Simpanan Lelaki Tua

Simpanan Lelaki Tua
kondisi om Amir memburuk


__ADS_3

Kondisi om Amir yang tiba-tiba drop membuatku semakin takut, maklum saja usia om Amir sekarang adalaa 58 tahun, di usianya dan banyak sekali penyakit yang ada di dalam badannya membuatnya semakin drop.


"Non Mira di panggil dokter, ucap pembantu om Amir"


Tuan Amir adalah anak tunggal jadi dia tak ada saudara yang di anggap sebagai saudara dan orang terdekat hanyalah Mira saja.


"Ia dok, bagaimana keadaan om Amir"


"Begini mba, kondisinya semakin drop, jadi kita akan membawa tuan Amir ini, ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut, bagaimana mba sekalu yang mewakili keluarganya setuju kan?"


"Ia dokter, lakukan yang terbaik untuk om Amir, saya tak mau terjadi apa-apa dengan beliau"


Mira terlihat sangat takut sekali dengan kondisi om Amir, dia takut kenapa-kenapa dengan beliau karna Mira melihat kondisinya pun semakin lemah, walau bagaimanapun tak bisa di pungkiri ada hal yang berbeda di hati Mira untuk om Amir, beliau laksana ayah baginya meskipun om Amir telah menjauhkannya pada anaknya, namun Mira tetap sayang pada om Amir.


"Baiklah kami siapkan ambulan dan non Mira silahkan ikut saya"


Mira langsung menoleh ke arah Adrian, bagaimana dengan Adrian jika dia ke rumah sakit, Mira langsung ingat dengan mbok Ijah, dia langsung menelfon mbok Ijah untuk segera ke rumah om Amir, dan di jempul oleh Rico.


Mira mengambil telfon genggamnya dan langsung menelfon mbok Ijah.


"Hallo mbok"

__ADS_1


"Ia non, ada apa?"


"Mbok, Ijah cepat cepat mbok bersiap-siap?"


"Emang ada apa non"


"Om Amir semakin kritis, dan Adrian tak ada yang menjaga, aku harus mengantar dan mendampingi om Amir ke rumah sakit"


"Ia non, mbok siap-siap"


Adrian berlari menghampiri om Amir.


"Ayah tidak apa-apa kan, ayah buka mata ayah bangun, kalau ayah begini Adrian jadi takut ayah, Adrian berteriak sambik menangis dengan kencang"


Mira melihat tangisan Adrian sangat sakit sekali hatinya. "Ya Tuhan, Adrian begitu sayang pada ayahnya, benar kata om Amir kalau aku jujur pada Adrian pasti dia akan sakit hati sekali melihat orang yang dia sayang dan dia percayai membohonginya, Mira bertekat tak akan pernah jujur pada Adrian karna tak ingin melukai ke percayaannya pada ayahnya"


Mobil ambulan pun berbunyi.


Uwing........ uwing....... uwing.


"Mari bu kita bawa tuan Amir ke rumah sakit, ucap dokter"

__ADS_1


Akhirnya tuan Amir di bawa ke rumah sakit, dan kebetulan juga Roni juga sudah tiba dengan mbok Ijah.


"Adrian sayang, di rumah ya sama mbok Ijah, kakak antar ayahnya Adrian dulu, Adrian doakan saja semoga ayah tidak apa-apa, Adrian anak yang baik dan sayang pada ayahkan, jadi di rumah jangan rewel sama mbok ijah ya"


Adrian tetap saja menangis, tapi dengan tenangnya Mira menenangkan Adrian dan kembali memuji Adrian.


"Anak gantengnya om Amir, jangan nangis ya, yakin kalau ayah tidak akan apa-apa"


Setelah Adrian tenang, mira bersama ambulan langsung menuju rumah sakit, Rico pun dengan setianya mendampingi Mira.


Sesampainya di rumah sakit, om Rico langsung di tangani oleh dokter secara intensif, Mira dengan perasaan yang tidak karuannya menunggu di luar.


Tak lama dokter keluar menemui Mira.


"Maaf mana keluarga dari pasien"


"Saya pak"


"Begini, tuan Amir harus ada tindakan oprasi karna ada komplikasi di ginjalnya, maka dari pada itu, kami harus minta persetujuan dari pihak keluarga"


"Apa dok"

__ADS_1


Mira sangat kaget mendengar berita itu.


bersambung


__ADS_2