
Terdapat seorang pria mencurigakan di depan kamar tempat Riana dirawat. Pria tersebut menggunakan hoodie dan juga masker hitam.
Drap… drap…
Daniel yang melihat hal tersebut setelah kembali dari membeli buah segera menghampirinya dari belakang.
Srat…
Dengan sigap Daniel mengunci kepala pria mencurigakan tersebut menggunakan kedua tangannya yang masih memegang seplastik buah-buahan.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengawasi kamar Riana dirawat?" Bertanya dengan nada suara yang menyeramkan.
Pria mencurigakan itu tidak memberikan jawaban sama sekali dan mencoba melepaskan kepalanya yang dikunci oleh kedua tangan Daniel.
Daniel masih belum bisa memastikan identitas pria tersebut karena wajahnya tertutup masker.
"Cepat jawab! Jika kamu tetap diam saja maka aku akan membun*h mu." Daniel mengancam dan memperkuat tangannya yang mengunci kepala pria itu.
"Justru kamu yang akan kubun*h!"
Pria berhoodie tersebut menoleh ke arah Daniel sambil melepaskan maskernya.
Astaga….
Teriak Daniel terkejut setelah melihat wajah dibalik masker hitam itu, dengan spontan ia melepaskan kuncian tangannya dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"A… anu… saya tidak tahu jika itu adalah anda, jadi bisakah kita melupakan ini?"
Ternyata pria berhoodie dan bermasker hitam yang mencurigakan tersebut adalah tuan mudanya, si pria berambut pirang.
"Melupakan ini? Enak saja!"
Plakkkk
Daniel dipukul dibagian kepala oleh tuan mudanya dan akibat dari pukulan tersebut kepalanya sedikit benjol.
"Dari mana saja kamu?" Tanya pria berambut pirang kepada Daniel yang terdiam setelah benjol karena dipukul.
"Ahh.. saya habis membeli buah-buahan segar untuk Riana."
"Hmmm… baiklah, karena kamu sudah datang maka aku akan pergi." Ucap pria berambut pirang sambil berjalan pergi.
"Anda tidak ingin menjenguk Riana ke dalam?" Tanya Daniel.
"Tidak! Lagipula aku kesini hanya untuk memastikan keadaan malaikatku saja."
Daniel membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada tuan mudanya yang sudah berjalan agak jauh di depannya.
"Yah… lagi pula aku masih belum berani menampakkan diriku didepannya." Pria berambut pirang bergumam.
__ADS_1
Ceklek
Setelah kepergian pria berambut pirang, Daniel pun masuk ke dalam kamar Riana dirawat dan wajahnya terlihat lega seperti orang yang baru saja berkurang bebannya.
"Apa ada yang baru saja terjadi? Wajahmu terlihat sangat lega." Tanya Daniel.
"Ah.. itu karena aku baru saja mendapatkan izin dari atasan untuk tidak kerja sambilan selama saya dirawat. Tentu saja itu membuatku sedikit merasa lega, aku pikir Pak Firman tidak akan memberikan izin atau bahkan yang terburuknya aku bisa dipecat jika tidak masuk kerja berhari-hari seperti itu." Riana menceritakan sangat rinci.
Haaa….
Daniel menghela nafas sambil berjalan menuju meja disamping Riana untuk menaruh buah-buahan yang baru saja ia beli.
Kemudian pria berkumis tipis itu duduk di kursi dan mulai mengupas buah apel menggunakan pisau dan menaruhnya di atas piring.
"Tunggu, dari mana Kak Daniel mendapatkan pisau? Setahuku disini perawat hanya memberikan piring saja."
Daniel tersentak setelah mendengar pertanyaan Riana lalu dengan cepat tersenyum ramah.
"Aku membawanya dari rumah."
"Hmmm… baiklah."
Riana dengan polosnya percaya dengan perkataan yang diucapkan oleh pria berkumis tipis itu.
Sebenarnya Daniel telah berbohong, pisau itu tidak ia bawa dari rumah melainkan memang barang yang selalu disembunyikan dan dibawa kemanapun ia pergi. Daniel membawa pisau tersebut karena memiliki alasan tertentu yang tidak dapat ia ceritakan kepada siapapun.
Setelah selesai mengupas dan memotong buah apel menjadi lebih kecil, pria berkumis tipis itu segera memberikannya kepada Riana untuk dimakan.
Riana menganggukkan kepalanya sambil mengambil piring yang berisikan buah-buahan lalu mengambil satu potong dan menaruh sisanya di atas meja di sebelahnya.
Waktupun cepat berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 5.30 sore.
Ceklek…
Suara pintu dibuka, Daniel dan Riana dengan spontan menoleh ke arah pintu.
"Riana! Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Kharisma masuk lalu berlari kecil ke arah Riana, lalu disusul dengan Ryan dan Diana yang di belakangnya.
Mereka masih menggunakan seragam sekolah dan membawa tas karena setelah pulang sekolah mereka segera bergegas pergi ke rumah sakit.
"Aku sudah merasa lebih baikan walaupun walaupun kepalaku terasa sakit." Ucap Riana.
"Kak Daniel memberitahuku di chat jika kepalamu terbentur cukup keras, apakah rasanya sakit?" Tanya Kharisma.
"Iya, memang masih sedikit sakit. Tapi kurasa sebentar lagi akan sembuh." Riana mencoba menenangkan temannya yang terlihat khawatir.
"Ngomong-ngomong dimana Reynold?" Riana lanjut bertanya.
"Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya, hohoho." Ketua kelas menjawab dengan cepat dan Diana menganggukkan kepalanya seolah-olah sependapat dengan rekannya tersebut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu masuk kembali terbuka dan masuklah seorang pria bermata ungu yang tidak lain adalah Reynold. Ia masuk sambil membawa 4 plastik yang cukup besar dengan nafas yang terengah-engah.
Brak…
Setelah masuk dan menutup pintu, Reynold menaruh plastik-plastik tersebut di lantai dan duduk di sofa yang memang sudah disediakan di kamar itu karena kamar yang ditempati Riana adalah kamar VIP.
"Kalian benar-benar menyebalkan! Tega sekali kalian menyuruhku membawa semua plastik berat itu." Gerutu Reynold membaringkan badannya di sofa panjang.
"Berhentilah mengeluh! Diantara kita berempat kan fisikmu yang paling kuat. Apakah kamu ingin aku dan Diana yang seorang wanita membawa barang berat seperti itu?" Ucap Kharisma.
"Huh… kan ada ketua osis, kenapa dia tidak membantuku?" Reynold melirik ke arah Ryan.
"Hahaha…. Aku terlalu lelah untuk membawanya karena habis mengurus masalah yang rumit dan menguras tenaga, bukankah begitu, Diana?" Ryan menatap ke arah Diana.
Sang wakil ketua osis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Terserah kamu saja, aku terlalu lelah untuk berdebat." Reynold memalingkan wajahnya karena kesal.
"Kamu benar-benar kekanak-kanakan." Gerutu Kharisma.
Pfttr..
Riana hanya bisa tertawa melihat tingkah laku teman-temannya tersebut sekaligus merasa bersyukur karena memiliki teman seperti mereka.
Rasa sakit kepalanya yang terus menerus berdenyut seperti tusukan paku tidak terasa lagi karena ditutupi oleh kebahagiaan.
"Menurutku ini sangat aneh." Ucap Riana.
"Apanya yang aneh?" Tanya Diana.
"Bukankah kamar ini terlalu mewah? Bahkan kamar ini sampai disediakan sofa, tv bagus, dan kamar ini terlalu luas untuk seorang pasien." Riana mengeluarkan seluruh pertanyaan yang berada dalam pikirannya.
"Ini adalah kamar VIP, aku yang membayar seluruh biaya perawatannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Kharisma menjawab dengan sigap.
"A… apa? VIP? Itu pasti sangat mahal, aku tidak punya uang untuk membayarnya."
Haaaa..
Kharisma menghela nafas cukup panjang setelah mendengar perkataan Riana, ia sudah menduga jika Riana akan mengatakan ini sebelumnya.
"Sudah kubilang aku yang membayarnya, kamu tidak perlu mengganti uangku karena aku punya banyak uang." Jawab Kharisma.
"Benar, kamu tidak perlu memikirkan itu! Serahkan saja semuanya padi kami dan tugasmu hanya cepat pulih saja!" Reynold tersenyum mengangkat jempolnya sambil tiduran di sofa panjang.
Ryan, Diana, dan Daniel menganggukkan kepala sambil tersenyum, mereka semua sependapat dengan perkataan yang diucapkan oleh Kharisma dan Reynold.
Melihat hal itu, Riana hanya bisa mengikuti perkataan teman-temannya walaupun sebenarnya ia merasa tidak enak hati karena telah menyusahkan mereka.
Akhirnya mereka pun saling berbincang satu sama lain hingga pukul 9 malam. Kemudian Kharisma, Reynold, Ryan, dan Diana pamit untuk pulang serta berjanji akan kembali menjenguk besok hari setelah pulang sekolah.
__ADS_1
Selama dirawat di rumah sakit, Daniel lah yang bertanggung jawab menemani Riana karena takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi.