Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Kharisma 6


__ADS_3

Keesokan harinya.


Drap.. drap..


Kharisma sedang berjalan dengan ke-3 teman barunya. Tiba-tiba saja Yulia dan Dinda menghampiri mereka dari belakang.


"Selamat pagi, Kharisma." Ucap Yulia dengan ramah.


Namun wanita bermata biru itu tidak menjawabnya sama sekali, ia terus menatap ke depan seolah-olah tidak mendengar sapaan Yulia.


Ketiga teman barunya menatap Yulia dan Dinda dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.


"Kharisma! Apakah kamu tidak mendengar perkataanku?" Yulia mulai berbicara dengan suara yang lantang.


"Kenapa kamu berubah seperti ini? Apa yang terjadi kepadamu?" Dinda bertanya.


Kharisma menghentikan langkah kakinya, begitu juga dengan ketiga teman barunya. Kemudian ia menoleh ke arah dua mantan teman baiknya tersebut.


"Mulai sekarang kita tidak lagi berteman, jadi jangan pernah merasa sok kenal dan sok akrab denganku!" Menatap dengan tatapan yang merendahkan.


Dinda dan Yulia saling bertatapan mata dengan wajah yang kebingungan, lalu Dinda memutuskan untuk berbicara karena akan sangat rugi  jika mereka berdua tidak lagi berteman dengan Kharisma.


"A… apa yang kamu maksud? Kita tidak lagi berteman? Kamu tahu kan jika kita sudah berteman baik semenjak kelas 1 sd?" Mencoba meraih tangan Kharisma.


Plak…


Salah seorang teman barunya Kharisma menepis tangan Dinda dan yang lain menghalangi jalan untuk mendekati Kharisma.


"Apa-apaan kalian? Cepat minggir!" Yulia marah melihat perilaku ketiga teman barunya Kharisma.


Smirk..


Mereka bertiga tersenyum jahat ke arah Dinda dan Yulia lalu menatap mereka dengan tatapan yang merendahkan seperti yang dilakukan oleh Kharisma.


"Tidak mau! Memangnya siapa kamu berani memerintah kami?"


"Kalian memang wanita yang tidak tahu diri!"


"Betul! Orang seperti kalian sangat tidak pantas untuk didekati apalagi dijadikan teman."


Cibiran bertubi-tubi terlontar dari ketiga teman barunya Kharisma sehingga membuat Dinda dan Yulia menjadi semakin marah. Mereka berdua tidak bisa menerima penghinaan tersebut.


"Kurang ajar! Plak…" Yulia melayangkan tamparan di salah satu pipi dari tiga teman baru Kharisma sehingga membuat suasana menjadi hening seketika.

__ADS_1


Wanita yang ditampar oleh Yulia menatapnya dengan tatapan yang sangat menyeramkan lalu balik menjambak rambutnya.


Kyakkk


Suara teriakan Yulia karena rambutnya dijambak dengan kuat, ia pun tidak mau kalah sehingga balas menjambak.


Perkelahian Pun tidak terhindarkan dan menjadi tontonan orang-orang disekitarnya. Kharisma tidak bisa tinggal diam saja karena jika hal ini terus dibiarkan dan sampai terdengar oleh pihak sekolah maka ia juga yang akan terkena imbasnya.


"Berhenti!" Kharisma memeluk tubuh teman barunya yang sedang berkelahi dengan Yulia karena mencoba melerai perkelahian tersebut.


Kedua teman barunya yang lain dan juga Dinda ikut membantu melerai perkelahian mereka. Pada akhirnya perkelahian pun dapat dihentikan.


"Dasar wanita rendahan! Tidak berpendidikan!" Makian terlontar dari mulut Yulia yang sedang dipegangi oleh Dinda.


"Apa? Wanita rendahan? Yang wanita rendahan itu kamu!" Balas memaki.


Yulia masih tidak terima dengan perlakuan yang ia dapatkan, ia pun meronta-ronta ingin menjambak rambut wanita itu lagi namun ia tidak bisa karena dipegang oleh Dinda.


Merasa masalah ini tidak akan kunjung berhenti, Kharisma pun berjalan menghampirinya dengan wajah datarnya.


Plak…


Sebuah tamparan mendarat di pipi Yulia sehingga membuatnya terpaku seketika. Rupanya Kharisma menamparnya karena ingin menenangkan Yulia.


Plakkk…


Sebelum Dinda selesai bicara, sebuah tamparan dari Kharisma juga mendarat di pipinya. Suasana menjadi sangat hening seketika.


"Dasar wanita gila! Berani kamu memperlakukan kami seperti ini! Padahal kami sudah mau berteman denganmu si wanita sombong berhati dingin." Yulia memaki.


"Kalian berteman denganku hanya karena ingin memanfaatkanku. Bukankah begitu?" Ucap Kharisma.


Yulia dan Dinda terdiam, mereka tidak menjawab sepatah katapun.


"Dulu aku sering mentraktir dan membelikan barang-barang yang kalian mau karena aku belum menyadari jika kalian hanya memanfaatkanku, namun sekarang aku sudah menyadarinya dan aku tidak butuh teman seperti kalian, maka dari itu pertemanan kita cukup sampai sini dan jangan pernah berlagak sok kenal denganku!" Kharisma membalikkan badannya lalu berjalan menuju tiga teman barunya.


Dinda hanya bisa terdiam seribu bahasa, sedangkan Yulia masih diselimuti oleh kemarahan dan kebencian yang sangat dalam.


"Sangat enak ya? Aku akan sangat bahagia jika jadi kamu. Memiliki paras yang cantik, otak yang pintar, dan juga berasal dari keluarga kaya. Apakah kamu tahu? AKU DAN DINDA SANGAT IRI PADAMU! KAMI MEMANFAATKANMU KARENA KAMI JUGA INGIN MERASAKAN MAKAN MAKANAN ENAK DAN MEMAKAI BARANG-BARANG MAHAL SEPERTIMU!" Tiba-tiba Yulia berteriak.


"BENAR! LAGI PULA TIDAK ADA SALAHNYA JIKA KAMU MENTRAKTIR KAMI ATAU MEMBELIKAN KAMI BARANG YANG MAHAL, LAGI PULA UANGMU SANGAT BANYAK. DASAR WANITA PELIT!" Dinda ikut berteriak sambil memaki.


Kharisma kembali menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah dua wanita itu.

__ADS_1


"Menyedihkan! Keputusan yang bagus aku memutuskan pertemanan dengan kalian." Kharisma berbicara dengan tatapan yang merendahkan lalu kembali berjalan menuju tiga teman barunya.


Dinda dan Yulia melihat sekeliling, tanpa mereka sadari ternyata ada banyak sekali orang yang menonton mereka. Akhirnya mereka berdua berlari sekuat tenaga menuju sekolah dengan perasaan malu yang luar biasa.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Kharisma kepada teman barunya yang habis berkelahi dengan Yulia.


"Aku baik-baik saja." Membenarkan posisi seragamnya yang berantakan akibat dari perkelahian barusan.


Kharisma menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka berempat juga melanjutkan perjalanan menuju sekolah dengan tergesa-gesa karena bel masuk hampir berbunyi. Akhirnya Kharisma dan ketiga temannya sampai di sekolah tepat waktu lalu mengikuti pembelajaran dengan baik hari itu.


Setelah pulang sekolah yaitu pukul 5 sore, ia berkunjung ke rumah Reynold.


Ceklek


Ia keluar dari dalam mobil lalu berjalan menghampiri bibi pembantu yang sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya.


"Selamat sore, Non Kharisma." Berbicara dengan ramah.


"Selamat sore juga, bi. Apakah reynoldnya ada?" Tanya Kharisma.


"Tentu saja ada, Tuan Reynold sedang menunggu di ruang tamu sambil nonton TV, mari saya antar ke dalam!"


Kharisma menganggukkan kepalanya, ia pun melepaskan sepatunya di teras lalu mengikuti bibi pembantu rumah Reynold.


Sesampainya di ruang tamu, ia melihat Reynold yang sedang fokus nonton TV dan memakan camilan.


"Matamu bisa copot jika terus menonton TV seperti itu." Celetuk Kharisma sambil berjalan menghampiri pria bermata ungu tersebut lalu duduk di sofa.


"Akhirnya kamu datang juga, aku sudah lama menunggumu." Berbicara sambil mengambil remot lalu mematikan TV yang sedang ditonton.


"Aku sudah memutuskan pertemanan dengan mereka."


Mendengar perkataan Kharisma seketika Reynold tersenyum lebar seolah-olah telah mendengar kabar baik.


"Kenapa kamu sesenang itu?" Tanya ketus Kharisma.


"Hehehe, aku senang karena akhirnya kamu tidak dimanfaatkan lagi oleh dua sampah itu."


Kharisma pun ikut tersenyum seketika sekaligus merasa lebih tenang karena sudah memutuskan pertemanan itu.


Begitulah akhir dari pertemanan antara Kharisma dengan Yulia dan juga Dinda, sekarang ia memutuskan untuk tidak memiliki teman baik lain selain Reynold dan teman temannya yang lain hanya dianggap sebagai teman biasa yang tidak ada arti baginya.


Terkadang Yulia dan Dinda masih mencoba untuk mendekatinya lagi, tentu saja dengan tujuan yang sama seperti sebelumnya yaitu memanfaatkannya. Namun wanita bermata biru tersebut dengan tegas menolak dan menjauh sejauh mungkin dari mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2