
Di malam yang sunyi dan dingin, Kharisma sedang menatap ke luar jendela kamarnya di lantai 2 dengan tatapan yang kosong.
"Aku pikir aku tidak akan lagi mempercayai orang lain sebagai teman dekat selain Reynold." Bergumam sambil meminum segelas teh hangat.
"Seorang gadis yang baik dan naif yang membuat seorang pria yang sangat menyeramkan menyukainya. Awalnya aku kira pria itu sedikit gila karena menyukai gadis sepertinya, tetapi sekarang aku mengerti karena perlahan aku juga menyukainya dan menganggapnya sebagai teman dekat seperti Reynold." Kembali bergumam sendirian sambil menatap ke luar jendela.
Ini adalah kisah masa lalu Kharisma dan cerita ini juga lah yang membuatnya tidak mudah mempercayai orang lain.
4 tahun yang lalu, Kharisma masih duduk di sekolah dasar yang bernama permata dunia dan sekarang ia kelas 6.
"Kharisma!!! Tunggu kami!" Teriakan suara seorang perempuan.
Wanita bermata biru tersebut berhenti berjalan dan menoleh ke arah belakang. Terlihat dua orang wanita sedang berlari ke arahnya dengan wajah yang sangat ceria.
Hari ini adalah hari senin sekaligus hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas.
"Kalian sangat bersemangat, ya?" Ucap Kharisma sambil menatap kedua temannya yang sedang kelelahan karena berlari ke arahnya.
"Tentu saja kami bersemangat, setelah sekian lama akhirnya kita bertemu lagi."
"Benar! Walaupun kita berpisah hanya beberapa minggu karena libur kenaikan kelas tetapi aku tetap merindukanmu."
Kharisma tersenyum ke arah kedua temannya, ia merasa sangat bahagia mempunyai teman dekat yang sangat baik kepadanya.
"Ayo kita pergi ke sekolah sebelum terlambat!"
Ia menggandeng kedua tangan temannya lalu membawa mereka menuju ke sekolah dengan semangat. Kedua temannya membalas gandengannya lalu mereka pun pergi ke sekolah bersama-sama dengan jalan kaki karena jarak sekolahnya memang tidak terlalu jauh.
Teng.. teng..
Bel masuk berbunyi saat mereka sudah sampai di dalam kelas.
"Wah… kelas kita bagus, ya? Aku sangat menyukainya."
"Iya! Kelas kita lebih bagus sekarang."
Kharisma tersenyum melihat kedua temannya yang terlihat kagum dengan penampilan kelas barunya.
"Bagaimana menurutmu? Apakah kelasnya bagus?" Tanya salah seorang temannya tersebut.
"Aku juga sependapat dengan kalian, kelas kita memang sangat bagus dari pada kelas kita yang dulu."
"Sudah kuduga, Kharisma juga pasti akan menyukainya." Tersenyum ceria.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mari kita pilih tempat duduk kita!" Ucap Kharisma sambil melihat satu per satu kursi yang ada di kelas.
Kedua temannya menganggukkan kepalanya karena mereka berpikir hal yang sama dengannya. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka pun memilih kursi pojok kanan depan dengan posisi Kharisma berada di tengah-tengah antara tempat duduk kedua temannya.
Dua temannya Kharisma bernama Yulia rindia dan Dinda Tersia. Mereka adalah teman baiknya Kharisma semenjak kelas 1, sekarang adalah tahun ke 6 mereka bersahabat dan berteman baik.
"Bagaimana jika pulang sekolah nanti kita mampir ke tempat makan?"
"Wah… ide bagus, Dinda! Kita sudah lama tidak makan bersama-sama."
"Bagaimana menurutmu, Kharisma? Apakah kamu mau ikut? Aku tahu dimana tempat makan yang enak."
Kedua temannya tersebut memandang Kharisma dengan tatapan yang penuh dengan harapan. Melihat mereka yang terlihat sangat berharap membuat Kharisma menerima ajakan tersebut dengan spontan.
"Baiklah! Aku juga akan ikut." Tersenyum.
"Sudah kuduga, Kharisma memang yang terbaik."
"Bukankah itu sudah jelas? Teman baik kita ini tidak ada bandingnya di dunia, hehehe." Ucap Yulia sambil mengangkat kedua jempolnya kepada Kharisma.
Mereka bertiga mengobrol sambil menunggu guru datang ke kelas.
Ceklek
Tidak terasa waktu cepat berlalu, bel pulang sudah berbunyi dan sekarang Kharisma serta kedua temannya sedang menunggu mobil jemputan di pinggir jalan. Sebenarnya mereka pulang sekolah dengan berjalan kaki, tapi berhubung mereka ingin makan bersama dan jarak tempat makannya cukup jauh akhirnya Kharisma meminta sopir pribadinya untuk mengantarkannya.
Brum
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya datanglah sebuah mobil hitam, mereka segera masuk ke dalam mobil tersebut lalu memberitahukan sopir tempat tujuannya. Mereka pun pergi menuju tempat makan dan memakan waktu selama beberapa belas menit.
"Wah… itu dia tempat makannya!" Dinda menunjuk sebuah tempat makan dengan jari telunjuknya dengan semangat.
"Tempatnya bagus, pasti makanannya sangat enak." Ucap Yulia.
"Tentu saja! Aku tidak pernah salah dalam memilih." Dinda membusungkan dan menepuk-nepuk dadanya.
Kharisma hanya tersenyum melihat kedua teman baiknya yang terlihat sangat antusias karena akan makan bersama dengannya setelah sekian lama.
Setelah sampai di tempat parkir, mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam tempat makan tersebut. Sedangkan sopir menunggu di dalam mobil sambil memainkan handphonenya.
"Kita duduk disana saja! Posisi mejanya sangat bagus." Ucap Dinda.
"Ide yang bagus, mari kita pergi ke sana!" Kharisma menggandeng lengan kedua temannya dan menuju meja yang akan mereka tempati.
__ADS_1
Setelah mereka duduk, seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa buku menu.
"Ingin pesan apa?" Ucap pelayan tersebut setelah memberikan buku menu yang ia bawa kepada Yulia.
"Hmm… aku pesan yang ini, ini, ini, lalu yang ini juga." Memberi tahu pelayan makanan yang ingin mereka pesan
"Kalau aku pesan yang ini dan juga yang ini." Dinda juga memberitahu pelayan makananan yang ingin dia pesan.
"Kalau aku pesan yang ini saja! Aku sedang mengurangi porsi makanku." Ucap Kharisma.
Pelayan pun pergi setelah mencatat pesanan yang dipesan oleh Kharisma dan kedua temannya.
Selagi menunggu makanan datang, mereka bertiga saling berbincang antara satu sama lain. Namun tiba-tiba handphone Kharisma berbunyi dan ia meminta Izin kepada kedua temannya untuk mengangkat telpon di kamar mandi agar tidak ada orang yang mendengar pembicaraannya.
"Ada apa? Kenapa kamu meneleponku?"
"Huh… kamu memang wanita yang dingin. Aku hanya ingin tahu dimana kamu sekarang? Kenapa kamu tidak ada dirumah?"
"Aku sedang makan malam bersama dengan kedua teman baikku. Kamu tunggu saja dirumah, sekitar 1 - 2 jam lagi aku akan pulang." Ucap Kharisma dengan ketus kepada seorang pria yang meneleponnya.
"Tunggu seben…"
Tut.. tut.. tut..
Kharisma menutup teleponnya sebelum pria itu berkata sesuatu, kemudian ia keluar dari toilet dan pergi menuju kedua temannya yang sedang menunggu di meja makan.
"Siapa yang meneleponmu?" Tanya Dinda.
"Bukan hal yang penting, kalian tidak perlu memikirkannya."
"Baiklah."
Beberapa saat kemudian makanan yang dipesan pun datang dan mereka menyantapnya dengan lahap. Setelah perut mereka kenyang, mereka pun bersiap-siap untuk pulang.
"Oh.. iya, kamu yang akan bayar bukan?"
"Tentu saja! Kharisma kan punya banyak uang."
Ucap kedua temannya sambil menatapnya dengan penuh harapan. Karena merasa tidak enak hati dan dan kasihan kepada teman dekatnya tersebut, Kharisma pun memutuskan untuk membayar menggunakan uangnya karena dari dulu memang ia juga yang selalu membayar jika makan bersama seperti ini.
Kharisma tidak merasa keberatan sedikitpun karena ia memang punya banyak uang dan kedua teman dekatnya tersebut sangat penting baginya, sehingga ia tidak ingin perhitungan.
"Baiklah, aku yang akan membayarnya. Kalian pergi duluan saja ke mobil." Ucap Kharisma.
__ADS_1
Setelah membayar tagihan, wanita bermata biru tersebut pergi menuju mobil di tempat parkir lalu mengantarkan kedua teman baiknya pulang ke rumahnya masing-masing sebelum pulang ke rumahnya sendiri.