
Ceklek
Kharisma telah sampai di rumahnya pada pukul 7.30 malam setelah mengantar kedua temannya pulang ke rumahnya masing-masing.
"Non Kharisma sudah pulang?" Ucap bibi pembantu yang bekerja di rumahnya. Ia menyambut Kharisma di teras rumah setiap pulang sekolah.
"Iya, aku sudah pulang. Bisa tolong buatkan teh hangat?" Ucap Kharisma sambil duduk dan melepaskan sepatu.
"Baik, non! Akan bibi buatkan secepat mungkin. Oh iya, di ruang tamu ada tuan Reynold sedang menunggu."
Kharisma menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia merasa sangat lelah sehingga malas untuk menjawab perkataan pembantunya. Bibi pembantu juga tahu jika Kharisma bersikap seperti itu artinya ia sedang tidak ingin memperpanjang pembicaraan.
"Kalau begitu bibi pergi dulu, non." Mengambil tas milik Kharisma lalu membawa dan menaruhnya di dalam kamar milik wanita bermata biru tersebut.
Setelah selesai melepas sepatu, Kharisma segera pergi menuju ruang tamu dan menemui Reynold yang menunggunya dari tadi.
"Akhirnya kamu datang juga." Ucap Reynold.
"Tidak perlu basa-basi! Langsung ke intinya saja, aku sangat lelah hari ini." Kharisma berbicara dengan ketus sambil membaringkan tubuhnya di sofa.
"Kamu habis makan dengan siapa? Apakah dengan Yulia dan Dinda?"
"Iya, aku habis makan malam bersama mereka." Jawab Kharisma.
"Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengan mereka! Lebih baik kamu jauhi saja kalau perlu."
Wanita bermata biru itu menatap Reynold dengan tatapan yang sangat tajam setelah mendengar perkataannya.
"Jangan ikut campur urusanku! Cepat katakan saja apa keperluanmu datang kesini!" Ucap Kharisma dengan ketus.
"Baiklah, aku datang kesini untuk meminta informasi yang aku minta kepadamu minggu kemarin."
"Ahhh… aku sudah mendapatkannya, kamu tenang saja!"
Keluarga Kharisma adalah pemilik perusahaan yang menjual informasi kepada orang atau perusahaan lain, nama perusahaannya adalah Ayes Of The World (AOTW).
Sret
Tak lama kemudian datanglah bibi pembantu membawakan segelas teh hangat untuk Kharisma dan secangkir kopi untuk Reynold.
"Terima kasih, bi." Ucap Kharisma sambil mengambil dan meminum teh hangat miliknya.
__ADS_1
"Sama-sama, non."
"Oh iya, bi. Tolong ambilkan dokumen berwarna biru di atas meja belajarku di kamar!" Kharisma meminta tolong lagi karena ia sangat lelah untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai 2.
"Baik, non. Akan segera bibi ambilkan."
Bibi pembantu segera pergi menaiki tangga sedangkan Kharisma dan Reynold menunggu sambil berbincang-bincang.
"Bagaimana dengan kondisi perusahaanmu?" Tanya Kharisma.
"Sedang tidak bagus, jika terus seperti ini perusahaan keluargaku bisa bangkrut." Reynold memasang wajah sedih.
Keluarga Reynold memiliki perusahaan yang bernama Jaya Bodyguard (JB), perusahaannya menyediakan jasa perlindungan dari bodyguard, biasanya yang menyewa bodyguard adalah artis, pejabat, pebisnis, dan lain-lain. Namun sekarang perusahaan keluarganya sedang tidak baik karena mendapat saingan baru yang cukup kuat.
"Aku turut bersedih akan hal itu."
"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah siap jika bisnis keluargaku bangkrut. Omong-omong bagaimana dengan bisnis keluargamu? Aku dengar ada masalah juga." Tanya Reynold.
"Yah… terdapat beberapa mata-mata yang mencuri informasi dari perusahaan kami, memang hal itu tidak akan membuat kami bangkrut, tetapi jika terus dibiarkan kami bisa rugi besar." Ucap Kharisma.
Tidak lama kemudian datanglah bibi pembantu dengan membawa sebuah dokumen berwarna biru lalu memberikannya kepada Reynold.
Pria bermata ungu itu terlihat gembira karena dokumen tersebut sangat penting baginya.
"Tidak perlu, aku memberikannya secara gratis karena kita berteman baik. Lagi pula bisnis keluargamu pasti sedang membutuhkan dana, kamu pakai saja uang bayaran informasi itu untuk keperluan perusahaanmu." Kharisma tersenyum ke arah Reynold sambil menaruh tehnya yang telah habis ke atas meja.
"Aku benar-benar sangat berterima kasih, aku akan membayar kebaikanmu suatu saat nanti. Kalau begitu aku pergi dulu!" Ucap Reynold.
Kharisma menganggukkan kepalanya lalu mengantarkan pria bermata ungu tersebut sampai ke depan gerbang rumahnya. Reynold pun menghampiri sopir pribadinya yang sudah menunggu di depan gerbang lalu pulang ke rumahnya.
Pukul 9.30 malam di kamar Reynold, pria bermata ungu tersebut sedang memeriksa dokumen yang didapatkannya dari Kharisma secara gratis.
"Perusahaannya menjadi cukup kuat karena didukung oleh beberapa investor dan perusahaan lain di belakangnya, pantas saja perusahaan keluargaku kalah saing."
Sebenarnya Reynold sudah merasa pasrah terhadap perusahaan milik keluarganya, ia tahu bahwa dirinya masih kecil dan tidak bisa berbuat banyak, namun ia tetap mencoba mencari tahu informasi agar bisa membantu walaupun hanya sedikit.
Tetapi apalah dayanya, ia tetap tidak bisa berbuat apapun meskipun sudah mendapatkan informasi yang berguna.
"Yah… aku hanya bisa pasrah, jika nasibku memang baik pasti perusahaanku tidak akan bangkrut." Reynold menaruh dokumen yang sedang ia baca ke atas meja lalu tidur karena sudah larut malam.
Keesokan harinya, sepertinya biasa Reynold pulang dari sekolah dengan berjalan kaki karena lebih sehat dan jaraknya juga tidak terlalu jauh.
__ADS_1
"Ahh… minuman ini sangat enak dan menyegarkan, aku harus membelinya lagi besok." Berjalan menuju tong sampah di pinggir jalan lalu membuang bungkus minuman yang telah diminumnya.
"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan pulangnya."
Setelah berjalan beberapa langkah, ada seorang pria keturunan tionghoa yang mengikut Reynold dari belakang.
Reynold yang menyadarinya lantas menjadi ketakutan dan bulu kuduknya berdiri semua.
"Kenapa paman itu mengikuti aku, ya? Tunggu… apakah dia ingin menculikku?"
Berbagai macam pikiran buruk mengisi kepalanya, namun ia tetap berusaha setenang mungkin dan mempercepat langkah kakinya.
Pria keturunan tionghoa yang mengikutinya juga mempercepat langkah kakinya .
"Ya ampun, sepertinya pria itu benar-benar berniat menculikku. Aku harus pergi ke tempat yang ramai orang."
Reynold mulai berlari sekuat tenaga menuju area yang ramai orang, melihatnya berlari membuat pria keturunan tionghoa ikut melakukannya.
Beberapa meter sebelum menuju kerumunan yang sedang menunggu lampu merah di zebra cross, pria keturunan tionghoa sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh Reynold yang berada di depannya.
"Aku hanya ingin membantumu, jadi bisakah kamu meluangkan waktu."
Reynold lantas menghentikan langkah kakinya lalu memutar balik badannya dengan raut wajah yang kebingungan.
Hoshh… hosh..
Suara pria keturunan tionghoa terengah-engah setelah berlari sedangkan Reynold tidak terlihat kelelahan sama sekali. Itu merupakan hal yang wajar karena kondisi fisik pria bermata ungu tersebut sangatlah bagus.
"Membantuku? Apa yang kamu maksud?" Tanya Reynold penuh dengan kecurigaan.
"Aku tahu jika perusahaan keluargamu sedang diambang kebangkrutan, kamu pasti tidak mau perusahaanmu bangkrutkan?" Jawab pria keturunan tionghoa yang tidak lain adalah Feng Ying.
"Tentu saja, memang siapa yang ingin perusahaan yang dimiliki keluarganya bangkrut?"
"Aku bisa membantumu menyelamatkan perusahaan milik keluargamu." Ucap Feng Ying dengan serius.
Reynold tidak mempercayai perkataannya dan memasang wajah yang cukup menyeramkan, ia tidak terlalu suka ada orang yang tiba-tiba datang dan mencoba ikut campur urusan internal keluarganya.
"Aku tahu kamu tidak akan percaya semudah itu kepadaku, tapi aku tidak bohong bahwa perusahaanmu bisa diselamatkan. Jika kamu mau perusahaanmu selamat, kamu bisa menghubungiku." Feng Ying memberikan kartu namanya kepada Reynold.
"Kamu memiliki waktu 2 hari untuk berfikir dengan matang, semoga beruntung."
__ADS_1
Feng Ying membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Reynold sendirian di tengah-tengah kebingungannya atas kejadian yang terjadi secara tiba-tiba.