
Bruakkk….
Suara kursi dari besi dilempar ke tembok, rupanya orang yang melempar kursi itu adalah Rudi Arkanta si pemimpin berandal kelompok Black Bull yang sedang mengamuk.
"Sialan… berani-beraninya dua bocah katrok itu membuat gua malu."
"Sa.. sabar, Bos! Kita harus befikir tenang."
Sreettt…
Ia menarik kerah baju temannya yang mencoba untuk menenangkan dirinya kemudian mendekatkan wajahnya.
"Lu suruh gua tenang? nama baik gua sedang tercemar gara-gara dua murid brengs*k dari kelas satu dan lu nyuruh gua tenang?"
"Saya menyuruh anda untuk tenang agar bisa memikirkan cara balas dendam, tuan." Ucap temannya sambil gemetar ketakutan.
Hahahaha..
Rudi tertawa dengan sangat keras lalu melepaskan tangannya yang menarik kerah baju temannya.
"Lu benar, gua harus menenangkan diri agar bisa memikirkan cara balas dendam. Tapi bagaimana ya? Apakah kalian memiliki ide?" Rudi bertanya kepada seluruh anggota kelompoknya yang ada di tempat tersebut.
"Bagaimana jika kita memukulinya di depan murid-murid lain sampai babak belur." Ucap salah seorang anggotanya.
Swiiingg… duakkkk….
Rudi si pemimpin kelompok melempar sebuah batu dan mengenai kepala orang yang mengusulkan ide itu hingga membuat kepalanya benjol.
"Bod*h, jika gua melakukan itu lalu dibuat berita lagi yang ada nama baik gua semakin hancur."
"Anu.. tuan Rudi. Bagaimana jika kita menculiknya dan memukulinya habis-habisan di markas." Ucap seorang anggota lain.
Rudi pun tersenyum jahat, ia merasa ide itu sangat bagus dan cocok untuk dilakukan sebagai bentuk balas dendam.
"Ide yang bagus, lu anak buah gua yang paling pintar. Baiklah, kita akan melakukan aksi penculikan besok sore disaat mereka berdua pulang sekolah, hahahaha…."
Suara ketawa Rudi membuat seluruh bulu kuduk anggotanya berdiri, suara itu dipenuhi dengan aura kejahatan yang kental.
Keesokan harinya pun tiba.
Pada jam istirahat Yongi yang berasal dari kelas 1-5 pergi ke kelas 1-1 untuk menemui Nami dan Rofik.
Ia masuk kedalam kelas dan memperhatikan seluruh murid yang ada di kelas itu satu per satu.
"Bu.. bukankah kamu adalah Yongi salah satu pemimpin kelompok TPOM (The Power Of Money)? A.. ada perlu apa kamu datang ke kelas kami?" Ketua kelas 1-1 bertanya dengan sedikit ketakutan karena ia tahu bahwa Yongi murid yang cukup berbahaya.
__ADS_1
Yongi menatap pria itu sambil membuka bungkus permen karet.
"Aku mencari dua anak yang membuat satu sekolah menjadi gaduh kemarin." Mengunyah permen karet yang baru saja ia buka.
Murid-murid di kelas itu saling berbisik-bisik antara satu sama lain.
"Apakah dia datang ke sini untuk balas dendam?"
"Aku rasa bukan, dia kan dari kelompoK TPOM sedangkan Nami dan Rofik membuat masalah dengan kelompok Black Bull."
"Benar juga ya? Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu?"
"Omong-omong bukankah dia sangat tampan untuk ukuran seorang berandal sekolah?"
"Kamu ada benarnya juga sih, dia memang tampan. Aku rasa banyak wanita yang menyukainya."
Selagi murid murid lain saling berbisik, Nami dan Rofik gemetar dengan hebat karena ketakutan yang luar biasa.
"Na.. nami… bukankah kita mencari masalah dengan kelompok Black bull? Ke.. kenapa yang datang mencari kita adalah kelompok TPOM? Apakah dia datang untuk balas dendam karena pemimpin kelompok Black Bull adalah teman baiknya?" Ucap Rofik.
"A… aku juga tidak tahu pastinya, tapi yang jelas kita dalam masalah besar. Aku dengar kelompok TPOM adalah kelompok yang paling kuat di sekolah ini." Jawab Nami.
Setelah mendengar perkataan Yongi, ketua kelas mengetahui siapa orang yang dicari olehnya.
Ia menatap murid yang masih ada di dalam kelas satu per satu hingga ia menemukan tempat Nami dan Rofik berada.
Yongi pun menoleh ke arah mereka dan mulai berjalan menghampirinya. Tubuh mereka berdua semakin bergetar ketika pria penyuka permen itu berjalan menghampiri.
Hmmm…
Setelah sampai di hadapan mereka, Yongi memperhatikan seluruh penampilan mereka berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan teliti.
"Penampilan katrok, daya tahan fisik lemah, dan wajah orang-orang pecundang. Tapi berbeda dengan penampilan ternyata kalian cukup berani ya?"
…..
Mereka berdua diam seribu bahasa. Sosok Yongi dihadapan mereka sangatlah menyeramkan, bahkan lebih menyeramkan dari ketua kelompok Black Bull yang melakukan Bullying kepada mereka.
"Heh.. Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian tidak bisa bicara?" Bentak Yongi.
"Ka.. kami benar-benar minta maaf, kami tidak bermaksud mencemarkan nama baik seseorang."
"Na.. nami benar, kami tidak bermaksud seperti itu. Jadi tolong jangan sakiti kami!"
Nami dan Rofik membungkukkan badan untuk meminta maaf dengan tubuh yang masih bergetar.
__ADS_1
"Bukan hanya penampilan yang katrok tetapi kalian bod*h, ya? Aku berasal dari kelompok TPOM sedangkan kalian mencari masalah dengan kelompok Black Bull. Jadi untuk apa aku menyakiti kalian?" Yongi memiringkan kepalanya dengan wajah kebingungan.
"Ka.. kami pikir kamu ingin membalas dendam karena pemimpin kelompok Black Bull adalah temanmu." Ucap Rofik sambil memejamkan mata dengan keringat yang bercucuran.
Hahaha…
Yongi tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan pria berbadan gemuk itu sambil duduk di kursi yang berada di dekatnya.
"Ternyata kalian berdua cukup lucu juga, ya? Aku benar-benar sangat terhibur."
Mendengar perkataan Yongi, Nami dan Rofik saling bertatapan mata dan mereka terlihat lebih kebingungan dari sebelumnya.
Srettt… plakk…
Yongi melemparkan dua kotak kecil berwarna hitam dan memiliki logo berbentuk kepalan tangan berlatar belakang selembar uang.
"A.. apa ini? Apakah ini sejenis makanan?" Tanya Rofik.
"Tentu saja bukan, dasar bod*h! Kalian tidak perlu tahu itu benda apa, yang jelas kalian harus membawanya." Yongi menjawab.
Kedua pria katrok itu memperhatikan sekeliling kotak kecil seukuran permen yang diberikan kepada mereka.
Benda itu terbuat dari besi tanpa ada kegunaan apapun sehingga seperti kotak biasa yang berlogo.
"Kenapa kami harus membawa benda ini? Apakah ada alasan khusus?"
"Iya, kenapa juga kami harus membawa benda yang tidak bisa dimakan ini?"
Yongi menatap tajam ke arah mereka sambil memakan permen. Tatapannya membuat kedua pria itu kembali gemetar ketakutan.
"Aku tidak akan memaksa jika memang itu mau kalian, yang pasti kalian akan mat* jika tidak membawa kotak itu." Yongi mengancam dengan nada suara yang sangat menyeramkan.
"Ba… baik, kami akan membawanya. Benarkan, Nami?"
Pria berkacamata bulat itu menjawab pertanyaan temannya dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Baiklah, aku akan pergi karena tugasku sudah selesai. Sampai nanti dua anak ayam." Yongi melambaikan tangannya sambil berjalan meninggalkan kelas 1-1.
Setelah kepergiannya suasana kelas menjadi lebih damai dan tentram. Murid-murid di kelas juga berhenti saling berbisik-bisik.
Nami dan Rofik masih terpaku sambil memperhatikan kotak yang diberikan kepada mereka.
"Kira-kira kenapa dia memberikan kotak ini kepada kita ya?" Tanya Rofik.
"Aku juga tidak tahu, tetapi kita turuti saja kemauannya." Membenarkan posisi kacamata bulatnya.
__ADS_1
"Banar, kita turuti saja agar tidak dapat masalah dengan kelompok TPOM. Riwayat hidup kita benar-benar akan tamat jika mencari masalah dengan kelompok paling kuat di sekolah ini."
Mereka pun memasukkan kotak kecil seukuran permen kedalam tas miliknya masing-masing dengan perasaan sedikit was-was karena benda itu adalah pemberian dari Yongi.