Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Amarah 2


__ADS_3

Ryan menceritakan seluruh kejadian yang ia alami baruskan kepada pria berambut pirang.


"Itu adalah hal yang saya alami barusan, bukankah begitu, Feng ying?" Ryan menoleh ke arah pria keturunan tionghoa tersebut untuk meminta bantuan darinya.


"Yang dikatakan olehnya benar, tuan muda. Saya baru saja membayar uang ganti rugi yang disebabkan oleh Ryan saat mengejar pria berambut merah." Feng ying dengan sigap memberi bantuan kepada Ryan berupa penjelasan kepada tuan mudanya.


Dret… dret….


Tubuh pria berambut pirang gemetar seketika karena menahan amarahnya.


"Jadi kamu mengatakan jika kamu tidak berhasil menangkap orang yang sudah membahayakan malaikat kecilku?"


"Be… benar, maafkan saya atas ketidak becusan saya dalam menjalankan tugas." Ucap Ryan.


Srakkk…


Pria berambut pirang seketika mencengkram kerah baju Ryan menggunakan kedua tangannya.


"DASAR TIDAK BERGUNA!"


Brak….


Setelah mencengkram kerah baju Ryan dan membentaknya, pria berambut pirang kemudian mendorongnya ke arah Reynold. Dengan sigap pria bermata ungu tersebut menangkan Ryan dan akhirnya mereka berdua pun jatuh di lantai.


Kharisma dan Diana segera membantu mereka berdua untuk kembali berdiri.


"Astaga! Anda tidak boleh seperti ini, tuan muda." Aziz mencoba menenangkan tuan mudanya tersebut.


"Benar, tuan muda. Anda tidak boleh memakai kekerasan seperti ini! Lagi Pula kita bisa membicarakan ini baik-baik." Ucap Feng ying.


"Tenang? Mereka telah lalai menjalankan tugas mereka sehingga membahayakan malaikat kecilku dan kamu memintaku untuk tenang?"  Memberikan tatapan menyeramkan kepada pria keturunan tionghoa tersebut.


Bulu kuduk Feng ying seketika berdiri, ia benar-benar ketakutan menghadapi tuan mudanya yang berada dalam kendali penuh amarah dalam dirinya. Walau begitu ia tetap mencoba memberikan penjelasan yang baik dan dapat menenangkan tuan mudanya tersebut.


"Amarah anda tidak akan mengubah apapun, tuan muda. Lagi pula nona muda berhasil diselamatkan walaupun dalam keadaan lemah, jadi alangkah baiknya kita tidak memperpanjang masalah ini dan fokus mencari pelaku dari semua kejadian ini."


Haaaa….


Mendengar perkataan dari sekeetarisnya, pria berambut pirang segera duduk di kursi tunggu dan menarik nafas lalu menghembuskannya karena ia mencoba untuk meredakan amarah dalam dirinya.


Aziz sang bodyguard dengan sigap memijat pundaknya agar amarah tuan mudanya tersebut lebih cepat mereda. Setelah beberapa saat kemudian, pria berambut pirang tersebut dapat meredakan amarahnya dan bisa berpikir jernih.

__ADS_1


"Kalian berempat pulanglah! Kita akan membicarakan ini lagi saat pertemuan seluruh anggota berikutnya." Ucap pria berambut pirang kepada Kharisma, Reynold, Diana dan Ryan.


Mereka berempat pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan wajah yang lesu dan pucat.


"Kami akan menjenguk Riana besok pagi." Ucap Reynold.


"Tidak perlu! Kalian tidak diizinkan untuk bertemu malaikat kecilku sampai dia benar-benar sudah siuman."


Reynold tidak berani membantah ucapan dari pria berambut pirang sehingga mau tidak mau ia harus mengikuti perkataannya.


Setelah mereka berempat pergi, pria berambut pirang berdiri dari tempat duduknya lalu pergi ke dalam ruang UGD untuk menemani Riana.


Ceklek…


Ia membuka pintu ruang UGD dan menoleh ke arah dua bawahannya sebelum masuk.


"Aziz kamu tetap berjaga di sini dan kamu Feng ying segera pergi ke perusahaan dan gantikan tugasku selama berada di rumah sakit menemani malaikat kecilku!"


"Baik, tuan muda. Kami akan menjalankan tugas sesuai perintah anda."


Kedua bawahannya tersebut menjawab secara bersamaan sambil membungkukkan badannya lalu mengikuti perintah sesuai dengan yang telah diinstruksikan.


 "Kenapa selalu ada saja kejadian buruk yang menimpamu?" Bergumam sambil menggenggam tangan Riana.


"Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa melindungimu, andai saja aku tidak meninggalkanmu saat itu, mungkin kamu tidak akan menderita seperti ini." Pria berambut pirang masih bergumam dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan, terlihat dengan jelas rasa bersalah yang amat teramat dalam di raut wajahnya hingga kedua matanya hampir meneteskan air mata.


Hiks.. hiks…


Ia menangis selama beberapa menit sambil menempelkan tangan Riana di pipinya, sekuat apapun pria berambut pirang tetap saja ia tidak bisa menahan tangisan dari rasa sedih dan penyesalan dalam dirinya.


Setelah selesai menangis emosinya jauh menjadi lebih stabil dari sebelum dan tidak lama kemudian datanglah 2 orang perawat yang datang untuk membawa Riana ke kamar no 216 di lantai 3.


"Permisi, tuan. Kami ingin membawa pasien ke kamar yang sudah ditentukan." Ucap salah seorang perawat yang datang.


"Baiklah, kalian bisa membawanya." Ucap pria berambut pirang sambil beranjak dari tempat duduknya.


Drap… drap…


Ranjang tidur pasien tempat Riana terbaring didorong oleh dua perawat tersebut sedangkan pria berambut pirang dan Aziz mengikutinya dari belakang.


Ceklek

__ADS_1


Setelah sampai di kamar 216, perawat pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut.


Alangkah terkejutnya pria berambut pirang setelah melihat isi kamar tempat wanita yang paling berharga baginya akan dirawat.


"Kalian berdua tunggu sebentar!"


Kedua perawat pun menoleh dan bertanya.


"Iya, apakah ada masalah, tuan?"


"Kenapa kalian memberikan kamar jelek seperti ini? Disini sudah ada 2 pasien lain dan keadaan kamarnya terlihat tidak terurus, kenapa kalian memberikan fasilitas yang jelek seperti ini?" Pria berambut pirang kembali mengepalkan tangannya karena marah.


"I.. itu karena kamar lain sudah penuh, hanya kamar ini saja yang tersisa." Ucap salah seorang perawat dengan gugup.


Drap… drap…


Pria berambut pirang berjalan menghampiri dua perawat tersebut yang sudah berada di dalam ruangan lalu mencengkram kerah baju salah seorang dari mereka berdua.


"ALASAN YANG KONYOL! KAMU PIKIR AKU AKAN PERCAYA ALASAN MURAHAN SEPERTI ITU?"


"A… anda tidak boleh melakukan kekerasan kepada pekerja disini, tuan. Kami bisa memanggil security untuk mengusir anda." Ancam perawat lain sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan pria berambut pirang dari kerah baju temannya.


"Be.. benar, anda tidak boleh membuat keributan disini. Lagi pula kami hanya mengikuti perintah saja." Perawat yang dicengkeram kerah bajunya mencoba membela diri.


"Tu… tuan muda, tolong tenangkan diri anda! Disini adalah rumah sakit, kita tidak boleh membuat kegaduhan dan mengganggu pasien lain." Aziz mencoba menenangkan tuan mudanya tersebut.


Pria berambut pirang melihat sekeliling ruangan, terlihat dua pasien lain yang sudah berada di kamar tersebut melihat keributan yang ia buat.


Sret…


Ia pun melepaskan cengkraman tangannya karena tidak ingin membuat keributan lebih panjang sehingga mengganggu pasien lain yang sedang sakit.


"Apakah disini ada ruang VIP?"


"Tentu saja aja, tuan." Ucap salah seorang perawat.


"Baiklah, aku akan pergi ke lantai 1 untuk mengurus administrasi. Aku akan membayar sewa kamar VIP, jadi kalian tunggu sebentar disini."


Pria berambut pirang pergi ke lantai 1 memesan kamar VIP untuk Riana sedangkan Aziz dan dua perawat menunggunya di kamar 216 tersebut.


Setelah administrasinya selesai, Riana pun ditempatkan di kamar VIP yang bersih, mewah, dan tidak dicampur dengan pasien lainnya.

__ADS_1


__ADS_2