
Jam 12 siang, jam istirahat.
Vinter dan Yongi menghampiri kelas 1-1 untuk menemui kedua pria yang harus mereka lindungi.
Suasana kelas menjadi sedikit gaduh karena 2 dari 3 pemimpin kelompok TPOM datang menghampiri kelas mereka.
"A.. ada perlu apa kamu datang ke sini lagi?" Ucap ketua kelas 1-1 dengan wajah yang sedikit ketakutan.
"Seperti kemarin, aku datang untuk mencari dua pria yang mencari masalah dengan kelompok Black Bull." Jawab Yongi.
"Ma.. maksudmu Nami dan Rofik ya? Mereka berdua tidak datang ke sekolah hari ini dan tidak ada keterangan juga kenapa mereka tidak datang."
Hmmm….
Vinter dan Yongi saling bertatapan mata lalu meenganggukkan kepalanya. Mereka semakin yakin jika telah terjadi sesuatu kepada dua pria katrok tersebut.
"Kapan terakhir kali kamu melihat mereka berdua?" Yongi bertanya.
"Terakhir kali aku melihatnya mereka sedang berjalan pulang kaki pulang saat pulang sekolah kemarin sore."
"Apakah kamu tahu mereka pulang lewat jalan mana?" Tanya Vinter dengan ekspresi wajah yang datar.
Ketua kelas menggelengkan kepalanya, ia tidak mengetahui informasi yang ditanyakan oleh pria berambut putih itu.
"Biasanya mereka pulang melewati jalan Dharmawan."
Tiba-tiba ada murid lain yang memotong pembicaraan mereka bertiga secara tiba-tiba sehingga menjadi pusat perhatian di kelas itu.
"Siapa kamu? Dan bagaimana bisa kamu mengetahui hal itu?" Vinter menghampiri murid pria yang memberikan informasi kepadanya.
"A… aku adalah teman SMP nya mereka berdua, du… dulu aku pernah berkunjung ke rumah mereka."
Vinter melipat kedua tangannya di dada sambil berpikir dengan keras. Ia sedang memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada mereka.
"Jalan Dharmawan? Maksudmu jalanan yang jarang dilewati itu?"
"Benar sekali, Jalanan itu jarang dilewati orang karena sangat rawan kejahatan tetapi mereka terpaksa melewati jalan itu karena jaraknya menuju rumah lebih dekat." Jawab murid tersebut.
"Apakah jalan itu berada di dekat kawasan industri yang sudah terbengkalai?" Yongi berjalan menghampiri sambil melihat peta di handphonenya.
Murid pria itu menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.
Informasi yang telah didapatkan membuat Vinter dan Yongi semakin yakin jika telah terjadi sesuatu terhadap dua pria yang harus mereka lindungi tersebut.
"Anu… aku tidak ingin ikut campur tetapi aku sangat penasaran. Apakah telah terjadi sesuatu kepada dua temanku itu? Mereka memang suka membuat masalah dengan kelompok berandal karena ingin berlagak seperti pahlawan."
"Berlagak seperti pahlawan?" Yongi memasang wajah kebingungan sambil mengotak-atik peta di handphonenya.
"Benar, mereka berdua berani melawan kelompok berandal yang suka melakukan bullying untuk melindungi murid lain walaupun pada akhirnya mereka yang akan terkena masalah dan babak belur."
__ADS_1
Ekspresi wajah Vinter dan Yongi menjadi datar setelah mendengar hal tersebut.
"Ternyata nyali mereka besar juga ya? Benar-benar diluar dugaan." Ucap Vinter.
"Mereka cukup hebat untuk seukuran pria yang fisiknya lemah dan tidak bisa bertarung." Yongi ikut berbicara.
"Yahh… mau bagaimana lagi? Mereka memang orang yang seperti itu." Vinter menggaruk kepalanya sambil merasa keheranan juga.
Karena merasa telah cukup mendapatkan informasi, Vinter dan Yongi memutuskan untuk meninggalkan kelas 1-1 dan pergi menemui Kharisma di kelas 1-2.
"Terima kasih atas informasinya." Yongi melambaikan tangan sambil memakan permen dan berjalan keluar kelas.
Ceklekk…
Mereka berdua telah sampai di kelas 1-2 dan langsung menghampiri Kharisma dan kedua temannya yang sedang makan camilan di mejanya.
"Wah… ada Kak Vinter dan Yongi, Ada perlu apa kalian datang ke sini?" Riana tersenyum ramah.
"Kami ingin membicarakan dua pria katrok bernyali besar itu." Yongi duduk di kursi sambil membuka bungkus permen.
"Kenapa kalian ingin membicarakan mereka? Apakah telah terjadi sesuatu?" Wanita bermata biru tersebut bertanya dengan ketus sambil membaca buku.
Haaaa….
Vinter menghela napas, ia merasa sedikit kerepotan dengan tugas yang diberikan tersebut. Melindungi dua pria yang suka membuat masalah dengan kelompok berandal benar-benar merepotkan baginya.
"Hari ini mereka tidak masuk sekolah dan alat pelacak yang diberikan oleh Yongi kemarin tidak berjalan atau berpindah dari satu titik." Vinter menjelaskan.
Pria berambut putih menganggukkan kepalanya dengan tatapan yang serius.
"Ba… bagaimana ini? Apakah kita perlu menelepon polisi?" Riana seketika menjadi gelisah, ia takut terjadi hal yang lebih mengerikan terhadap kedua temannya.
"Tidak perlu, melapor polisi hanya akan memperburuk keadaan." Ucap Vinter.
"Ta… tapi… bagaimana jika terjadi hal yang buruk kepada mereka?"
"Aku berjanji akan menyelamatkan mereka sekuat tenagaku. Jadi tenangkanlah dirimu terlebih dahulu!" Vinter menghampiri tempat duduknya Riana dan mencoba untuk menenangkannya.
Swiinggggg… prakk….
Yongi melemparkan handphonenya yang bergambarkan peta dengan dua titik merah yang menyala dan ditangkap oleh Kharisma.
"Apa ini? Kenapa kamu memberikannya kepadaku?" Tanya wanita bermata biru tersebut.
"Itu adalah gambar peta lokasi dari alat pelacak yang aku berikan kepada dua pria itu. Semenjak kemarin sekitar pukul 6 malam titik merahnya berhenti bergerak." Yongi menjelaskan.
Kharisma memperbesar peta di handphone yang ia pegang lalu memperhatikannya dengan seksama selama beberapa menit.
Terdapat dua buah titik merah yang menyala tetapi tidak bergerak sedikitpun. Lokasi titik tersebut berada pada sebuah bangunan tua yang tidak jauh dari sekolah mereka.
__ADS_1
"Kamu bisa melihatnya sendiri bukan? Sekarang mereka berada di markas kelompok Black Bull."
"Markas kelompok Black Bull? Maksudmu bangunan tua yang terlihat di peta ini adalah markasnya Black Bull?" Tanya Kharisma.
Vinter dan Yongi menganggukkan kepalanya dengan wajah yang serius.
Penasaran akan hal itu, Reynold beranjak dari tempat duduknya dan meminjam handphone yang sedang dipegang oleh Kharisma.
"Wahhh… mereka diculik lalu disekap ya? Yahh…. Itu adalah resiko yang harus mereka tanggung karena berani mencari masalah dengan kelompok berandal. Jadi apa yang akan kalian lakukan untuk menyelamatkan mereka?" Pria bermata ungu itu mengotak-atik peta di handphone.
"Kami akan menyerang markas mereka nanti malam, tentunya akan ada banyak anggota kelompok yang terluka." Jawab Yongi.
"Lalu kenapa jika kalian terluka? Setahuku bagi kelompok berandal luka adalah hal yang sudah biasa." Masih mengotak-atik peta di handphone dengan serius.
Vinter dan yongi saling bertatapan mata seolah-olah ingin menyampaikan suatu hal yang sangat penting bagi mereka.
"Yahh…. Kamu tahu kan terluka harus ada obat jadi…."
"Kami akan membayar kalian 2 kali lipat dari nominal yang dijanjikan." Kharisma memotong perkataan Vinter dengan nada suara yang ketus.
"Hohoho… kamu memang wanita yang sangat peka, aku jadi menyukaimu."
Reynold yang dari tadi fokus memainkan handphone tiba-tiba memelototi pria berambut putih itu. Ia merasa tidak terima wanita yang disukainya di lirik oleh pria lain.
Ternyata selama ini ia sedikit memendam rasa suka kepada teman wanitanya itu.
"Kenapa kamu memelototiku seperti itu? Ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?"
Pertanyaan tersebut membuatnya berhenti memelototi Vinter, ia tidak berani menjawab karena takut jika wanita yang ia suka mengetahui perasaannya.
Kharisma adalah wanita yang pintar dan peka sehingga Reynold harus berhati-hati dalam bertindak agar perasaannya tidak diketahui.
"Ti.. tidak ada, aku hanya merasa heran kenapa kelompok kalian begitu menyukai uang." Reynold asal bicara.
"Tentu saja kami menyukai uang karena dengan uang kami bisa memenuhi kebutuhan seluruh anggota dan dapat memberikan fasilitas yang layak kepada kelompok kami."
Pria bermata ungu tersebut terpaku, ia tidak tahu harus menjawab apa karena perkataan Vinter memang masuk akal.
"Hei… kembalikan handphone ku! Aku ingin menghubungi kelompokku." Teriak Yongi.
Swiiingggg… prakk…
Reynold melemparkan handphone yang dipegang olehnya dan berhasil ditangkap oleh Yongi.
"Baiklah, karena tidak ada lagi yang harus dibicarakan aku dan Yongi akan pergi bersiap-siap untuk penyerangan markas Black Bull nanti malam. Kalian hanya perlu menunggu kabar baik dari kami, sampai bertemu lagi." Berjalan menuju pintu keluar diiringi oleh Yongi dibelakangnya sambil memberikan pesan lewat chat di handphone.
"Semoga kalian berhasil, Kak Vinter dan Yongi…. Aku akan terus mendukung kalian apapun yang terjadi." Riana memberikan semangat kepada dua pria itu.
Mereka membalasnya dengan melambaikan tangan kanannya tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
__ADS_1
Akhirnya perundingan itu telah selesai dengan kesepakatan bayaran akan dinaikan sebanyak 2 kali lipat.