Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Vinter Dan Yongi 5


__ADS_3

Markas Black Bull pukul 9 malam.


Nami dan Rofik sudah sadarkan diri setelah diculik dan diberi obat tidur oleh dua pria bermasker putih.


"Ukkhhh…. Kepalaku sakit sekali.." Gumam Nami.


"Nami! Akhirnya kamu sadar juga."


"Dimana ini? Kenapa kita bisa berada ditempat ini? kenapa kaki dan tangan kita diikat oleh tali?" Banyak sekali pertanyaan di dalam kepalanya, ia masih belum mengingat hal yang sudah terjadi kepadanya.


"Kamu tidak ingat? Kita telah diculik oleh dua pria asing bermasker putih. Kita diberi obat tidur dan dibawa ke tempat ini." Rofik menjelaskan apa yang sudah terjadi.


Nami mencoba mengingat-ingat hal yang baru saja diceritakan oleh temannya. Setelah mencoba mengingatnya selama beberapa saat, akhirnya ia mengingat semua hal yang telah terjadi.


Seketika ia menjadi panik dan gelisah, ketakutan yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya.


"Ki.. kita harus segera kabur dari tempat ini, aku takut mereka akan menyiksa kita lalu membun*h kita dengan tragis." Ucap Nami.


"Di.. dibun*h? Aku tidak mau mati disini, aku masih belum mencicipi banyak makanan enak."


Hiks… hiks…


Pria berbadan gemuk tersebut menangis karena takut akan dibun*h oleh orang-orang yang telah menculiknya.


Melihatnya menangis, sebagai teman yang baik Nami mencoba menenangkannya.


"Berhentilah menangis, kamu harus tenang agar kita bisa memikirkan caranya kabur dari tempat ini." Mengusap punggung temannya dengan lembut menggunakan tangannya yang masih terikat tali.


"Hiks.. ta.. tapi bagaimana caranya kabur?" Tanya Rofik.


"Aku juga tidak tahu tetapi aku yakin pasti ada caranya. Karena itu berhentilah menangis agar kita bisa memikirkan caranya keluar dari sini!"


Rofik menganganggukkan kepalanya, ia mencoba menghentikan tangisannya walaupun sedikit terasa sulit baginya karena rasa ketakutan yang luar biasa.


Ceklek….


Suara pintu dibuka.


Masuklah 7 orang pria bergelang hitam dan salah satunya adalah Rudi Arkanta si pemimpin kelompok Black Bull.


"Astaga… kalian ingin kabur dari sini? Tentu saja boleh, itupun jika kalian bisa melakukannya." Menghampiri Nami dan Rofik yang duduk dilantai dengan tangan dan kaki yang terikat tali.


"Ka.. kamu… jadi kamu yang sudah menculik kami? Ketua kelompok Black Bull yang pecundang karena suka menindas orang yang lemah." Pria berkacamata bulat tersebut memberanikan diri untuk berbicara.


Braakkkk…


Rudi menendang kepalanya sekuat tenaga hingga ia terpental kebelakang.


Rasa sakit yang luar biasa ia rasakan, fisiknya yang lemah dan tendangan Rudi yang cukup kuat merupakan faktor tendangan itu terasa amat sangat menyakitkan baginya.


"Aduh…. Sa… sakit…" Tergeletak di lantai sambil merintih kesakitan.

__ADS_1


"Hahaha… baru sekali pukul saja sudah seperti itu. Dasar orang-orang lemah tidak berguna, ini balasan karena lu berdua sudah mencemarkan nama baik gua ke satu sekolah." Menarik rambut Nami lalu mendekatkan mukanya dengan ekspresi yang sangat menyeramkan.


"Kami hanya membela murid lain yang kamu bully, dasar orang-orang jahat."


Aduh… sa.. sakit….


Merasa kesal dengan perkataan Nami, pria itu menarik rambutnya dengan kuat hingga membuatnya merintih kesakitan.


Melihat temannya yang sedang disiksa, Rofik mencoba membantunya dengan memukul Rudi menggunakan kedua tangannya yang terikat.


"Singkirkan tanganmu dari temanku pria jahat!"


Buk… bukk… 


Rofik memukul dengan sekuat tenaga akan tetapi pria yang dipukul olehnya tidak merasakan sakit sama sekali karena fisiknya yang dibilang cukup kuat.


"Hah…. Kedua bedeb*h ini benar-benar membuatku kesal."


Blammm….


Rudi melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah pria berbadan gemuk itu sehingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai. Pukulan itu membuat tulang hidungnya patah dan bercucuran darah.


"Rofikkk…. Apakah kamu baik-baik saja?" Teriak Nami.


"Aduh… sakit…. Aku rasa tulang hidungku patah."


"Kamu pria yang sangat kejam, kamu pasti akan mendapatkan balasannya suatu saat nanti."


Rudi dan kelompoknya tertawa terbahak-bahak, perkataan yang diucapkan oleh Nami terlihat seperti sebuah lelucon bagi mereka.


"Astaga…. Kalian memang orang yang menarik. Gua jadi semakin ingin menyiksa kalian." Berbicara dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Nami dan Rofik semakin ketakutan, mereka tidak tahu harus berbuat apa agar bisa kabur dari tempat itu.


Brukkk…


Rudi menarik rambut milik pria berkacamata bulat tersebut dan melemparnya ke arah temannya yang sedang merintih kesakitan karena tulang hidungnya patah.


"Nami… apakah kamu baik-baik saja." Rofik bertanya sambil mencoba menghentikan darah dari hidungnya dengan lengan bajunya.


"A.. aku baik-baik saja, kamu harus mengkhawatirkan dirimu sendiri. Tulang hidung mu patah dan mengeluarkan darah."


Pfft..


Mereka kembali menertawakan dua pria tersebut dengan sangat kegirangan. Ketidakberdayaan Nami dan Rofik membuat mereka merasa amat sangat bahagia melebihi apapun. akhirnya mereka dapat membalas dendam atas penghinaan yang mereka dapatkan.


"Gua mau pergi sebentar, kalian boleh sedikit bermain-main dengan dua pria lucu ini." Rudi berjalan menuju pintu keluar.


Ia pun pergi meninggalkan tempat itu. Ke-6 anak buahnya menyiksa Nami dan Rofik dengan cara memukulnya semalaman hingga babak belur.


Keesokan harinya setelah mereka diculik dan dibawa ke markas kelompok Black Bull. 

__ADS_1


"Nami… bangun!  Sekarang sudah pagi." Mengoyang-goyangkan tubuh temannya yang sedang tertidur karena kelelahan dipukuli.


Arkkkhhhh…


Nami pun bangun dari tidurnya dengan sekujur tubuh yang penuh dengan bekas luka memar. 


Penyiksaan kepadanya lebih parah daripada Rofik karena ia berani melawan disaat hendak dipukul, berbeda dengan Rofik yang hanya berdiam diri menerima pukulan yang mengarah kepadanya.


"Sudah pagi? Kita harus keluar dari sini dan pergi kesekolah. Kita juga harus melaporkan kejadian ini kepada polisi." Ucap Nami.


"Benar, kita harus kabur dari sini dan membuat mereka dipenjara. Tetapi bagaimana caranya?"


"Sebentar lagi mereka akan pergi ke sekolah, kita akan memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari sini."


Rofik menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ia sangat setuju dengan rencana yang dibuat oleh temannya itu.


"Wah.. wah… rencana yang cukup bagus tetapi gua rasa tidak akan berhasil." Rudi berjalan masuk ke dalam ruangan tempat kedua pria itu disekap.


Mereka berdua kembali gemetar karena ketakutan sekaligus merasa bingung karena rencana mereka diketahui. Mereka pikir ditempat itu sedang tidak ada penjaga, itulah sebabnya mereka tidak berbisik untuk merahasiakan rencana itu.


"Na.. nami.. bagaimana ini? Rencana kita diketahui olehnya."


"Sialan… apa yang harus kami lakukan sekarang?" Bergumam dengan sekujur tubuh berkeringat.


"Gua peringatin kalian berdua, jangan pernah berani mencoba kabur dari tempat ini! Kalau kalian mencoba kabur dan berhasil kami tangkap kembali, gua akan menyiksa kalian lebih parah dari ini." Rudi mengancam.


Hiks… hiks…


Rofik kembali menangis dengan wajah yang penuh dengan luka memar, walaupun sudah berhenti berdarah namun rasa sakitnya masih terasa karena tulang hidungnya patah.


Cup.. cup.. cup..


"Kasihan sekali… karena gua adalah orang yang baik, kalian akan dibebaskan….." Rudi berbicara dengan wajah yang penuh belas kasih dan suara yang lembut sambil mengelus-elus rambut Rofik.


Smirk....


Ia tersenyum secara tiba-tiba lalu menjambak rambut pria berbadan gemuk tersebut yang awalnya dia elus.


"... kalau kalian sudah mamp*s." Tersenyum dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Brukkk….


Ia melempar Rofik hingga jatuh tersungkur di lantai lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Gua mau pergi ke sekolah dulu, kalian berdua jangan pergi kesekolah dan jaga mereka berdua." Memerintahkan dua anak buahnya untuk menjaga Nami dan Rofik agar tidak kabur dari tempat itu.


"Siap, bos." 


Kedua anak buahnya menjawab secara bersamaan dengan tubuh yang sigap.


Akhirnya seluruh anggota kelompok Black Bull yang beranggotakan sekitar 16 orang pergi meninggalkan markasnya dan pergi kesekolah.

__ADS_1


Sekarang di tempat itu hanya tersisa Nami dan Rofik serta 2 anggota kelompok Black Bull yang diperintahkan untuk menjaga mereka agar tidak kabur.


__ADS_2