, aku tau kepedihannya. Karna aku tau bagaimana ke hilangan sosok ayah yang sangat kita cintai, ayah adalah cinta pertama anaknya pada orang tuanya.


Adrian berkata pada jasad om Amir sebelum di masukkan dalam liang lahad di acara pemakaman.


Hadirmu kian tidak akan pernah nampak lagi disisiku


Hanya sendiri berdiam diri di rumah terasa sunyi


Tiada yang menemani kedua orang tua terkasih dan tersayang


Engkau tinggalkan aku sendiri di rumah tua itu


Gubuk yang menyimpan banyak cerita tak terlupakan


Tempat ibu dan ayah mencurahkan lelah yang ia rasakan


Sekarang hanya bisa berdiri kokoh sepi penghuni


Aku berdiam diri duduk terpatri


Bayang-bayang semu menghampiri diri yang enggan menghilang

__ADS_1


Tenanglah di sana wahai ayahku


Tunggu aku di separuh perjalanan yang liku


Senyum tidak terhiasi lagi di kediaman sejuk nan asri


Foto yang berdebu menjadi kenangan tembok yang bisu


Keadaan membuat semakin tangis menderu


Dimana lagi tempat aku mencurahkan keluh kesah ini


Ayah dan ibu kini engkau telah menghadap sang Illahi


Hidup bahagia disisi alam yang sesungguhnya


Berlinang tangis mengikhlaskan kepergian engkau di sana


Semoga engkau bahagia di surga-Nya.


“Sudah nak tenanglah ada kakak yang akan ada untukmu”


Acara pemakamanpun di laksanakan, jasad om Amir di masukkan ke dalam lian lahad, aku melihat Adrian yang sangat tegar sekali melepas kepergian ayahnya, aku semakin kagum dengan ketegarannya serta aku bangga melahirkan anak seperti Adrian.


Acara pemakaman pun telah selesai, satu persatu orang yang ada di pemakaman pergi dari tempat itu, tinggalah om Amir yang berada di tempat peristirahatannya yang terakhir itu, damai dan tidak merasakan sakit lagi.


Aku menggendong Adrian dan ku dekap dia dalam pelukanku, Rico yang masih setia dan selalu memberiku kekuatan, dia memegang tanganku erat dan membawa kami masuk ke dalam mobil, serta membawa kami pulang ke rumah om adrian.


Setiba di rumah om adrian yang ada hanyalah keheningan dan kesunyian semata, sunyi tanpa hadirnya, sepi tanpa ada canda tawanya lagi, Adrian yang periang mendadak menjadi seseorang anak laki-laki yang diam menyimpan sebuah kesedihan yang dia simpan dalam hati yang paling dalam, ku hampiri Adrian dan berkata padanya.

__ADS_1


“Tenanglah sayang semua akan baik-baik saja, karna ayah mu sudah bahagia disana dan jangan bersedih, ayahmu tetap hidup sekarang di hati Adrian dan dia tidak pergi kemana-mana, kalau Adrian rindu dia selalu ada di hati adrian selamanya”


bersambung


__ADS_2