
Ku pandang wajah om Amir yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya sangat lemas sekali.
“Mira, panggilnya”, suaranya lirih memanggilku.
“ Ya om, ini Mira”
Aku sungguh tak tega sekali memandangnya, entah apa yang berkecambuk dalam hatiku, mungkin om Amir telah memperlakukanku dengan tidak baik, namun sebenarnya, om Amir adalah pria yang sangat baik yang telah membantuku selama ini, dia telah menjadikanku seperti sekarang ini, sebenarnya jauh dari dalam lubuk hatiku aku telah memafkannya, tak ada rasa marah, benci atau hal lain yang tebersit dalam hatiku untuk tidak memafkannya.
“Mira mendekatlah kemari, ada yang akan aku bicarakan padamu”
“Ia om, om Amir jangan banyak bergerak ya”
Mira mendekat ke om Amir, dia mendekatkan dirinya pada tubuh om Amir, tangannya meraih tangan om Amir. Dia sangat takut sekali akan terjadi apa-apa pada diri om amir.
Om amir juga memegang tangan Mira dan mengatakan sesuatu.
”Mira jika om tidak ada, kamu harus menjaga Adrian dengan baik, dan mungkin om egois dengan tidak memperbolehkan dirimu mengaku pada Adrian tentang yang sebenarnya, sekali lagi om minta maaf, maaf juga jika om telah menyakiti dirimu, dan atas perbuatan om selama ini, om minta maaf”
“Om jangan banyak bicara, om akan baik-baik saja, dan tak akan terjadi apa-apa dengan om Amir. Kita akan besarkan adrian dan mengasuhnya bersama-sama”
“Tapi kamu kamu sudah maafkan om kan, kalau kamu tidak maafkan om, om tak akan tenang dan masih merasa bersalah”
“Ia om Mira sudah maafkan om, jauh sebelum om minta maaf ke Mira jadi om jangan berfikir yang tidak benar”
__ADS_1
Mira menghapus air matanya dan langsung keluar karna perawat sudah memenggilnya utuk menandatangani surat persetujuan untuk oprasi.
“Ibu Mira tanda tangan disini ya, karna kita akan melakukan tindakan oprasi sekarang”
“Ia”
Mira langsung menandatangani kertas itu, dengan perasaan yang gundah gulana. Tiba-tiba dia melihat Rico yang datang kerumah sakit dengan menggendong Adrian.
“sayang kenapa adrian kamu bawa kesini, kasian kalau dia harus berada di rumah sakit”
“Bagaimana ya sayang dia menangis terus dari tadi, aku tak tega liat dia merengek minta di bawa ke ayahnya”
“Oh begitu, ya sudah kalau begitu”
“Ia kakak, Adrian tak mau melihat ayah bersedih”
“Ia pintar, sekarang kan adrian sudah besar jadi tidak boleh nangis lagi”
“ia kak, Adrian janji tidak nangis lagi”
Mira langsung menggendong Adrian, untuk bertemu om amir di dalam kamar. Mira masih saja memandang wajah Adrian dan dia melihat betapa sayangnya Adrian pada om Amir.
“Ayah!!!!!!! Teriakan Adrian” Mira langsung berbisik padanya.
__ADS_1
“Ingat jangan nangis, nanti ayah sedih”
Adrian langsung menganggukkan kepalanya.
“Ia sini sayang, ayah tidak apa-apa. Cuma lagi suruh istirahat sama dokter”
“Emang ayah tidak apa-apa, ayah bohong, kalau tidak apa-apa tidak mungkin ayah di bawa ke rumah sakit, kata bu guru yang di bawa ke rumah sakit itu ya orang yang sakit, tidak mungkin orang yang sehat dibawa ke rumah sakit, ayah jangan bohong ya kan sekarang Adrian sudah besar”
“Ia tanya pak dokter, ayah Cuma suruh tidur, sini duduk dekat ayah ya”
“Ia ayah”
Adrian memeluk ayahnya,om Amir dengan sangat erat dan berbisik.
“Ayah jangan sakit ya, seperti ibu, kalau ayah sakit Adrian sama siapa, ibu sudah tidak ada, adrian tidak mau di tinggal sendiri”
“Ayah tetap disini saya, bersama kamu. Kalau ayah tidak ada kan Adrian sekarang punya kakak Mira sama om Rico yang jaga Adrian jadi jangan bersedih mereka akan selalu ada buat adrian”
“Adrian maunya ayah, tidak mau yang lain”
Mendengar perkataan itu, Mira sangat bersedih sekali, dia sangat takut apabila om Amir tidak ada, apakah Adrian akan bisa menyayanginya atau tidak.
Rico memegang tangan Mira, seolah dia tau perasaan Mira yang sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
beesambung