
Namaku Zuhziha, ibu ku sering memanggilku dengan nama panggilan Ziha, Aku adalah anak dari seorang ibu yang tangguh, nama ibuku adalah Zahra, Aku dua bersaudara, adikku adalah seorang laki-laki yang periang umurnya 16 tahun dan sedang duduk di bangku SMA bernama Harun. Ziha adalah gadis tomboy yang suka memakai pakaian feminim, dan celana jens layaknya gadis masa kini seperti sekarang ini, ibu ku yang seorang tekun beribadah dan sering sekali dalam pengajian berbanding terbalik dengan Ziha yang suka mendengarkan music rok dan bergaul dengan anak laki-laki yang membuat ibu Ziha khawatir sekali dengan masa depan anaknya.
Sore itu pulang dari bermain dengan teman laki-lakinya Ziha di panggil ibunya.
“Nak sini ada yang mau ibu bicarakan”
“Mau bicara apa ibu Ziha mandi dulu ya bau sekali badan Ziha”
“Ya sudah mandi sana ibu tunggu disini”
Bu Zahra terlihat sangat khawatir dengan masa depan anaknya. Selesai mandi Ziha langsung kembali duduk bersama ibunya, meski Ziha anak yang tomboy dan di bilang nakal, tapi dia sangat hormat dengan ibunya karna dia sebatang ayahnya sudah meninggal sejakdia kecil jadi dia tidak mau menyakiti ibunya.
“ada apa bu, sepertinya ibu sangat gelisah”
“Begini sayang, usiamu sudah 20 tahun dan ibu sudah menjodohkanmu dengan anak ustad Harun yang bernama Muhammad, kamu pasti kenal dengan Muhammad dulu dia teman SMP mu, dan 3 mnggu lagi kalian akan menikah”
“Apa bu, ibu menjodohkan aku, ibu taukan aku belum kenal dekat dengan Muhammad, terakhir bertemu saat aku kelas 3 Smp, lagian apa dia mau denganku wanita tomboy ini bu, ibu jangan aneh-anehlah”
“Apa kamu mau jadi ank durhaka Ziha, apa kamu tak mau membahagiakan ibu mu ini, ibu yang sudah mengandungmu selama 9 bulan, ibu tak mau apa-apa hanya kamu menuruti perkataan ibu saja”
Ziha menundukkan kepalaya, seraya berfikir apakah dia akan menerima laki-laki yang belum ia kenal, dan apakah Ziha bisa betah dengan cara hidup Muhammad yang seorang anak ustad, sedangkan Ziha tidak suka cara pandang hidup mereka, namun Ziha tak mau menyakiti ibunya dengan menyetujui perkataan ibunya.
“Ibu aku akan menyetujuinya tapi dengan sarat Muhammad harus menemuiku dan keluarganya juga besok”
“Ia nak, pak Burhan juga sudah menyetujui perjodohan ini, pasti anaknya juga setuju menikahi kamu nak”
Bu Zahwa memeluk Ziha “ Semoga kamu bahagia selalu ya nak, ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, tak ada seorang ibu yang menginginkan keburukan untuk anaknya”
“Ia bu Ziha mengerti”
“Wah kakakku akhirnya mau menikah dengan ustad?”
__ADS_1
“Apa kamu bilang Harun, belum tentu anakustad itu mau menerima kakak”
“Sudahlah kak yakin saja 3 minggu lagi kakak akan menikah”
“Sudahlah jangan bahas ini, kakak pusing jadinya”
Ziha masuk ke dalam kamar, Di tempat lain pak Burhan yang seorang ustad ternama di daerahnya memanggil anaknya Muhammad.
“Muhammad sini, duduk sini sama abi”
“Ia abi ada apa”
“Begini nak, abi sudah menjodohkan dirimu dengan anak bu Zahra yang bernama Zuhziha kalau kamu setuju 3 minggu lagi kalian menikah”
“Abi tau kan Ziha tidak memakai jilbab dan juga Muhammad pernah melihat dia bermain dengan laki-laki dengan menggunakan baju yang feminim, apakah abi setuju punya menantu seperti itu”
“Nak sebelum ayahnya Ziha meninggal, kami sebenarnya berteman dekat, dan beliau berpesan kepada abi agar menjaga keluarganya agar tetap di jalan Allah, dan menjodohkan kalian, dan sekarang waktunya, Ziha sebenarnya gadis yang baik dan sangat berbakti kepada orang tuanya, tugasmu adalah menuntunnya kejalan Allah, bagaimana nak kamu setuju, kalu ia besok pagi kita kerumahnya untuk meminangnya”
“Ia abi, kalau itu sudah menjadi keputusan abi, Muhammad menyetujui”
“Ia abi”
Malam itu bu Zahra masuk ke kamar Ziha.
“nak bersiaplah untuk besok pagi, keluarga Muhammad besok akan datang langsung melamarmu”
Ziha kaget sekali, “Bukannya mereka harus melihatku dulu bu, menyukaiku atau tidak”
“Tidak anakku, mereka sudah yakin akan memenangmu jadi langsung melamarmu dan 3 minggu lagi kalian menikah”
Ziha sangat bingung sekali, seperti mimpi rasanya harus menikah dengan orang yang ia tidak kenal berbicara berdua pun tidak pernah.
__ADS_1
Ziha merebahkan dirinya di atas kasurnya. Membayangkan esok pagi dia di lamar dengan laki-laki yang wajahnya hanya samar-samar dia ketahui. “Tuhan apakah ini jalan terbaik untukku”
Pagi itu.
Keluarga pak Burhan datang ke rumah Ziha, hari itu juga Ziha sangat takut sekali apakah keputusannya untuk menikah dengan muhammad adalah tepat atau tidak, Ziha melihat Muhammad lewat jendela kamarnya, bagaimana sosok lelaki yang akan di nikahinya karna memang dia sudah lama tak melihat Muhammad sejak masa kelulusan itu.
Ziha sangat kaget sekali melihat sosok lelaki tinggi, besar berkulit putih dan begitu rapi, cara berjalannya saja sungguh sangat berwibawa sekali. “Apakah ini Muhammad orang yang akan di jodohkan dengan ku”
Begitu banyak tanda tanya yang ada di benaknya, apakah benar laki-laki ini yang akan menikah dengannya. Tak lama keluarga Burhan masuk ke dalam rumah, dan Ziha langsung di panggil untuk keluar dan di perkenankan untuk mereka saling bertemu dan berkenalan, Ziha yang ke luar belum memakai jilbab, membuat keluarga Muhammad kaget. “apakah benar ini wanita yang akan di nikahi dari keluarga ustad”.
Muhammad berbisik ke ayahnya. “Abi minta tolong Ziha untuk berjilbab dulu baru keluar”
Pak Burhan lalu bilang ke ibunya Ziha, agar anaknya berjilbab terlebih dahulu.
Ibunya Ziha menyuruh anaknya masuk dan berjilbab.
“Bu kenapa aku harus berjilbab?”
“Nak kamu akan menikah jadi kamu harus patuhi semua aturan mereka”
Sebenarnya berat sekali bagi Ziha untuk berjilbab, namun ia tak mau menyakiti ibunya, apalagi kalau ia tak mau menikah pasti ibunya akan sakit, Ziha pun keluar dengan memakai jilbab.
“Muhammad kenalkan ini Ziha dan kalian akan menikah 3 minggu lagi”
Muhammad memandang Ziha, sebenarnya Ziha mulai jatuh hati pada pandangan pertama itu, namun Ziha tak tau bahwa muhammad tidak muncintainya karna ia sudah mencintai anak ustad yang bernama aisyah, namun Muhammad juga tak bisa menolah pernikahan ini.
“Ziha, ucap muhammad. Jika kita menikah kamu harus mau menggunakan cadar dan menjadi istri penurut bagaimana kamu menyetujuinya atau tidak”
Ziha langsung memandang ibunya dan bingung sekali harus menjawab apa dari pertanyaan itu,
“Kenapa ziha apa kamu mau menerima sarat ku ini, aku menerimamu semuanya, tapi sebagai calon imammu aku hanya ingin kamu bercadar”
__ADS_1
Ziha menundukkan kepala karna bingung harus menjawab apa.
bersambung