
Minimarket pukul 1 malam.
Srukkk
Suara Riana menuangkan air panas ke dalam mangkuk mie instan lalu memasukkan beberapa bumbu.
"Sudah jadi, walaupun tidak seberapa tapi kuharap ini bisa menunjukkan niat baikku kepadanya." Tersenyum gembira.
Setelah itu ia membawa mie tersebut menuju meja tempat duduk pria berhoodie.
"Maaf, kamu sudah menunggu lama, ya?" Ucap Riana sambil menaruh mie yang ia bawa di meja.
"Tidak masalah, terimakasih sudah membuatkanku semangkuk mie." Pria berhoodie berbicara dengan mata yang menatap ke arah lain, ia masih belum terbiasa bertatapan mata dengan gadis yang disukainya.
"Mie ini adalah bentuk rasa terima kasih karena sudah membantuku saat diganggu oleh dua pria pemabuk."
"Itu bukan hal yang besar, lagipula aku hanya sedang kebetulan berada disana." Masih berbicara dengan menatap ke arah lain.
Riana seketika menjadi sedikit bingung karena pria berhoodie terlihat menghindari tatapan matanya. Namun seperti biasa, ia tidak ingin berpikir yang aneh-aneh kepada pria yang sudah membantunya.
"Baiklah, kalau begitu silahkan dinikmati!" Riana masih berdiri di hadapan pria berhoodie dengan senyum yang manis.
"Ke.. kenapa kamu masih disini?"
"Aku ingin melihatmu makan mie yang kuberikan." Jawab Riana.
"Maaf, tapi aku tidak suka dilihat oleh orang lain saat makan."
Riana terkejut setelah mendengar perkataan pria berhoodie, ia merasa sedikit bersalah karena sudah membuat pria tersebut merasa tidak nyaman.
"A.. aku benar-benar tidak tahu jika kamu tidak suka jika kulihat saat makan, kalau begitu aku permisi dulu." Berlari meninggalkan tempat itu dengan menutup wajahnya karena merasa malu.
"Tu… tunggu…" Ucap pria berhoodie, namun gadis itu tidak mendengarnya dan masih berlari kecil sambil menutup wajahnya.
Riana pun pergi menuju tempat kasir untuk melayani pembeli yang ingin menghitung total pembeliannya.
"Haaa…. Padahal aku tidak bermaksud untuk mengusirnya." Pria berhoodie menghela nafas dan bergumam.
Ia melirik ke arah semangkuk mie yang dibuatkan oleh gadis yang ia sukai, tanpa ia sadari wajahnya kembali memerah dan entah mengapa ia tersenyum.
Dengan sigap pria berhoodie segera memutar tempat duduknya membelakangi tempat kasir dimana Riana berada karena ia tidak ingin gadis itu melihatnya makan. Setelah itu ia membuka masker yang ia pakar dan menyantap mie tersebut dengan lahap dengan rasa gembira yang teramat sangat.
Melihat hal tersebut, 4 pria berbadan kekar kembali berbisik-bisik antara satu sama lain.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka tuan muda punya sisi seperti itu."
"Akhirnya setelah sekian lama berpisah tuan muda kita kembali menemukan cinta sejatinya, sungguh cerita yang mengharukan, hiks.. hiks.." Pura pura menangis.
"Lebay, tidak usah pake nangis segala! Badan doang yang gede, masa gitu aja nangis."
"Hei, aku hanya sedang menjiwai saja, dasar menyebalkan."
"Tapi bukankah ini adalah hal yang romantis? Aku pikir adegan dan cerita seperti ini hanya ada di novel dan TV."
"Yah… aku tidak peduli mau adegan seperti ini mirip dengan novel maupun TV, yang pastinya adegan ini sangat romantis. Aku menunggu adegan selanjutnya dari kisah percintaan tuan muda kita."
Mereka ber 4 saling mengobrol tentang kisah percintaan tuan muda mereka yang romantis sambil memakan cemilan yang mereka beli di minimarket.
Setelah menghabiskan mie yang dibuat oleh Riana, pria berhoodie segera beranjak dari tempat duduk dan membawa mangkoknya ke Riana.
"Aku sudah selesai memakan mienya, sekarang mangkok kosong ini harus ku taruh dimana?" Ucap pria berhoodie.
"Astaga, kamu tidak perlu repot-repot membawanya. Biarkan saja dimejamu, aku akan mengambilnya setelah menyelesaikan pekerjaanku." Jawab Riana sambil melayani pembeli yang menghitung total belanjaannya di kasir.
Melihat gadis yang disukainya sedang kerepotan mengerjakan pekerjaannya, pria berhoodie tidak ingin membuatnya lebih repot sehingga memutuskan untuk mencuci sendiri mangkok mie yang baru saja ia makan.
"Biar Ku bantu mencucinya, sekarang beritahu aku dimana tempat cuci piringnya?"
"Pintu coklat dekat lemari ice cream, di dalamnya ada tempat cuci piring." Berbicara sambil memasukkan barang-barang yang dibeli oleh pembeli ke dalam kantong plastik.
Pria berhoodie hanya menganggukkan kepalanya lalu mencari pintu yang dimaksud oleh Riana. Setelah menemukannya, ia segera masuk dan mencuci mangkuknya dengan bersih lalu menaruhnya di rak yang berada persis di sebelah tempat cuci piring.
"Aku memang menyuruhnya untuk meramaikan minimarket ini, tapi tidak kusangka akan seramai ini." Bergumam pria berhoodie setelah keluar dari tempat cuci piring dan menoleh ke arah Riana yang sedang sibuk melayani pembeli.
Karena tidak ingin mengganggu gadis yang disukainya, ia memutuskan untuk tidak menghampirinya dan kembali duduk di meja khusus pembeli. Disana ia chattingan dengan seseorang melalui handphonenya dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi yang berarti waktu shift Riana telah berakhir. Gadis itu segera melepaskan baju penjaga minimarketnya dan bersiap-siap untuk pulang ke kosnya karena pemilik dari minimarket tersebut yaitu Pak Firman sudah datang dari tadi.
"Kamu sudah mau pulang?" Tanya pria berhoodie yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Astaga, kamu membuatku kaget." Ucap Riana.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu."
Riana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum yang menandakan bahwa ia menerima permintaan maaf tersebut.
"Aku pikir kamu sudah pulang dari tadi, setelah menghabiskan mie yang kubuat." Ucap Riana.
__ADS_1
"Aku belum pulang karena ingin mengantarmu."
"A.. apa? Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."
"Aku hanya ingin memastikan kejadian seperti waktu itu tidak terulang lagi."
Srett
Pria berhoodie segera menggenggam tangan Riana dan membawanya, Riana hanya bisa mengikuti pria tersebut tanpa mengeluarkan sepatah katapun, wajahnya sedikit memerah begitu pula wajah pria berhoodie yang ditutupi oleh masker.
"Ya ampun, masa muda memang masa yang paling indah. Aku jadi teringat masa mudaku dulu, hohoho." Ucap Pak Firman memakai baju penjaga minimarket sambil melihat ke arah Riana dan pria berhoodie.
Setelah kepergian mereka berdua, ke 4 pria berbadan kekar mengikuti mereka secara diam-diam karena hal itu memang sudah menjadi tugas mereka berempat.
Di tengah-tengah perjalanan pria berhoodie sudah tidak lagi menggenggam tangan Riana karena jika diteruskan maka ia akan merasa lebih gugup dan juga malu.
"Terimakasih sudah mau mengantarkan saya pulang."
"Tidak perlu berterimakasih." Ucap pria berhoodie dengan gugup.
Riana hanya tersenyum sambil menatap wajahnya yang hanya terlihat bagian sekitar matanya saja karena seluruh wajahnya hampir tertutup oleh masker semua.
Disaat yang bersamaan penutup kepala hoodie yang digunakan pria tersebut sedikit bergeser dan membuat rambutnya terlihat oleh Riana.
"Wah… rambut kamu berwarna pirang? Sangat cantik, persis seperti rambut sahabatku dulu." Berbicara dengan mata yang berbinar.
"Be.. begitukah? Siapa orang itu?" Tanya pria berhoodie dengan gugup.
"Dia seorang pria, umurnya sekitar 3 tahun lebih tua dariku. Kami berpisah saat kami masih kecil karena kesalahan yang telah ku buat." Riana sedih seketika.
"Bukan begitu." Gumam pria berhoodie.
"Maaf, apa yang baru saja anda katakan? Aku tidak mendengarnya."
Pria berhoodie segera menggelengkan kepalanya dengan sorot mata yang sedih.
"Ayo kita percepat jalannya! Udaranya sangat dingin, aku takut kamu terkena flu."
Riana menganggukkan kepalanya dan mereka pun mempercepat langkahnya.
Pria berhoodie dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan, ia tidak ingin membuat wanita yang disukainya bersedih karena teringat masa lalu. Lagi pula ia masih belum berani untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya kepada Riana karena menurutnya saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, mereka pun sampai di kos-kosan Riana dan pria berhoodie pun segera pamit pulang karena memiliki urusan lain.
__ADS_1