Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Kembalinya Pria Berhoodie


__ADS_3

Di malam yang dingin, Riana sedang melakukan kerja sambilan di sebuah minimarket.


Kring…


Suara lonceng yang dipasang di pintu berbunyi.


"Terimakasih sudah berkunjung." Ucap Riana kepada pembeli yang baru saja keluar dari minimarket.


Seperti biasa, hari ini pembeli yang datang berkunjung sangat banyak sehingga membuat gadis itu sedikit kewalahan, namun ia merasa sangat senang karena biasanya jika banyak pembeli yang datang pemilik minimarket tersebut yaitu Pak Firman biasanya akan memberikan bonus di gajinya.


Entah mengapa minimarket menjadi sangat ramai pembelinya semenjak kejadian menyeramkan yang melibatkan dirinya dengan pria berhoodie dan juga dua pria pemabuk saat ia dalam perjalanan menuju rumah sesudah kerja sambilan.


"Selagi pembeli belum kembali berdatangan aku harus menaruh beberapa kardus stok barang yang sudah hampir habis." Berjalan menuju gudang penyimpanan dan membawa 3 kardus stok barang.


Ia sedikit kesusahan dalam membawa kardus-kardus tersebut karena ukurannya yang cukup besar dan juga berat. Melihat hal tersebut 4 pria berbadan kekar yang selalu mengunjungi minimarket setiap hari dan nongkrong di meja khusus pelanggan segera berbisik-bisik antara satu sama lain.


"Hei, bagaimana ini? Apakah kita perlu membantunya?"


"Tidak perlu! Tugas kita hanya mengawasi dan memastikan keamanannya saja."


"Tapi nona muda sedang kesusahan! Aku rasa kardus yang dibawanya cukup berat."


"Ya sudah, tapi yang membantunya cukup 1 orang saja."


Setelah itu 1 orang dari 4 pria berbadan kekar tersebut segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Riana.


"Permisi, sepertinya anda sedang kesulitan. Apakah perlu kami bantu?"


"Tidak perlu, saya bisa mengerjakannya sendiri karena ini memang sudah jadi tugas saya." Ucap Riana dengan ramah.


"Tapi nona, kardus yang sedang anda bawa terlihat sangat berat untuk seorang wanita."


"Sudah kubilang aku tidak apa-apa, terimakasih atas tawarannya." Riana berjalan melewati pria berbadan kekar tersebut sambil membawa 3 kardus yang ditumpuk.


Pada akhirnya pria berbadan kekar tersebut memutuskan untuk kembali ke meja khusus pembeli dan kembali mengobrol dengan temannya yang lain.


"Wkwkwk, sudah kubilang tidak perlu membantunya."


"Nona muda memang orang yang sangat tangguh. Dia bahkan menolak bantuanku dan tetap menjalani tugasnya dengan baik."


"Benar, terkadang aku juga merasa tersanjung padanya."


"Nona muda memang yang terbaik."

__ADS_1


Kring..


Lonceng bel masuk berbunyi di sela-sela obrolan mereka berempat, rupanya ada beberapa pembeli yang datang berkunjung.


"Selamat datang." Ucap Riana dengan ramah kepada pembeli dengan posisi masih mengangkat 3 kardus yang berat.


Totalnya ada sekitar 8 pembeli yang datang secara bersamaan dan alangkah terkejutnya 4 pria berbadan kekar ketika melihat pelanggan yang terakhir masuk ke dalam minimarket.


Ternyata pembeli yang terakhir masuk ke minimarket adalah pria berhoodie. Ke 4 pria berbadan kekar tersebut segera berbisik-bisik antara satu sama lain.


"Ke.. kenapa tuan muda datang ke sini? Bukankah beliau menyuruh kita ke minimarket setiap malam karena beliau tidak ingin datang kesini?"


"Aku juga tidak tahu, tapi lebih baik kita lebih menjaga sikap."


"Benar, kita jangan sampai membuat tuan muda marah."


Mereka berempat menganggukkan kepalanya seolah-olah setuju dengan perkataan yang baru saja dikatakan oleh salah seorang dari mereka. Setelah itu mereka kembali melirik ke arah pria berhoodie yang merupakan tuan mereka.


Brak…


Terdengar suara benda jatuh sehingga membuat pria berhoodie melihat ke arah sumber suara tersebut. Rupanya suara tersebut berasal dari Riana yang menjatuhkan satu kardus yang ia bawa.


Pria berhoodie pun segera berlari ke arahnya dan membantu mengambil kardus yang jatuh.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya pria berhoodie.


Ukhhh


Pria berhoodie tersebut seketika menjadi gugup dan salah tingkah. Wajahnya seketika memerah setelah melihat senyuman wanita yang ia sukai, tapi untung saja ia mengenakan masker hitam sehingga Riana tidak melihat wajahnya yang memerah.


"Aku ingin sekali mengucapkan terimakasih karena sudah menolongku saat diganggu oleh dua pria pemabuk."


"I.. itu bukan hal yang besar, kamu tidak perlu berterimakasih." Ucap pria berhoodie sambil memalingkan wajahnya karena tidak berani menatap lebih lama wanita yang disukainya.


"Tetap saja aku harus berterimakasih, karena itu aku akan mentraktirmu mie instan yang sering kamu beli saat mengunjungi minimarket." Ucap Riana bersemangat.


Pria berhoodie tersebut ingin menolaknya akan tetapi ia tidak enak hati mematahkan semangat Riana sehingga ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu berikan kardus yang anda pungut dan tunggu mie instan yang akan saya buatkan di meja khusus pembeli!" Ucap Riana.


"Tidak, aku akan membantumu membawa kardus-kardus ini." Menolak dengan tegas.


"Kamu tidak perlu repot-repot, ini memang sudah menjadi tugasku."

__ADS_1


"Aku akan tetap membantumu walau kamu menolaknya, aku tidak bisa membiarkan wanita yang sedang kesusahan. Jadi sekarang berikan juga 2 kardus yang kamu bawa juga! Biar aku bawakan semuanya." Pria berhoodie mengambil paksa 2 kardus yang masih dibawa oleh gadis itu.


Haaa…


Riana menghela nafas sambil tersenyum kecil, karena melihat kegigihan pria berhoodie membuatnya tidak bisa menolak bantuan tersebut.


Mereka berdua pun berjalan menuju rak gondola dan mengisinya bagian yang kosong dengan stok yang ada di dalam kardus. Melihat hal tersebut, ke 4 pria berbadan kekar yang menyaksikan dari meja pembeli segera berbisik-bisik.


"Astaga! Aku tidak menyangka tuan muda kita bisa seromantis itu."


"Benar, sikap tuan muda jadi berubah 180⁰ saat bersama nona muda."


"Sudah kuduga cinta adalah sihir yang luar biasa."


"Aku pikir adegan seperti ini hanya ada di novel dan TV saja, tapi ternyata ada juga di dunia nyata. Terlebih aku melihatnya langsung dengan kedua mataku sendiri."


Mereka ber 4 terus berbisik membicarakan adegan romantis yang baru saja mereka lihat.


Disisi lain, Riana dan Pria berhoodie telah selesai mengisi rak gondola. Ia segera kembali menuju kasir dan melayani pembeli yang ingin membayar barang yang mereka beli sedangkan pria berhoodie berjalan menghampiri 4 pria berbadan kekar yang duduk di meja pembeli.


"Sebaiknya kalian memberikanku alasan yang bagus." Ucap pria berhoodie sambil duduk di kursi.


"A… alasan apa yang anda maksud?"


"Tentu saja alasan kalian tidak membantu malaikat kecilku mengangkat kardus seberat itu." Menatap dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


Seketika ke 4 pria tersebut gemetar ketakutan.


"Se.. sebenarnya salah seorang dari kami hendak membantu tetapi nona muda menolak bantuannya." Ucap salah seorang pria berbadan kekar.


Hmmm


Pria berhoodie masih menatap mereka dengan wajah yang terlihat curiga.


"Kami tidak bohong."


"Benar! Anda bisa tanya sendiri pada nona muda."


Haaa..


Menghela napas dan tidak menatap 4 pria tersebut dengan tatapan curiga.


"Baiklah, aku percaya. Sebentar lagi malaikat kecilku akan datang, jadi jangan terlihat sok dekat denganku!"

__ADS_1


Pria berhoodie segera pindah ke tempat duduk yang agak jauh, ia tidak ingin terlihat dekat dengan 4 pria berbadan kekar karena akan merepotkan jika Riana tahu jika mereka saling mengenal.


Selagi menunggu Riana yang masih melayani pelanggan di meja kasir, pria berhoodie memainkan handphonenya sambil meminum kopi yang ia seduh sendiri menggunakan air panas yang memang sudah disediakan untuk pembeli yang datang.


__ADS_2