Simpanan Lelaki Tua

Simpanan Lelaki Tua
jangan pisahkan aku lagi


__ADS_3

"Kakak Adrian main dulu ya, aku ingin main bola, ayah aku pergi dulu ya?"


"Jangan Adrian, kakak masih kangen sekali sama kamu, mau tidak duduk bareng kakak disini, kakak punya hadiah yang banyak sekali ada di dalam mobil"


"Ayo lah sana, pergi ke mobil, ikut kak Mira, tuh mau di kasih hadiah yang sangat banyak, apa kamu, tidak mau nak, ucap Amir"


"Emmmm bagaimana ya yah, Adrian mau main bareng teman-teman namun Adrian mau juga mainan dari kak Mira"


"Ya sudah, bagaimana kalau kamu ikut kak Mira, setelah itu baru main bersama teman-temanmu"


"Ide yang sangat bagus ayah"


"Ayo kakak, kita ambil hadiahnya, aku sudah sangat tidak sabar lagi, mau buka kadonya"


Adrian menarik tangan Mira dengan semangatnya.


"Ia sabar ya nak"


"Kok panggil nak, panggil aja adek adrian, aku kan bukan anak kakak Mira, heeeeeee"


Mendengar perkataan Adrian itu semua mata tertuju pada Mira, Rico meresa sedih sekali, dia sangat tau pasti hati Mira sangatlah hancur mendengar peekataan dari Adrian, dan Rico melihat, ada bulir-bulir air mata yang jatuh pada pipi Mira.


"Ayo kak, ucap Adrian"


"Ia nak, ayo kita buka bagasi mobil di luar"


Akhrinya Adrian dan Mira pergi keluar rumah untuk mengambil hadiah itu, di dalam rumah Rico memberanikan diri untuk bicara pada pak Amir, dia sebenarnya sangat tidak setuju dengan perjanjian tadi, dia berniat merayu om Amir agar om Amir dapat merubah semua lsi perjanjian tersebut.


"Om boleh tidak Rico bicara berdua sama om, mumpung Mira ada di luar"

__ADS_1


"Ia ada apa bicara saja"


"Om bagaimanapun Mira adalah ibu kadung Adrian, dia yang melahirkan dia selama 9 bulan. Jadi aku mohon om kelak kalau om tiada, atau om bisa merubah isi perjanjian tadi, setidaknya. kalau Mira sekarang tidak boleh mengakui Adrian, tapi kalau om tiada om bisa membolehkan Mira untuk jujur pada Adrian"


"Haduh kamu Rico, memang siapa kamu yang berani mengatur saya, saya sudah baik loh, membiarkan Mira untuk menemui anak saya, saya sudah membiayai dia selama ini, jadi jangan coba-coba atur-atur saya, apalagi kamu, kamu itu sebenarnya tidak ada hak untuk mengatur saya"


"Bukan maksud saya om untuk mengatur, tapi apa om tidak berfikir kalau adrian nanti di tinggal sendiri, bagaimana nasib dia selanjutnya"


"Apa kamu tadi kurang jelas, di dalam perjanjian tadi sudah jelas kan, kalau aku tiada yang mengasuh Mira tapi tidak boleh mengaku selamanya kalau dia ibu kandungnya, apa kamu juga tidak berfikir Rico, bagaimana kecewanya Adrian nantinya kalau tau ibu kandungnya Mira, dan dia tau aku dan Mira hanya menikah siri, dan aku menjauhkan dia dari Mira, dan membohongi dia. Kamu perlu tau aku tak mau dia membenciku meskipun aku sudah tidak ada"


"Oh begitu ya om, maafkan aku om, ternyata om tak sejahat seperti yang aku bayangkan selama ini"


"Ia sudahlah tu liat Adrian sudah mulai akrab dengan Mira"


Adrian dengan semangatnya membawa semua hadiah dari mobil.


"Kakak Mira, ini banyak sekali tangan Adrian sampai tidak muat haaaaa"


"Ah kalau satu-satu kelamaan, adrian sudah tidak sabar sekali mau buka kadonya, kakak Adrian punya ide bagaimana kalau teman-teman Adrian aku panggil buat bantuin bawa kan jadi cepat"


"Wah memang Adrian pintar"


"Ia dong pintar aku kan juara 1 di taman kanak-kanak"


"Teman-teman ke mari bantuin aku bawa hadiah ini, teriakan Adrian pada teman-temannya"


Semua teman-teman Adrian berlari menuju ke arah mobil.


"Ini kalian bawa satu-satu tapi hati-hati kalau rusak"

__ADS_1


"Ia Adrian, ucap semua teman-temannya"


Mereka membawa semua hadiah itu ke dalam rumah, om Amir melihatnya dan terkejut mengapa hadiah itu bisa sebanyak itu.


"Rico apakah kamu tau bagaimana hadiah itu bisa sebanyak itu"


"Perlu om tau bila Mira membeli apapun buat adiknya, dia selalu mengingat anaknya dan membelikan barang juga buat Adrian yang dia berharap kelak bila dia bertemu dia bisa memberikannya pada anaknya"


"Oh begitu, berarti selama ini dia sangat tersiksa ya rico"


"Bagaimana dia tidak tersiksa, bayangkan pak, seorang ibu di pisahkan dengan anaknya, bagaimana rasanya"


Om Amir sedikit tersentuh, dan mempunyai sedikit ide.


Sedangkan Adrian dengan teman-temannya dengan semangat membuka hadiah yang di berikan oleh Mira, Adrian begitu bahagia sekali, dan Mira juga bahagia melihat anaknya bahagia, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 13.00 waktu dimana Mira harus pulang.


"Mira sini, kamu harus pulang sekarang. ini waktu Adrian tidur"


"Tapi om Mira masih ingin disini"


"Tidak bisa rumah ini ada peraturan yang harus di tepati dan taati"


"Ia kakak pulang aja dulu besok kita main lagi, aku mau tidur siang, kayaknya aku juga sudah ngantuk"


"Ia Adrian kakak pulang dulu ya"


"Om Mira besok boleh kemari lagi kan om"


"Nanti om kabari, boleh atau tidaknya kamu kemari"

__ADS_1


Mira terlihat sangat sedih sekali, harus berpisah dengan anaknya lagi.


bersambung


__ADS_2