Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Permintaan Maaf 2


__ADS_3

Di cafe Rimlove, pukul 10 malam.


Risma masih menunggu dengan sabar meski sudah lewat dari waktu yang telah dijanjikan.


"Kenapa dia belum datang juga? Sekarang sudah lewat 1 jam dari waktu yang sudah dia katakan di surat. Apakah dia berbohong?"


Rismu mulai merasa Ragu dengan isi surat yang ia terima, namun ia tetap memutuskan untuk percaya karena jika isi surat itu benar maka ia bisa menyelamatkan bisnis keluarganya.


Drap.. drap..


Suara langkah kaki orang menaiki tangga dan jumlahnya lebih dari 1 orang. Risma dengan sigap berdiri dari kursinya dan menatap ke arah tangga dengan wajah yang terlihat tegang.


Tidak lama kemudian muncul seorang pria tampan berambut pirang yang didampingi oleh dua orang pria. Satu pria tersebut terlihat seperti keturunan tionghoa dan yang satunya lagi berbadan besar serta terlihat seperti keturunan orang arab, Umur mereka berdua terlihat seperti sekitaran 30 tahun.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama."


"Ti.. tidak masalah, yang terpenting anda sudah datang sekarang."


Srett


Pria berambut pirang tersebut duduk di meja lalu menatap tajam ke arah Risma.


"Sedang apa kau? Duduklah!"


"Ba.. baik." Risma pun duduk di kursinya dengan tubuh yang gemetar ketakutan dan berkeringat dingin.


"Aku akan langsung mengatakan intinya saja. Sebenarnya aku ingin menghancurkanmu karena kamu sudah berani menyentuh milikku."


"Menyentuh milik anda? Apa yang anda maksud." Berbicara dengan sangat sopan.


Smirk


Pria berambut pirang itu menatap Risma selama beberapa saat lalu tersenyum tipis, senyumannya terlihat sangat menyeramkan sehingga membuat bulu kuduk Risma berdiri.


"Riana Rosalina, dia adalah malaikat kecilku. Aku akan menyingkirkan semua orang yang berani mengganggunya dan kamu salah satu dari orang tersebut."


"Ta.. tapi kenapa anda melindungi Riana? Memangnya anda memiliki hubungan apa dengannya?" Bertanya dengan wajah yang pucat karena takut.


"Dia adalah mempelai wanitaku." Berbicara dengan wajah yang sangat gembira.


Haaa


Pria keturunan tionghoa yang datang bersamanya menghela nafas sambil menepuk jidatnya.


"Tuan muda, anda tidak boleh mengatakan itu kepada orang asing. Bisa saja dia akan membahayakan nona muda nanti." Melirik tajam ke arah Risma.


"Astaga… aku rasa aku baru saja melakukan kesalahan. Kamu tenang saja, bukankah sudah ku bilang aku akan menghancurkan siapapun yang berani menyentuh milikku."


Risma semakin ketakutan, wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari sebelumnya karena pria berambut pirang tersebut terlihat jauh lebih menyeramkan dari yang ia pikirkan.

__ADS_1


"Tadinya aku ingin membuatmu menjadi gelandangan di pinggir jalan, tetapi Kharisma memberitahuku jika malaikat kecilku merasa kasihan dan ingin memaafkanmu, karena itu aku juga akan memaafkanmu, tetapi dengan satu syarat."


Risma tersentak dan tiba-tiba menjadi antusias karena jika ia dimaafkan maka bisnis keluarganya akan selamat dan ia tidak perlu pindah sekolah.


"A.. apa syaratnya? Saya akan menjalankannya apapun itu."


"Syaratnya adalah meminta maaf sambil bersujud kepada malaikat kecilku."


"Apakah tidak ada cara lain?"


"Tidak ada, hanya itu pilihanmu."


Risma terpaku selama beberapa saat sambil menggigit bibir bagian bawahnya, ia tidak ingin melakukan itu karena harga dirinya bisa jatuh. Akan tetapi jika ia tidak melakukannya maka bisnis keluarganya akan hancur dan ia juga akan pindah sekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolah.


Setelah memikirkannya dengan matang, ia memutuskan untuk menerima syarat yang diberikan oleh pria berambut pirang.


"Baiklah… aku menerimanya."


"Bagus! Kalau begitu lakukanlah besok, jika tidak maka aku akan menganggap kamu mengingkari syarat. Kamu tahukan apa yang akan kulakukan selanjutnya jika syaratnya batal?" Pria berambut pirang  menatap Risma dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


Risma hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena amat teramat takut, seluruh tubuhnya bergetar dan keluar keringat.


Hmmm


"Satu lagi, rahasiakan pertemuan kita dari orang lain terutama dari malaikat kecilku. Apakah kamu paham?"


"Ba.. baik, sa.. saya mengerti."


Pria berambut pirang tersebut berdiri dari kursinya lalu berjalan pergi bersama 2 pria yang datang dengannya dan meninggalkan Risma yang masih merasakan ketakutan yang luar biasa sendirian.


Beberapa saat setelah kepergiannya Risma pun pulang ke rumahnya dan bersiap-siap untuk meminta maaf pada Riana esok hari.


Keesokan harinya di sekolah Harapan Jaya, pukul 6.45 pagi.


"Saat istirahat nanti kita beli jajanan apa, ya?" Ucap Reynold sambil membuka pintu kelas.


"Astaga! Jam istirahatnya masih lama, tetapi kamu sudah memikirkan beli jajanan? Dasar pria rakus." Kharisma menjawab dengan ketus.


"Aku tidak rakus, hanya porsi makanku saja yang banyak. Kamu tahu kan? Makan banyak merupakan hal yang wajar bagi seorang pria."


Di tengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba Risma dan kedua sahabatnya  menghampiri mereka dengan wajah yang terlihat ragu.


Riana, Reynold, dan Kharisma berhenti berjalan dan melihatnya dengan wajah yang keheranan.


Bruk


Risma bersujud secara tiba-tiba sehingga menarik perhatian seluruh murid di kelasnya.


"Aku minta maaf! Atas seluruh tindakan yang aku lakukan kepadamu. Aku sungguh menyesal dan tidak akan pernah mengulanginya." Berbicara dengan nada suara yang sangat lantang.

__ADS_1


Seluruh murid di kelas pun saling berbisik-bisik antara satu sama lain, walaupun saling berbisik akan tetapi suara mereka masih tetap terdengar.


"Kenapa dia seperti itu?"


"Aku juga tidak tahu, dia aneh sekali."


"Apakah dia telah berubah menjadi orang baik?"


"Entahlah, yang jelas dia cukup mencurigakan."


"Bukankah bagus jika dia berubah? Mungkin suasana kelas akan lebih tenang jika dia berubah."


Semua murid memiliki pendapatnya masing-masing, ada yang memberikan pendapat yang positif dan ada juga yang memberikan pendapat negatif. Namun Risma tidak memperdulikannya karena ini adalah cara yang dapat ia lakukan untuk melindungi bisnis keluarganya.


"Apa yang kamu lakukan? Cepat bangun! Kamu tidak perlu bersujud seperti ini kepadaku untuk meminta maaf."


"Tidak! Aku akan tetap seperti ini sampai kamu memaafkan aku."


"Anggi, Ruthfi, cepat bantu aku mengangkat Risma!" Ucap Riana sambil melirik ke arah kedua teman baiknya Risma. Namun mereka tidak mendengar ucapannya karena Risma memerintahkan mereka berdua untuk tidak ikut campur.


Riana merasa sangat kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi, ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Risma melakukan hal itu padahal harga dirinya bisa terluka. Sepengetahuannya Risma adalah wanita yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya, rasanya hampir mustahil melihatnya bersujud sambil meminta maaf.


Seluruh murid kembali berbisik-bisik antara satu sama lain.


"Aku rasa dia sudah tidak mementingkan harga dirinya lagi."


"Yah… lagi pula bisnis keluarganya sudah hancur bukan? Sekarang dia tidak memiliki kekuasaan apapun di kelas ini."


"Hahaha… kamu benar, sebentar lagi dia akan pindah sekolah karena telah jatuh miskin.."


"Astaga… kasihan sekali, mungkinkah dia meminta maaf untuk berpamitan?"


"Hahaha… bisa jadi, tapi bukankah bagus jika dia pindah sekolah? Kelas kita kan jadi lebih tenang tanpa kehadirannya."


Karena tidak ingin membuat harga diri Risma lebih hancur dari ini, Riana pun akhirnya memutuskan untuk memaafkannya.


"Baiklah, aku memaafkan kamu. Jadi berdirilah sekarang juga!"


"Be.. benarkah? Kamu tidak bohong bukan?"


"Iya! Aku tidak berbohong. Aku sudah memaafkanmu, jadi kamu bisa berdiri sekarang."


Sret..


Risma pun berdiri dari dengan wajah yang sangat ceria, ia merasa sangat bahagia karena bisa menyelamatkan bisnis keluarganya yang akan hancur. Ia menggenggam tangan Riana sambil berterima kasih karena sudah berbesar hati untuk memaafkannya.


"Terima kasih…. Aku benar-benar berterima kasih. Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu ini."


"Kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku! Aku memaafkanmu karena setiap manusia pasti memiliki sebuah kesalahan, jadikan lah masa lalu sebagai pelajaran dan mulailah berbuat baik kepada orang lain." Ucap Riana sambil membalas genggaman tangan Risma.

__ADS_1


Mereka berdua saling bertatapan mata lalu tersenyum, begitu juga dengan Reynold, Kharisma, Anggi dan Ruthfi. Mereka juga ikut tersenyum bahagia karena akhirnya Riana dan Risma bisa saling memaafkan antara satu sama lain.


__ADS_2