
Di siang hari yang cukup panas ini Riana dan kedua temannya telah sampai di kelas setelah mengambil formulir pendaftaran ekskul di ruang guru.
Haaa
Reynold menghela nafas sambil duduk di kursinya.
"Kenapa kamu menghela nafas? Apakah ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?" Riana bertanya dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Cuaca hari ini sangat panas, seharusnya aku membeli minuman dingin untuk diminum di kelas saat kita makan di kantin tadi."
"Kamu bisa pergi ke kantin dan membelinya sekarang." Kharisma menjawab dengan ketus.
"Aku tidak mau, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."
"Kalau begitu berhentilah menggerutu!"
Reynold memonyongkan bibirnya kedepan sambil mengeluarkan pulpen dari dalam tempat pensilnya. Ia merasa sedikit kesal karena dimarahi oleh Kharisma, namun ia tidak berani melawan Kharisma karena wanita bermata biru itu sangat galak.
Hahaha..
Riana tertawa kecil karena melihat tingkah laku sahabat pria nya yang bertingkah kekanak-kanakan.
"Kamu ingin masuk ekskul apa?" Kharisma bertanya kepada Riana.
"Aku ingin masuk ekskul wartawan sekolah."
"Wartawan sekolah? Kenapa kamu memilih ekskul itu?"
Reynold menganggukkan kepalanya seolah-olah ia juga memiliki pertanyaan yang sama dengan Kharisma.
"Aku ingin berkeliling sekolah dan mencari teman sebanyak mungkin." Tersenyum manis.
Jawaban gadis itu membuat kedua temannya saling bertatapan mata dengan ekspresi wajah yang kebingungan.
"Hanya itu saja alasannya?"
"Apakah kamu tidak mempunyai alasan lain selain itu?"
Riana menjawab pertanyaan kedua temannya dengan menganggukkan kepalanya.
Haaaa
Kharisma menghela nafas dan Reynold menggaruk-garuk kepalanya karena keheranan dengan jawaban yang diberikan oleh gadis itu. Mereka berdua mengharapkan jawaban yang lebih bagus dari mulut Riana, namun mereka tidak mendapatkannya.
"Baiklah, kalau begitu aku dan Reynold juga akan masuk ekskul wartawan sekolah." Mengisi biodata dirinya di formulir pendaftaran.
"Mari kita masuk ke ekskul yang sama." Riana mengisi formulir pendaftaran dengan penuh semangat.
Ia tersenyum bahagia sekaligus merasa terharu karena melihat kedua temannya yang ikut ekskul wartawan sekolah agar bisa bersama dengan dirinya.
Teng.. teng.. teng..
Bel masuk istirahat pun berbunyi setelah mereka selesai mengisi formulir pendaftaran ekskul. Seluruh murid sekarang berhamburan memasuki ruang kelas lalu sibuk mengobrol dengan teman satu kelompoknya, semua murid mempunyai kelompoknya masing-masing. Biasanya mereka akan mencari kelompok yang berisikan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama dengan dirinya.
"Hmm.. hari ini cuacanya sangat panas ditambah suasana kelas yang berisik, benar-benar menyebalkan." Kharisma bergumam.
"Aku bisa membuat suasana kelas menjadi lebih tenang jika kamu mau." Pria bermata ungu itu mengedipkan sebelah matanya kepada Kharisma.
"Tidak perlu, kita sebisa mungkin jangan membuat keributan. Lagi pula Riana nampak tidak terganggu dengan suasana kelas seperti ini." Menoleh ke arah Riana yang sedang membersihkan papan tulis di depan kelas.
"Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu."
__ADS_1
Setelah membersihkan papan tulis, Riana kembali duduk di mejanya sambil menunggu guru masuk ke dalam kelas.
"Hei, apakah kamu tidak merasa terganggu dengan suasana kelas yang berisik seperti ini?" Tanya Kharisma kepada Riana.
"Tidak.. aku tidak merasa terganggu sama sekali."
"Lalu kenapa kamu terlihat ketakutan dengan suasana kelas yang berisik di hari pertama masuk sekolah?"
"Aku juga penasaran dengan hal itu." Reynold tiba-tiba menimbrung pembicaraan mereka berdua.
Hmm..
Gadis itu berpikir selama beberapa saat lalu menjawab pertanyaan kedua temannya.
"Itu karena di hari pertama aku belum terbiasa dengan suasana kelas yang gaduh dan berisik."
"Apakah sekarang kamu sudah merasa tidak takut lagi?"
Riana menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
"Kamu bisa beradaptasi secepat ini, sangat mengagumkan. Kamu juga sependapat denganku bukan?" Reynold melirik ke arah Kharisma.
"Iya, aku sependapat dengan kamu" Wanita bermata biru itu mengacungkan ibu jarinya kepada Riana.
Ia pun merasa malu karena telah dipuji oleh kedua temannya sehingga membuatnya sedikit salah tingkah, Reynold dan Kharisma hanya tersenyum melihat Riana yang menjadi salah tingkah. Tidak lama kemudian guru pun masuk ke dalam kelas dan pembelajaran kembali dimulai. Seluruh murid mengikuti pembelajaran dengan baik kecuali Risma, ia masih menundukkan kepalanya sambil melamun dengan tatapan mata yang kosong.
Namun tidak ada murid lain yang peduli kepadanya, hanya kedua temannya yaitu Anggi dan Ruthfi yang peduli kepadanya. Walaupun mereka peduli tetapi mereka tidak berani mendekati Risma karena takut dibentak dan dimarahi oleh nya.
Teng.. teng.. teng..
Tidak terasa waktu cepat berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima sore yang menandakan bahwa sudah waktunya pulang.
"Untuk apa kita pergi ke kelas 2-2, Kharisma?"
"Tentu saja untuk menyerahkan formulir pendaftaran ekskul. Ketua osis di sekolah ini kan kelas 2-2."
"Kalau begitu mari kita pergi dan berikan formulir ini lalu pulang ke rumah." Riana tersenyum sambil menarik tangan Kharisma yang menggandeng tangannya.
Mereka berlari meninggalkan Reynold yang masih memasukkan barang-barang miliknya kedalam tas.
"Hei, tunggu aku! Kenapa mereka berdua selalu meninggalkan ku." Menggerutu.
Setelah selesai memasukkan barang-barang miliknya, pria bermata ungu itu mengejar kedua teman wanitanya yang sudah pergi terlebih dulu ke ruang kelas 2-2, setelah sampai disana mereka segera mencari ketua osis.
tok tok tok
"Permisi, apakah kami boleh masuk?" Ucap Riana sambil mengetuk pintu ruang kelas
"Kamu tidak perlu melakukan itu karena murid-murid di kelas ini sudah pulang dan hanya menyisakan ketua osis saja."
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Karena aku mengirimkan pesan kepadanya untuk menunggu di kelas setelah pulang sekolah."
"Kamu mempunyai nomor handphone ketua osis? Bagaimana bi.."
"Hei, kenapa kalian selalu pergi meninggalkan ku?" Reynold memotong perkataan Riana, ia berlari ke arah kedua teman wanitanya yang sedang mengobrol di depan pintu kelas 2-2.
Hosh.. hosh…
Pria bermata ungu itu sedikit terengah-engah karena berlari mengejar Riana dan Kharisma.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak berlari." Kharisma berbicara dengan ketus.
"Memangnya karena siapa aku berlari seperti ini?"
"Tentu saja karena dirimu sendiri, kamu sangat lamban dalam bebenah."
"Kamu benar-benar wanita yang menyebalkan, Kharisma."
Klekk….
Suara pintu kelas dibuka dan terlihat sosok seorang pria dan wanita. Pria tersebut sangat tampan dengan gaya rambut belah tengah dan wanita cantik yang berada di sampingnya memiliki rambut kepang.
"Wah.. wah.. coba lihat siapa yang membuat keributan di depan kelas orang lain." Ucap pria berkacamata itu sambil tersenyum.
Kharisma dan Reynold menatapnya dengan ekspresi wajah yang datar.
"Seperti yang kubilang kepadamu lewat chat, kami ingin mengumpulkan formulir pendaftaran ekskul."
"Kamu wanita yang tidak suka basa basi ya? Hahaha." Mencoba mengajak Kharisma untuk bercanda dan tertawa sendiri.
Wanita bermata biru itu tidak menggubris candaan tersebut, ia menatap ketua osis dengan tatapan yang sangat datar. Suasana menjadi hening seketika, Menyadari bahwa candaannya tidak digubris ia segera berpura-pura batuk.
Ehem.. ehem..
"Baiklah kalian bisa mengumpulkan formulirnya kepada Diana." Menunjuk seorang wanita berambut kepang yang berada di sampingnya.
Mereka pun segera memberikan formulir pendaftaran ekskulnya kepada wanita yang bernama Diana tersebut.
"Apakah gadis cantik ini adalah wanita yang bernama Riana?" Mengusap dagunya dengan jari telunjuk sambil memasang ekspresi wajah yang serius.
"Iya, namaku adalah Riana Rosalina, Kakak ketua osis bisa memanggilku Riana." Tersenyum.
"Heehhh.. kamu gadis yang sangat baik dan ramah, tidak seperti seseorang." Menoleh ke arah Kharisma.
Karena merasa tersendir, Kharisma membalas dengan cara memelototi ketua Osis.
Hahaha…
Ketua osis pura-pura tertawa dan kembali menoleh ke arah gadis itu.
"Namaku adalah Ryan Dernand, kamu bisa memanggilku Ryan. Lalu disampingku ini adalah Diana Amelia, dia adalah wakil ketua osis."
"Salam kenal." Wanita itu mengajak Riana untuk bersalaman.
"Salam kenal juga, Kak Diana sangat cantik."
"Kamu lebih cantik dariku."
"Itu benar, kamu gadis paling cantik yang pernah aku kenal." Ketua osis ikut memuji Riana.
Riana tersipu malu karena dipuji oleh Kakak kelas yang baru ia kenal.
"Apakah kenalannya sudah selesai?" Tanya Kharisma dengan wajah yang datar.
Riana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu mari kita pulang karena sekarang sudah pukul setengah enam sore. Aku ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat." Menggandeng tangan gadis itu lalu menariknya.
"Baiklah, mari kita pulang. Sampai bertemu lagi Kak Ryan dan Kak Diana." Riana berjalan menjauh sambil melambaikan tangan.
Ketua osis dan wakilnya melambaikan tangan juga kepada gadis itu sambil tersenyum, akhirnya Riana dan kedua temannya pergi menuju mobil dan pulang ke rumahnya masing-masing.
__ADS_1