
Ku peluk tubuhnya yang kecil, harum tubuhnya, hangatnya pelukannya membuat Mira merasakan arti kenyamanan, nyaman berada di dekat adrian, malam ini adalah malam pertama sejak 5 tahun lalu aku berpisah dengannya, dulu yang di pisahkan dari diriku sejak dia lahir, kini dia sudah beranjak dewasa, anakku Adrian meski aku tidak bisa jujur di hadapanmu bahwa aku adalah ibumu, tapi aku yakin kau merasakan kasih sayang seorang ibu dariku.
“kakak, ayah lagi apa ya di syurga sana?’
“ayo sayang, kita di jendela”
“Kenapa liat di jendela?
Adrian berjalan ke arah jendela dan Mira menunjuk ke arah jendela.
“Adrian sayang, kalau Adrian rindu sama ayah, coba Adrian lihat ke arah jendela di luar sana, disana ada bintang yang bersinar sangat terang kan”
“Oh ia kak, Adrian liat, ada yang paling terang disana”
“Nah yang paling terang itu adalah ayah Adrian, yang sedang bersinar juga dalam hati Adrian, jika Adrian rindu, Adrian dapat melihat bintang yang terang di langit gelap itu atau Adrian dapat pergi untuk sholat, yakinlah sayang, ayah Amir tidak pergi kemana-mana dia selalu ada untuk Adrian dan selalu melihat Adrian jadi jika adrian sedih atau menangis ayah juga bisa merasakannya, jadi Adrian harus selalu bahagia, biar ayah juga bahagia disana”
“Ia kakak Adrian mengerti”
“Ya sudah kalau Adrian mengerti, sekarang tidur sudah malam, besok kita harus menatap matahari yang lebih cerah, dengan semangat yang baru juga”
Sekarang Mira sudah menetap di rumah om Amir, sesuai dengan permintaan pak Amir, yaitu dia harus mengasuh Adrian kalau dia sudah tidak ada.
“Ia kakak Adrian sudah mengantuk, kakak bolehkah Adrian besok mulai sekolah?”
“Besok Adrian belum boleh sekolah ya, biar genap 7 hari setelah ayah meninggal saja, adrian sekolahnya”
“Ia kakak, adrian mengerti kalau begitu”
Akhirnya Adrian dan Mira pergi tidur, Mereka terlelap dalam kamar, bagaikan mimpi bisa tidur dengan anaknya.
Kukuruyuk……… kukuruyuk…., suara ayam berkokok, yang menandakan pagi sudah datang, hembusan angin pagi yang sangat sejuk, udara pagi hari yang menandakan saatnya menggapai mimpi.
__ADS_1
“Sayang bangun, sudah pagi”
Adrian membuka matanya, dia sempat lupa memanggil ayahnya.
“ia ayah Adrian bangun”
Mira tak terasa meneteskan airmatanya, tapi dia harus kuat demi Adrian.
Mereka bangun dari tempat tidurnya dan turun ke bawah.
Mbok Ijah sudah menyiapkan semua makanan. Karna sekarang mbok Ijah juga pindah ke rumah tuan Amir, Mira masih bingung bagaimana kelak dia menjelaskan kepada ke dua adiknya yang berada di asrama tentang keadaan ini.
Mira dan Adrian serta mbok Ijah makan bersama-sama di meja makan, tak ada jarak di antara mereka, yang ada hanya rasa kebersamaan dan rasa kasih sayang.
“Mbok ijah makanannya enak sekali ucap Adrian,trimakasih ya mbok, dan kakak Mira akhirnya adrian tidak ke sepian ada kalian bersama adrian.
Tingtung…….. tingtung, suara bel berbunyi. Mbok Ijah membuka pintunya dan ternyata ada 2 orang yang berbadan besar memakai jas hitam, mbok ijah bingung sekali, siapa orang itu.
“Saya pengacara tuan amir, mau bertemu dengan pihak keluarga?”
“Oh silahkan masuk”
Para pengacara masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
“Non Mira, ada tamu?”
“Siapa mbok yang datang?”
“Para pengacara non, mau bertemu dengan para keluarga ucapnya”
Mira dan adrian turun ke bawah dan menemui para pengacara. Mira menjabat tangan para pengacara itu.
__ADS_1
“Ia pak ada apa, bapak datang kemari?’
“Ia tujuan kamu datang kemari adalah untuk membacakan wasiat dari bapak Amir”
“Ia pak”
Para pengacara membuka kertas isi wasiat yang sudah di setujui tuan Amir.
“Kami bacakan isi wasiatnya ya”
“Ia paksilahkan”
Isi wasiat tuan Amir Sasmita.
Bahwasannya semua harta yang ada di berikan kepada Adrian anak tunggal dari tuan amir sebanyak 60% dari jumlah semua harta.
Bahwasannya harta sejumlah 25% di beriakan kepada saudara Mira, sebagai pengasuh Adrian sampai Adrian dewasa kelak.
Bahwasannya harta sejumlah 10% diberikan kepada mbok Ijah, sebagai tanda terima kasih telah membantu menjaga keluarga tuan Amir.
Dan harta 5% di sumbangkankepada fakir miskin.
Harta untuk adrian dapat di serahkan ketika dia berusia 17 tahun, selama dia belum dewasa harta tersebut dapat dikelola oleh mira selaku yang di anggap saudara.
Demikian isi surat wasiat, supaya dapat dilaksanakan sesuai apa yang telah di tetapkan.
Mira sangat terkejut, kenapa dia juga berhak atas harta om Amir.
__ADS_1
bersambung