
Dua bulan telah berlalu semenjak Riana bersekolah di SMA Harapan Jaya. Sekarang adalah hari rabu pagi, ia dan kedua temannya sedang berjalan menelusuri lorong menuju kelas.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka bertiga telah sampai di kelasnya. Namun, suasana kelas sangat gaduh, murid-murid berkerumun di meja Anggi dan Ruthfi sambil memberikan banyak pertanyaan kepada mereka berdua.
"Benarkah itu?"
"Wah… kenapa dia keluar dari sekolah ini?"
"Aku juga sangat penasaran walaupun itu merupakan hal yang bagus."
"Sejujurnya aku juga tidak menyukainya, dia wanita yang jahat dan sombong."
"Tapi aku dengar dia jatuh miskin, apakah itu benar?"
Murid-murid tersebut melemparkan banyak pertanyaan kepada Anggi dan Ruthfi, namun kedua wanita itu tidak menjawab sepatah katapun. Mereka hanya diam membisu dengan wajah yang murung.
Smirk
Reynold dan Kharisma tersenyum tipis sedangkan Riana memandang ke arah kerumunan tersebut dengan wajah yang kebingungan.
"Kenapa mereka berkumpul di sana? Apa yang telah terjadi?" Tanya Riana.
"Entahlah… bagaimana kalau kita pastikan?" Menatap ke arah Reynold.
Pria bermata ungu tersebut mengerti maksud dari tatapan yang diberikan oleh Kharisma ke arahnya. Ia segera menghampiri kerumunan tersebut lalu menarik lengan salah seorang murid laki-laki.
"Tu… tunggu! Kenapa kamu menarik tanganku?" Ikut berjalan karena ditarik.
"Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal, jadi ikutlah sebentar."
Reynold pun membawanya ke hadapan Riana dan Kharisma.
"Apa yang ingin kalian tanyakan?"
"Kenapa banyak murid yang berkerumun disana?" Tanya Kharisma.
"Mereka sedang memastikan gosip yang sedang beredar."
"Gosip? Gosip apa yang kamu maksud?" Kharisma kembali bertanya.
"Ada gosip yang mengatakan jika Risma telah jatuh miskin dan akan pindah ke sekolah lain. Sekarang murid-murid yang berkerumun itu sedang memastikan kebenaran gosip tersebut melalui dua teman baiknya Risma. Namun, mereka berdua tidak mengeluarkan sepatah katapun dari tadi."
Riana terkejut setelah mendengar perkataan itu, sedangkan kedua teman baiknya tidak bergeming sama sekali seolah-olah mereka sudah tahu informasi tersebut.
"Be… benarkah itu? Astaga… kasihan sekali Risma." Ucap Riana.
Reynold dan Kharisma menatap gadis itu dengan tatapan yang kebingungan.
"Untuk apa kamu merasa kasihan kepadanya? Dia kan sudah berbuat jahat padamu."
__ADS_1
"Reynold benar, untuk apa kamu merasa kasihan kepadanya?"
"Dia memang sudah jahat kepadaku, namun bukan berarti aku harus berbuat jahat kepadanya, bukan? Lagi pula setiap manusia pasti pernah berbuat salah termasuk diriku sendiri, jadi aku tidak berhak membenci atau menghakiminya." Berbicara dengan senyum yang terlihat sangat tulus.
Haa….
Reynold menghela napas sedangkan Kharisma memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Aku sudah menebak jika kamu akan mengucapkan hal itu. Kamu memang gadis yang sangat baik, aku senang memiliki teman seperti kamu."
Perkataan yang baru saja dikatakan oleh Kharisma membuat Reynold terkejut sekaligus merasa lega. Setelah sekian lama akhirnya ia mendengar kalimat itu dari mulut Kharisma.
"Baiklah… kamu boleh pergi. Terima kasih atas informasinya." Ucap Kharisma dengan ramah.
Pria itu pun kembali pergi menuju kerumunan murid-murid yang sedang membuktikan kebenaran gosip yang sedang beredar.
"Kamu tidak perlu khawatir! Risma tidak jatuh miskin atau keluar dari sekolah ini, aku berjanji." Wanita bermata biru tersebut mengusap kepala Riana sambil tersenyum.
Riana membalas perkataannya dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia mempercayai perkataan temannya tersebut karena baginya Kharisma dan Reynold tidak pernah berbohong.
Teng… teng… teng…
Bel masuk pun berbunyi dan pembelajaran hari itu pun dimulai. Kebenaran gosip yang beredar masih belum bisa dipastikan kebenarannya hari itu karena Anggi dan Ruthfi tidak mau mengucapkan sepatah katapun.
Keesokan harinya, pukul 7 pagi di rumah Risma.
"Baik bu, saya akan segera ke sana."
Risma menuruni tangga dan menuju dapur dengan wajah yang terlihat murung dan banyak pikiran, hari ini ia memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Ibunya yang sedang memasak menatap dirinya dengan penuh kesedihan karena tidak tega.
"Maafkan ibu, nak. Kalau saja ayah dan ibu bisa mengurus bisnis dengan baik kamu tidak perlu pindah sekolah dan dapat hidup dengan layak."
"Tidak apa-apa, bu. Jangan menyalahkan diri ibu sendiri!"
Risma tahu jika bisnis keluarganya hancur karena ulah pria berambut pirang yang tidak diketahui identitasnya tersebut. Pria berambut pirang tersebut menyerang bisnis keluarganya karena ia telah mencari masalah dengan Riana, namun ia tidak berani mengatakan kebenarannya kepada kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya menganggap bahwa hancurnya bisnis keluarganya karena mereka tidak kompeten dalam mengurus bisnis tersebut, padahal bisnis mereka dihancurkan oleh orang lain.
"Suratnya ada di atas meja, ibu tidak tahu siapa yang mengirimnya. Benda itu ada di dalam kotak pos rumah kita dan di sana tertera namamu sebagai penerima."
Srakkk
Risma mengambil surat tersebut lalu merobeknya. Terdapat sepucuk surat di dalamnya, ia segera mengeluarkan surat itu lalu membacanya.
'Temui aku seorang diri di Cafe Rimlov yang berlokasi di jalan xxxx. Datanglah pukul 9 malam hari ini jika kamu masih ingin bisnis keluargamu selamat. INI ADALAH PERTEMUAN RAHASIA.'
Itu adalah isi surat yang dibaca oleh Risma. Ia terpaku dan tidak bergeming sama sekali setelah membaca isi surat dengan wajah yang terlihat tegang.
"Ada apa, nak? Siapa pengirim surat itu? Dan apa isinya?"
__ADS_1
Pertanyaan bertubi-tubi terlontar dari mulut ibunya, dengan sigap ia menyembunyikan surat tersebut di balik punggungnya karena tidak ingin ibunya mengetahui surat itu.
"Ah… ini surat dari temanku, ibu tidak usah memikirkannya!"
Drap.. drap..
Risma berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Ibunya merasa sedikit mencurigainya karena bertingkah aneh, namun ia tidak ingin mencari tahu lebih dalam karena tidak ingin mengorek privasi anak perempuannya tersebut.
Ceklek
Risma membuka dan menutup pintu kamarnya lalu berjalan mondar-mandir sambil memegang surat yang baru saja ia baca.
"Apakah ini surat dari 'pria' berambut pirang yang menghancurkan bisnis keluargaku? Kenapa ia menulis surat seperti ini?"
Banyak sekali pertanyaan yang berada di dalam pikirannya, namun akhirnya ia memutuskan untuk mengikutinya karena ia ingin menyelamatkan bisnis keluarganya sebisa mungkin.
Malam hari jam 9 di Cafe Rimlov.
Risma masuk ke dalam cafe dengan wajah yang sedikit pucat. Cafe tersebut terbilang sangat mewah dan banyak pelanggannya.
"Tempat ini sangat ramai, apakah tidak apa-apa bertemu di tempat seperti ini? Bukankah dia bilang ini adalah pertemuan rahasia?" Bergumam sambil melihat sekeliling.
Tiba-tiba datanglah seorang pelayan menghampirinya.
"Permisi, apakah anda adalah Nona Risma?"
"Be.. benar, saya Risma. Ada perlu apa, ya?"
"Saya diperintahkan oleh tuan muda untuk mengantarkan anda ke lantai 2 di cafe ini. Mari ikuti saya!"
Risma menganggukkan kepalanya lalu mengikuti pelayan tersebut ke lantai dua. Ia terkejut setelah melihat lantai 2 cafe tersebut, suasananya sangat sepi karena tidak ada seorangpun disana kecuali ia dan si pelayan.
"Ke.. kenapa lantai ini kosong? Bukankah di lantai 1 sangat ramai?" Tanya Kharisma.
"Ah.. itu karena tuan muda yang mengosongkan tempat ini, beliau memerintahkan agar jangan membiarkan pengunjung masuk ke lantai 2 selain wanita bernama Risma."
"Memangnya berapa uang yang dia keluarkan untuk mengosongkan seluruh lantai 2 di cafe ini?"
Pelayan menatap Risma dengan wajah yang kebingungan lalu kembali berbicara setelah beberapa saat kemudian.
"Tidak ada sepeserpun uang yang dikeluarkan oleh tuan muda karena sejak awal cafe ini memang miliknya."
Risma sangat terkejut setelah mendengar jawaban tersebut, ia sedikit gemetar ketakutan karena ia akan berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan sangat besar.
Setahunya cafe itu terbilang cafe yang sangat mewah, hanya anak golongan menengah ke atas saja yang bisa ke tempat tersebut. Memiliki cafe sebesar dan semewah ini berarti pria itu bukan orang yang bisa dianggap remeh, terlebih lagi cafe ini memiliki lebih dari 10.000 cabang di seluruh bagian negara yang mereka tempati.
"Silahkan duduk di meja ini! Dan tuan muda akan datang menemui anda sebentar lagi."
Risma menganggukkan kepalanya lalu duduk di kursi sambil meminum kopi yang disuguhkan selagi menunggu pria yang akan bertemu dengannya datang.
__ADS_1