
Mata sayu melihat tubuh yang kaku tak bernyawa
Isak tangis terus mengalir di wajah terekspresi
Suasana duka terselimuti di suasana hari ini
kenapa begitu cepat engkau meninggalkanku
Mira belum sempat memberi kebahagiakan seutuhnya
Belum bisa membalas ke baikan om Amir
Namun semua telah bisu karena engkau telah meninggalkanku
Tubuh sungguh tiada daya lagi untuk membuka mata
Aku tengok jasadmu mata telah terpejam selamanya
Terlihat senyum di raut wajahmu
Semua hanya tinggal kenangan kepada dunia untuk bercerita
Kain kafan putih terbalut di tubuhmu yang mulia
Ku bisikkan di kedua telinga itu yang lembut
semoga engkau bahagia kekal selamanya
Tunggu aku di sana nanti kita akan berkumpul di surga
__ADS_1
Terboyong jenazahmu di masukkan ke dalam liang lahat sempit
Terbujur sendiri berteman dengan amal yang telah dilakukan
Kepergianmu wahai om Amir meninggalkan aku selamanya
Jemput aku nantinya bersama sayap malaikat menuju nikmat yang sesungguhnya.
Tangis Adrian, membuat hati kecilku semakin perih, dia memelukku erat, aku tau kepedihannya. Karna aku tau bagaimana ke hilangan sosok ayah yang sangat kita cintai, ayah adalah cinta pertama anaknya pada orang tuanya.
Adrian berkata pada jasad om Amir sebelum di masukkan dalam liang lahad di acara pemakaman.
Hadirmu kian tidak akan pernah nampak lagi disisiku
Hanya sendiri berdiam diri di rumah terasa sunyi
Tiada yang menemani kedua orang tua terkasih dan tersayang
Engkau tinggalkan aku sendiri di rumah tua itu
Gubuk yang menyimpan banyak cerita tak terlupakan
Tempat ibu dan ayah mencurahkan lelah yang ia rasakan
Sekarang hanya bisa berdiri kokoh sepi penghuni
Aku berdiam diri duduk terpatri
Bayang-bayang semu menghampiri diri yang enggan menghilang
__ADS_1
Tenanglah di sana wahai ayahku
Tunggu aku di separuh perjalanan yang liku
Senyum tidak terhiasi lagi di kediaman sejuk nan asri
Foto yang berdebu menjadi kenangan tembok yang bisu
Keadaan membuat semakin tangis menderu
Dimana lagi tempat aku mencurahkan keluh kesah ini
Ayah dan ibu kini engkau telah menghadap sang Illahi
Hidup bahagia disisi alam yang sesungguhnya
Berlinang tangis mengikhlaskan kepergian engkau di sana
Semoga engkau bahagia di surga-Nya.
“Sudah nak tenanglah ada kakak yang akan ada untukmu”
Acara pemakamanpun di laksanakan, jasad om Amir di masukkan ke dalam lian lahad, aku melihat Adrian yang sangat tegar sekali melepas kepergian ayahnya, aku semakin kagum dengan ketegarannya serta aku bangga melahirkan anak seperti Adrian.
Acara pemakaman pun telah selesai, satu persatu orang yang ada di pemakaman pergi dari tempat itu, tinggalah om Amir yang berada di tempat peristirahatannya yang terakhir itu, damai dan tidak merasakan sakit lagi.
Aku menggendong Adrian dan ku dekap dia dalam pelukanku, Rico yang masih setia dan selalu memberiku kekuatan, dia memegang tanganku erat dan membawa kami masuk ke dalam mobil, serta membawa kami pulang ke rumah om adrian.
Setiba di rumah om adrian yang ada hanyalah keheningan dan kesunyian semata, sunyi tanpa hadirnya, sepi tanpa ada canda tawanya lagi, Adrian yang periang mendadak menjadi seseorang anak laki-laki yang diam menyimpan sebuah kesedihan yang dia simpan dalam hati yang paling dalam, ku hampiri Adrian dan berkata padanya.
__ADS_1
“Tenanglah sayang semua akan baik-baik saja, karna ayah mu sudah bahagia disana dan jangan bersedih, ayahmu tetap hidup sekarang di hati Adrian dan dia tidak pergi kemana-mana, kalau Adrian rindu dia selalu ada di hati adrian selamanya”
bersambung