
Bab 33. Mengungkapkan kebenaran, Berukuran Jumbo.
Jono menggandeng tangan Jani menuju keparkiran untuk menuju ketempat mobilnya diparkir, dia melihat Udin masih setia untuk menjaga mobilnya disana.
Jono menghampiri Udin yang berdiri didekat mobilnya," Sore pak, masih rajin saja menjaga mobil saya," kata Jono setelah berada didepan Udin.
Meihat wajah berseri-seri Jono dan Jani, Udin mengetahui mereka baru pacaran setelah bermain di taman hiburan.
Udin berkata," iya tuan, karena sudah diberikan uang untuk bantuan membeli kasur, saya harus menjaga mobil anda sebaik-baiknya, wah tuan ada yang Jadian nih sepertinya,".
Mendengar kata dari Udin membuat wajah Jani memerah dan malu, dia hanya bisa bersembunyi dipelukan Jono.
Jono memeluk Jani," wah, bapak tau saja, saya mendapatkan cinta Jani, ini pak 500 juta untuk anak istri bapak, buat beli rokok juga, makasi ya pak karena menjaga mobil saya," Jono berkata dengan menyerahkan uang dari kantong celananya.
Udin kaget, bukan kaget karena dikasi uang, tapi kaget karena hal lain," itu kantong doraemon ya, bisa muat uang 500 juta disana," batin Udin kaget dan bertanya-tanya.
Biarpun Udin keheranan dia tetap menerima uang dari Jono," terima kasih tuan, semoga hubungan tuan dan nyonya langgeng sampai maut memisahkan, amin," Doa Udin dengan tulus untuk Jono.
Jono mengangguk," terima kasih pak atas doanya, saya permisi ya pak, pacar saya sudah lelah bermain seharian," Jono berpamitan dengan Udin.
Udin berkata," iya pak, hati-hati dijalan, terima kasih kembali atas rejekinya,".
__ADS_1
Jono melihat mobilnya, dan dia berteriak," Bim salabim abrakadabra, buka pintunya sayang," biarpun keadaan sepi Jono masih malu meneriakan kata itu.
Jono dan Jani memasi mobil, Jono menyuruh mobilnya untuk menjalankan pengemudian otomatis, saat mobil akan jalan sebuah ketukan terdengar dari jendela mobil, ternyata Udin mengetuk pintu mobil Jono.
Udin segera berkata," Tuan, karena tuan tidak jomblo akut lagi, ubah kebiasaan aneh tuan, kasian nyonya karena tuan meneriakan hal tersebut, ini demi kebaikan tuan sendiri," Udin menasehati Jono merubah kebiasaan anehnya.
Tanpa menjawab Jono langsung kabur bersama mobilnya," orang asu, sudah dikasi uang tutup mulut masih aja rahasia dibuka," batin Jono jengkel.
Jono malu, wajahnya memerah," mobil ini memang aneh, kalau ada kesempatan mungkin mobil ini akan dibakar oleh Jono," dasar Kira laknat", batin Jono kesal karena taruhannya dengan Kira.
Diperjalanan pulang Jani kembali khawatir," mas, nanti bagaimana kita memberitahu hubungan ini, aku tidak bisa berbohong kepada bapak sama ibu, aku tidak pernah berbohong kepada mereka mas," tangan Jani berkeringat dingin.
Jono memegang tangan Jani yang dingin," Jani tenang, kita hadapi bersama, bapak dan ibu pasti akan mengerti,".
Jani mengetuk pintu rumah dengan sangat pelan, setelah beberapa saat, pintu terbuka, Jani melihat ibunya membukakan pintu, muncul perasaan bersalah dihati Jani.
Segera Jani Jatuh berlutut dikaki ibunya," bu, Jani adalah anak durhaka, Bu, aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi ,aku Jatuh cinta kepada mas Jono, Jani tau ini adalah perasaan yang salah tapi Jani tidak bisa menghilangkan cinta ini, hukum Jani bu, tapi jangan pisahkan Jani dari mas Jono," Jani berlutut sambil mencium kaki ibunya.
Dahlia panik melihat Jani berlutut didepannya," sayang, kita bicarakan didalam bersama ayahmu, jangan begini sayang, ada yang ingin ibu katakan juga kepadamu," Dahlia membangunkan Jani dan memeluknya, dia membawa Jani kedalam diikuti oleh Jono dibelakang.
Jani melihat ayahnya," pak, maafkan Jani yang durhaka ini, Jani jatuh cinta kepada mas Jono, maafkan Jani pak," Jani merasa sangat bersalah saat melihat Joko.
__ADS_1
Dahlia memeluk Jani semakin erat," Sayang, ada rahasia yang selalu kami tutupi darimu, karena kami takut kamu akan membenci kami, sayang, kamu adalah anak angkat kami, maafkan kami telah menyembunyikan fakta ini darimu," Dahlia kemudian menceritakan bagaimana dia menemukan Jani dan mengadopsinya menjadi anaknya.
Dahlia kembali berkata," sayang, kami bersalah menyembunyikan fakta ini darimu, kami sangat sayang kepadamu, kami tidak ingin kamu meinggalkan kami, bencilah kami sayang tapi jangan tinggalkan kami," Dahlia semakin erat memeluk Jani, dia takut Jani akan pergi meninggalkan mereka.
Jani menggeleng," tidak bu, aku sangat menyayangi ibu dan bapak, aku tidak perduli siapa orang tua kandungku, mereka menelantarkanku, ibu dan bapaklah orang tuaku, yang mengasuhku dengan penuh kasih sayang, bagaimana aku bisa membenci kalian," Jani tidak perduli walau orang tua kandungnya ada, karena orang tuanya hanyalah Dahlia dan Joko.
Jani melihat Jono tidak terkejut mendengar semua yang didengarnya," Bu, pak, keapa mas Jono tidak terkejut mendengar semua ini, apa mas Jono sudah tau semuanya," Jono menatap orangtuanya.
Joko hanya tersenyum," Jono sudah tau Jani, dia hanya memenuhi permintaan kami, kami ingin memberitahu kamu kebenarannya dari kami, Jangan salahkan Jono," Joko mengatakan Jono sudah tau dia bukanlah saudara kandung Jani.
Jani berlari kepelukan Jono" huuua, Jahat, mas jahat kepada Jani, Jani takut mas, Jani takut kita akan dipisahkan karena cinta kita terlarang," Jani menangis dalam pelukan Jono.
Joko melihat Jono dan Jani berpelukan," Jono, ingat Janjimu untuk menjaga dan melindungi Jani, cintai dia dan nikahi dia saat waktunya sudah tepat, bapak tidak mau kau menyakiti Jani." Joko menasehati Jono untuk menepati janjinya.
Jono mengangguk tegas," Jono janji pak, Jono akan melakukakan semua yang bapak minta, Jono akan selalu membuat Jani bahagia," Jono dengan tegas berjanji.
Jono kembali berkata," pak, buk , jani, kita akan pindah sekarang kerumah baru kita, Jono sudah menyuruh orang menjemput kita, dia sudah berada diperjalan,bawalah barang penting saja, disana semua sudah disiapkan," Jono berkata untuk membawa yang penting saja karena dia melihat ibu dan bapaknya sedang membungkus panci dan kompor kedalam karung.
Bapaknya berkata dengan polos," nak, ini sangat penting untuk memasak, bagaimana kita makan kalau tidak memasak, buk, bungkus penggorengan dan cobeknya, bapak mau makan tempe sama sambal pete nanti," Joko begitu polos, padahal disana sudah ada alat memasak yang sudah canggih.
Melihat orang tuanya saat membungkus barangnya, Jono tidak bisa melarangnya, karena jika itu membuat orang tuanya bahagia, dia akan mendukungnya, Jono juga mengemas barang disana.
__ADS_1
Joko melihat Jono berkemas Juga menjadi bingung," nak kenapa kamu membungkus itu, itukan pakaian dalam Jani," Jono terkejut mendengar perkataan Joko bapaknya.
Jono seketika mengangkat apa yang dipegangnya, sebuah bh berukuran jumbo, seketika Darah mengalir Dari hidungnya." Ternyata benar, ukurannya Begitu besar", Jono Jatuh dengan senyum aneh diwajahnya.