
Hari minggu pagi, tempat kos-kosan, Riana sedang menyiram bunga di taman sambil bersenandung.
Krieeetttt…
Suara gerbang dibuka dan masuklah sebuah mobil hitam mewah.
Ceklek….
Pintu mobilnya dibuka dari dalam lalu keluarlah sosok pria tampan berkumis tipis. Ia segera mematikan air keran lalu berlari kecil dengan riang menghampiri pria tersebut.
"Selamat pagi, Kak Daniel! Anda habis dari mana?"
"Selamat pagi juga. Aku habis jalan-jalan pagi sekaligus membeli sarapan di sekitar sini. Saat membeli sarapan aku teringat kamu, jadi aku sekalian membelikanmu juga." Mengeluarkan bungkus plastik berwarna putih.
Riana segera menerima sebungkus plastik itu lalu melihat isinya.
"Wah… lontong sayur, aku sangat suka makan ini. Terima kasih, Kak Daniel."
"Sama-sama." Tersenyum dengan ramah dan hangat.
Danieeeel…
Tiba-tiba ada seorang wanita beranting bunga berteriak dari lantai 3.
Sesaat setelah berteriak wanita itu segera berlari menuruni tangga dan menghampiri mereka berdua.
"Daniel, anda habis dari mana? Kenapa tidak mengajak saya?" Wanita itu menggandeng tangan pria berkumis tipis tersebut dengan tatapan yang berbinar.
"Anu… bisakah kamu melepaskan tanganku? Aku merasa tidak nyaman." Ucap Daniel.
"Jangan seperti itu, Daniel. Aku habis maskeran loh tadi malam, bagaimana menurutmu?" Mengelus-elus kulit wajahnya dengan tangan kiri.
Hmmm….
Daniel sebenarnya merasa sangat marah, namun ia berusaha menutupinya karena ada Riana di tempat itu.
"Cantik…. Kamu sangat cantik. Sekarang kamu sudah puas? Tolong lepaskan tanganku."
"Terimakasih atas pujiannya." Melepaskan gandengan tangannya.
Hohoho…
Wanita itu menoleh ke arah Riana sambil memandangnya dengan rendah.
__ADS_1
"Siapa wanita ini? Kenapa penampilannya begitu lesu? Sangat tidak enak untuk dilihat." Menghina Riana secara terang-terangan.
Daniel seketika terlihat sangat marah, ia menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat menyeramkan karena telah menghina Riana.
"Sa… salam kenal, nama saya adalah Riana. Saya anak kos kamar no 26 sekaligus tetangganya Kak Daniel." Mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman.
Alih-alih membalas jabatan tangan Riana, wanita itu menepis tangannya karena merasa jijik dengan penampilannya yang sedikit lesu dan kumal.
"Nama gue Monica Arumi, umur 18 tahun, penghuni baru kos-kosan kamar no. 38 di lantai 3 dan gue adalah pacarnya Daniel." Berbicara panjang lebar lalu kembali menggandeng tangan Daniel dan menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.
Dreetttt…
Tubuh Daniel seketika gemetar karena tidak sanggup menahan amarahnya. Ia menarik paksa tangannya yang digandeng hingga tidak sengaja membuat wanita itu terjatuh tersungkur di tanah.
Aduhhhh…
"Daniel, apa yang telah anda lakukan? Kenapa anda mendorong saya?"
"Pertama-tama aku kita tidak pernah berpacaran dan yang kedua kamu harus menjaga perkataanmu karena itu membuatku merasa jengkel." Ucap Daniel dengan wajah yang sedikit menyeramkan.
"Anu… kamu tidak apa-apa?" Riana berjalan menghampiri sambil mencoba membantunya berdiri.
Plakkk….
Lagi-lagi uluran tangannya ditepis oleh Monica, ia merasa sedih karena dibenci oleh orang yang baru pertama kali ia temui.
"Apa yang baru saja anda katakan, Kak Daniel?" Tanya Riana.
"Bukan apa-apa, ayo kita pergi dari sini lalu memakan sarapan kita di meja depan kamar kos." Menarik lengan Riana sambil menatap Monica dengan tatapan yang dingin.
Wanita beranting bunga tersebut membatu dengan posisi yang masih duduk di tanah karena terjatuh. Ia tidak tahu harus berkata apa seolah-olah ada yang menghalangi mulutnya. Mendapatkan perlakuan kasar dan dibentak oleh Daniel membuatnya sedikit merasa syok.
Sementara itu, Mereka berdua telah sampai di meja depan kamar kos Riana.
"Kamu duduk dan tunggu sebentar disini! Aku akan mengambil mangkuk untuk menuang lontong sayurnya." Perintah Daniel.
Riana hanya menganggukkan kepalanya karena tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Ia merasa sedikit takut karena ini adalah pertama kali baginya melihat Daniel yang baik dan selalu tersenyum menjadi marah.
Beberapa saat kemudian Daniel kembali dengan membawa 2 buah mangkok dan teh manis hangat.
Sruuuuttt…
Ia menuangkan lontong sayur miliknya dan milik Riana kedalam mangkuk lalu mereka berdua menyantap sarapannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu terlihat murung seperti itu? Apakah kamu kepikiran hal yang tadi?" Tanya Daniel.
"Tentu saja tidak, saya hanya sedang memi…."
"Jangan bohong, katakan padaku yang sebenarnya jika kamu memang menganggapku sebagai seorang teman."
Riana merasa sedikit kebingungan karena ia tidak ingin menceritakan masalah hidupnya kepada orang lain. Pada akhirnya ia memutuskan untuk bercerita karena Daniel terus menerus menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.
"Baiklah, saya akan bercerita. Sebenarnya saya sedikit merasa sedih karena dibenci oleh orang yang baru saja saya kenal. Walaupun sudah terbiasa dibenci oleh orang lain semenjak kecil, tetapi saya tetap tidak terbiasa untuk yang satu ini karena saya dan Monica berada di satu tempat kos yang sama. Kami akan saling bertemu, itulah sebabnya saya sangat berharap kami bisa berteman baik." Bercerita panjang lebar dengan ekspresi wajah yang murung.
Haaa….
Daniel menghela napas sambil menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.
"Benar-benar gadis yang baik dan naif." Kembali bergumam.
Melihat Daniel yang menghela napas seakan-akan terbebani membuatnya merasa sedikit menyesal telah menceritakan apa yang ia rasakan.
"Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan hal yang tadi karena dari dia adalah orang asing yang bersikap sok kenal denganku, lagi pula jika dia tidak memiliki perasaan kepadaku mungkin dia juga tidak akan mendekatiku."
"Tapi… dia terlihat sangat menyukai Kak Daniel. Bukankah sebaiknya kak Daniel sedikit memberikan kesempatan padanya? Jika Kak Daniel tidak menyukainya bukankah kalian setidaknya bisa berteman?"
Riana merasa sedikit kasihan kepada Monica karena dia terlihat sangat terpukul setelah diperlakukan dengan dingin oleh Daniel.
Ia berpikir bahwa akan lebih baik jika ia bisa membuat Monica dan Daniel semakin akrab terlebih lagi mereka bisa menjadi pasangan yang serasi. Bila dirinya membantu agar mereka berdua bisa semakin dekat mungkin Monica akan mau berteman dengannya.
"Aku sudah memiliki tunangan dan aku sangat mencintai tunanganku." Daniel menjawab dengan ketus.
"Be… benarkah? Sa… saya minta maaf, saya benar-benar tidak mengetahuinya."
"Tidak apa-apa, karena sekarang kamu sudah mengetahuinya jadi jangan membicarakan wanita itu lagi dihadapanku!"
Riana hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia merasa sedikit malu dan bersalah karena sudah meminta Daniel untuk memberikan kesempatan kepada Monica yang mencintainya padahal ia sudah memiliki seorang tunangan.
Drap… drap…
Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga menuju lantai 2. Ternyata suara itu berasal dari Monica yang sedang menuju kamarnya di lantai 3.
Wanita itu berhenti sejenak di lantai 2 karena melihat Riana dan Daniel yang sedang duduk berduaan di meja sambil menyantap sarapan. Ia menatap dengan tatapan yang sangat tajam seolah-olah tidak menyukai hal yang sedang ia lihat.
"Abaikan saja dia! Dan aku peringatkan kamu jangan lagi berurusan dengannya karena aku juga tidak ingin terlibat lagi wanita menyebalkan itu." Daniel berbicara dengan ketus dan nada suara yang kecil.
"Baik… Kak Daniel."
__ADS_1
Monica kembali menaiki tangga menuju lantai 3 dengan wajah yang terlihat sangat marah. Entah ia marah karena diperlakukan dingin oleh Daniel atau marah kepada Riana karena ia diperlakukan dengan hangat oleh Daniel.
Setelah kepergian wanita itu, mereka berdua dapat melanjutkan sarapan dengan lebih tenang walaupun sebenarnya Riana masih merasa tidak enak hati kepada wanita beranting bunga tersebut.