
Kring …………….. kring, terdengar suara telfon Mira, Mira berlari menghampiri telfon genggamnya.
Mira melihat ada panggilan dari om Amir, dia sangat terkejut, kenapa om amir jam 05.00 pagi menelfon Mira.
Mira mengangkat telfon itu dengan penuh tanda tanya, apa yang terjadi sebenarnya.
“assalamualaikum, om amir. Ada apa pagi-pagi telfon Mira?”
“Begini Mira, aku lagi sakit dan harus di rawat, kamu bisa tidak ke rumah om, untuk menjaga Adrian, soalnya baby sister yang biasa mengasuhnya lagi sakit dan tidak bisa datang ke rumah”
Dengan tidak ragu-ragu, Mira menjawab.
“Ia om Mira akan ke rumah om amir sekarang juga”
Mira mematikan ponsel genggamnya dan langsung berlari ke bawah.
“Ada apa Mira, tanya mbok Ijah, kenapa kamu tergesa-gesa begitu”
“Ia mbok, tadi om Amir telfon, dia sakit dan harus di rawat, dan yang menjaga Adrian tidak ada jadi aku akan ke rumah om amir”
“Sakit apa non, om Amir”
“Saya juga belum tau mbok, makanya saya mau segera kesana”
“Non sebaiknya bilang dulu sama mas Rico, takutnya dia berprasangka tidak baik padamu”
“Ia mbok”
Mira langsung menelfon rico.
“hallo sayang”
“Ia sayang kenapa, pagi-pagi begini kamu menelfon aku sayang, apa kamu kangen sama mas, jadi pagi-pagi telfon mas heeeee”
__ADS_1
“aduh mas, pagi-pagi sudah becanda saja, aku menelfon mas buat izin”
“Izin apa sayang, seperti izin sekolah saja”
“Aku serius kali ini mas, jadi dengarkan ya, awas kalau bercanda”
“ia sayang maaf, kamu mau bilang apa?”
“Om Amir tadi menelfonku, dia menyuruh Mira untuk ke rumahnya, karna om Amir sakit dan yang menjaga Adrian tidak ada jadi aku harus membantu menjaganya, jadi boleh apa tidak sayang?”
“Oh itu, tentu bolehlah sayang, sekarang gantian mas yang izin?”
“Mau izin apa mas?”
“Bolehkah aku menemani calon istriku”
“Heeeeee, tentu boleh sekali sayangku, ayo cepat mandi dan jemput aku”
“Ia aku mandi dulu”
“Mas kenapa secepat itu, kamu datang kesini, jangan-jangan tidak mandi, tuh baunya kemana-mana mas”
“Calon istriku ini tau saja, kalau aku tidak mandi, jangan-jangan ngintip aku ya”
“Haaaaaaa, udahlah bercandanya, ayo kita berangkat”
Rico, menyudahi becandanya dan mereka mulai berangkat ke rumah om Amir, dalam perjalanan Rico kembali bercanda.
“Sayang nanti kalau kita menikah anaknya 12 belas ya”
“Apa 12 belas kayak mau buat pasukan sepak bola saja”
“Haaaaaa ia biar rame”
__ADS_1
Mira sangat bahagia sekali bersama Rico karna Rico senang sekali bercanda dan Rico sangat sabar dengan Mira.
Mereka tiba di rumah om amir, mereka di sambut oleh adrian.
Adrian berlari menyambut mereka.
“Kakak Mira!!!!!!!!!!, Adrian berlari sambil memeluk Mira”
“Ada apa adrian, kamu berlari seperti itu, nanti kamu jatuh sayang”
“Adrian kangen sama kakak, kakak sudah 1 minggu tidak main lagi kemari, apa kakak tidak kangen sama adrian?’
“Pasti sayang, siapa yang tidak kangen dengan anak tampan sepertimu, anak yang baik, pintar dan periang”
“Ah kakak bisa aja, ayo kakak Mira dan kak Rico masuk, ayah lagi sakit, dan Adrian tidak ada yang jagain”
“Ini kakak disini untuk jagain kamu sayang, ayah dimana sekarang?”
“Lagi di kamar, sama pak dokter”
Mira dan Rico pergi ke kamar, untuk melihat kondisi om Amir, dan benar saja om Amir lagi tak berdaya di dalam kamar dia terlihat sangat pucat sekali dan lemas dengan selang infus yang ada di tangannya.
“Masuk Mira, om Amir berkata”
“Ia om”
Dokter berkata pada Mira.
“Ini siapanya om Amir?’
“Saya saudaranya ucap Mira, om Amir sakit apa dokter?”
“Om Amir sakit diabet mba dan ada gangguan di jantungnya, jadi dia perlu istirahat yang banyak dan mba Mira harus menjaganya dengan baik, apalagi jaga pola makan om Amir dengan baik”
__ADS_1
bersambung