
Di siang hari yang cerah pada saat jam istirahat Raina dan kedua temannya sedang berjalan menuju ruang osis untuk kembali menemui ketua osis dan wakilnya.
"Kenapa kita pergi menuju ruang osis? Bukankah sebaiknya kita pergi ke kelas ketua osis dan wakilnya yaitu kelas 2-2?" Tanya Riana.
"Disaat jam istirahat biasanya mereka berada di ruang osis untuk saling mengobrol dengan anggota osis lain mengenai permasalahan yang terjadi di sekolah." Kharisma menjawab.
"Wahhh… kamu memang sangat cerdas."
"Terimakasih, kamu juga wanita yang sangat cerdas karena bisa mendapatkan beasiswa disekolah ini."
Mereka berdua saling bertatapan lalu tersenyum sambil berjalan menuju ruang osis.
Reynold menunjukkan ekspresi wajah yang jelek disaat mendengar perkataan gadis itu, ia merasa sedikit tidak terima tentang pujian yang diberikan kepada Kharisma. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Tok.. tok..
Kharisma mengetuk pintu selama beberapa kali dan keluarlah seorang pria yang kemarin mereka temui.
"Ah.. kalian benar-benar datang lagi rupanya."
"Iya, kami datang kesini kembali untuk menemui ketua osis dan wakilnya." Jawab Riana.
"Aku benar-benar minta maaf karena hari ini ketua osis dan wakilnya sedang pergi ke acara pertemuan dengan pihak sekolah lain."
"Pergi lagi? Kenapa mereka sering sekali pergi ke luar sekolah? Apakah guru-guru tidak mempermasalahkan hal itu?" Ucap Reynold dengan nada suara yang sedikit lantang karena merasa kesal.
"Tanggung jawab ketua osis dan wakilnya di sekolah ini sangat lah besar, apakah kamu tahu jika sekolah ini memiliki tingkat penindasan atau bullying yang sangat tinggi?"
Drett…
Tubuh Riana sedikit bergetar setelah mendengar kata bullying dari mulut pria tersebut. Kharisma dengan sigap menggenggam tangan gadis itu sambil mengelus-elus punggung tangannya untuk menenangkannya.
"Aku tahu! Di sekolah ini terdapat banyak siswa yang berasal dari keluarga yang kaya raya sehingga pihak sekolah juga tidak bisa sembarangan menyentuh anak itu karena kedua orang tuanya."
Pria tersebut menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa perkataan Kharisma sangat tepat.
"Selain itu di sekolah ini juga terdapat beberapa kelompok berandal yang dapat membahayakan murid lain, kami dari pihak osis juga tidak bisa sembarangan menyentuh mereka karena takut akan terjadi bentrokan masalah yang besar hingga dapat memakan korban nanti." Pria osis tersebut memasang wajah yang sangat serius.
"Itu juga yang menjadi sebab ketua osis dan wakilnya sering keluar sekolah, ia membangun relasi dengan pihak luar yang dapat membantunya dalam menangani masalah tersebut?"
__ADS_1
Pria itu kembali menganggukkan kepalanya, ia memberikan mengangkat jempolnya kepada Kharisma karena ia sangat peka dan cerdas.
"Aku harap kalian tidak heran jika mereka sering pergi ke luar sekolah karena mereka memiliki tanggung jawab yang sangat besar." Tersenyum ramah untuk meminta pengertian dari Riana dan kedua temannya.
Haaa….
Reynold menghela napas sambil mengacak-acak rambutnya, ia merasa sangat kesal karena tidak mendapatkan berita untuk ditulis semenjak kemarin. Kharisma pun menopang dagunya sambil berpikir dengan keras cara mendapatkan berita dengan mudah selain dari ketua osis dan wakilnya.
Kyakkkkk….
Riana berteriak karena ada tangan yang menyentuh pundak kanannya dari belakang, teriakan tersebut spontan membuat Kharisma dan Reynold menoleh ke arahnya.
Ternyata itu adalah Yongi, ia menghampiri mereka lalu menepuk pundak Riana dari belakang.
"Apa yang lu lakuin? Cari masalah hah?" Reynold menarik kerah baju Yongi dengan wajah yang sedikit menakutkan karena marah.
"Oho.. kamu pria yang sedikit kasar ya? Tenang saja! Aku datang hanya untuk menyapa dan tidak ada niat buruk sama sekali." Yongi mengangkat kedua tangannya yang menunjukkan bahwa dia tidak ingin memperbesar masalah.
"Lepaskan dia, Reynold! Kita tidak boleh membuat masalah, terlebih lagi dia satu grup dengan kita." Kharisma mencoba melerai kedua pria tersebut.
Haaaa….
Reynold menghela napas sambil melepaskan tangannya yang menarik kerah baju Yongi. Meskipun sudah melepasnya ia masih menatap pria yang menyukai permen itu dengan tatapan yang tajam seolah-olah tidak menyukai kehadirannya.
Mereka bertiga terpaku selama beberapa saat karena tidak tahu harus menjawab pertanyaan gadis itu. Kepanikan sedikit terlihat di wajah mereka terutama Kharisma yang tidak sengaja mengatakan hal yang seharusnya tidak diketahui oleh Riana.
"Kenapa kalian diam saja?"
"Maksudku adalah Reynold dan Yongi adalah teman satu grup dalam Gym, mereka berdua sering pergi ngegym bersama di hari libur. Bukankah begitu?" Menoleh ke arah dua pria itu sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
Mereka dengan spontan mengerti maksud dari kedipan mata Kharisma lalu saling merangkul bahu masing-masing agar terlihat akrab di depan mata Riana.
"Hahaha, yang dikatakan olehnya benar. Kami satu grup dalam gym dan sering pergi bersama juga."
Yongi hanya tersenyum dalam meyakinkan gadis itu sehingga membuat Reynold semakin jengkel kepadanya.
"Berbicaralah, Kapar*t! Bantu aku untuk lebih meyakinkannya." Berbisik sambil memperkuat rangkulannya sehingga membuat Yongi sedikit kesakitan.
"Hahaha, kami memang sering pergi ke gym bersama, itu sebabnya kami sangat akur." Membalas Reynold dengan memperkuat rangkulannya juga.
__ADS_1
Melihat hal tersebut Riana sedikit curiga, ia masih menatap kedua pria terebut dengan wajah yang kebingungan.
"Jika kalian memang akur, lantas kenapa kaliam hendak bertengkar tadi?" Riana kembali bertanya.
Reynold dan Yongi saling bertatapan mata dengan keringat yang bercucuran, mereka tidak tahu harus berdalih apa lagi untuk menjawab pertanyaannya.
"Me.. mereka kan pria, jadi wajar saja jika mereka sedikit bertengkar. Kamu juga tahu kan? Jika pertemanan seorang pria menjadi lebih akrab dengan bertengkar."
"Kharisma benar, kami memang sering bertengkar untuk mengakrabkan diri. Bukankah begitu?" Reynold kembali memperkuat rangkulannya.
Yongi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan manis kepada gadis itu. Mereka bertiga kembali berkeringat dingin karena takut jika Riana masih tidak percaya dengan dalih yang mereka buat.
"Hmmm… baiklah, aku percaya kepada kalian." Tersenyum dengan tulus.
Akhirnya Riana memutuskan untuk percaya terhadap perkataan ketiga temannya tersebut karena tidak ingin mencurigai teman-temannya yang berharga.
"Aku merasa tidak enak hati sudah membohongi gadis yang baik seperti dia." Yongi si pria penyuka permen berbisik kepada Reynold yang mengeluarkan napas dengan lega setelah berhasil meyakinkan Riana.
"Mau bagaimana lagi, kapar*t? Kita bertiga bisa mati di tangan tuan muda jika membocorkan rahasia ini." Membalas bisikan tersebut sambil melepaskan rangkulan tangannya.
Riana menopang dagunya sambil melihat ke arah Yongi si pria penyuka permen itu selama beberapa saat, kemudian menggenggam tangannya sambil tersenyum bahagia.
"Ke.. kenapa kamu memegang tanganku?"
"Kamu pernah bilang kepadaku jika aku bisa datang kepadamu disaat membutuhkan bantuan bukan?" Tanya Riana.
"Itu benar, memangnya kenapa? Kamu sedang dalam masalah ya?"
"Kami sedang mencari berita untuk ditulis dan ditempel di mading, jadi kami membutuhkan bantuanmu. Maukah kamu membantu kami?" Memohon dengan mata yang berbinar-binar sehingga sedikit membebani Yongi.
Kharisma dan Reynold tersenyum tipis seolah-olah mereka setuju dengan rencana yang dilakukan oleh gadis itu.
"Yongi adalah penerus kelompok berandal The Power Of Money (TPOM) dari kelas 1, jadi tentu saja saja ia mengetahui hampir semua hal yang terjadi di sekolah bukan?" Ucap Kharisma.
Reynold menjawab pertanyaan teman wanitanya itu dengan mengedipkan sebelah matanya.
Haaa…..
Yongi menghela napas karena merasa sedikit terbebani, ia ingin menolak permintaan tersebut akan tetapi ia tidak bisa melakukannya karena menolong Riana yang sedang dalam kesulitan merupakan salah satu perjanjian dalam kontrak yang ditujukan kepada kelompoknya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membantu kalian karena jam istirahat masih tersisa 30 menit. Pertama-tama mari kita pergi ke kelasku untuk membuat berita yang kalian perlukan!" Berjalan terlebih dahulu menuju kelasnya.
Riana dan kedua temannya mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka pun pergi ke kelas 1-5 bersama-sama dan hari itu juga mereka mendapatkan berita untuk dipajang di mading sekolah pada hari senin nanti.