
Drap… drap…
Pagi hari yang cerah, terdengar suara langkah kaki seorang pria berambut hitam elegan sedang berjalan menuju rumah pengurus kos yang kebetulan berada di tempat kos lantai satu dekat taman.
"Permisi, apakah saya boleh bertanya?" Ucap pria berambut hitam yang tidak lain adalah pria berambut pirang yang menyamar.
"Tentu saja boleh, anda ingin bertanya apa?" Tanya ibu pemilik kos yang ramah terhadap tamu.
"Saya mencari kamar kos 26, kira-kira tempatnya berada dimana ya?"
"Ohh… itu kamarnya milik Riana, tempatnya berada di lantai dua tidak jauh dari tangga. Ngomong-ngomong anda siapanya Riana ya? Saya sebagai ibu kos harus mengetahui hal tersebut untuk memastikan keamanan anak kos saya." Ibu kos bertanya sesopan mungkin.
Pria berambut hitam elegan menatapnya dengan tatapan yang merendahkan lalu tersenyum seketika karena ia tidak ingin memberikan kesan buruk terhadap pemilik kos tempat Riana tinggal.
"Saya adalah pacarnya Riana." Merapikan posisi rambutnya seraya memancarkan ketampanan yang sangat memukau.
Ibu kos seketika terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, ia tidak menyangka jika perempuan miskin dan naif seperti Riana memiliki pacar setampan dan sekeren ini.
"Saya harap anda merahasiakan ini karena Riana pacar saya tidak ingin hubungan kami disebar luaskan." Mengedipkan sebelah matanya dengan menawan.
Ibu kos hanya bisa menganggukkan kepalanya serta tidak bisa berkata-kata karena saking terkejutnya.
"Kalau begitu saya ijin pamit menemui pacar saya tercinta, semoga hari anda menyenangkan."
Pria berambut hitam pun pergi meninggalkan ibu kos yang masih merasa terkejut sendirian dan pergi ke menuju lantai 2 tempat kamar kos Riana berada.
"Hmmm…. Tempat kos ini lebih kumuh dan jelek dari yang aku pikirkan, bisa-bisanya aku membiarkan malaikat kecilku tinggal di tempat seperti ini." Gerutu pria berambut hitam menuju tangga.
Disaat yang bersamaan, muncullah seorang wanita beranting bunga yang tidak lain adalah Monica. Wanita itu terkejut setelah melihat sosok pria yang lebih tampan daripada Daniel, seketika ia berhenti bergerak karena saking terpesonanya.
Pria berambut hitam yang memang tidak peduli akhirnya berjalan melewatinya seolah-olah tidak melihat apapun. Pada akhirnya, Monica memberanikan diri untuk menegurnya dan mencoba berkenalan dengannya.
"Anu, permisi. Apakah anda penghuni baru kos disini?"
__ADS_1
Pria berambut hitam menghentikan langkah kakinya sesaat sebelum menaiki tangga, ia menoleh dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.
"Bukan, saya hanya sedang mengunjungi seseorang."
"Begitu, ya? Bolehkan saya tahu siapa orang yang sedang anda cari? Mungkin saya bisa membantu anda." Monica menawarkan bantuan dengan malu-malu.
"Tidak perlu, saya bisa mencarinya sendiri. Saya sudah tahu jika lokasi orang yang saya cari berada di lantai 2." Jawab ketus pria berambut hitam sambil melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Monica terlihat sangat terkejut melihat sikap dingin yang ditujukan kepadanya, namun ia tidak menyerah karena sangat ingin berkenalan dengan pria tersebut.
"Sebaiknya anda berhati-hati jika pergi ke lantai 2." Ucap Monica.
Pria berambut hitam kembali menghentikan langkah kakinya lalu menengok ke arah belakang tempat Monica berdiri.
Dengan ekspresi kebingungan dan tatapan yang merendahkan, ia memutuskan untuk bertanya kepada wanita beranting biru tersebut.
"Memangnya kenapa aku harus berhati-hati di lantai 2?"
"Di lantai itu ada ruang no 26, sebaiknya anda jangan mendekatinya. Di kamar itu terdapat wanita miskin tidak tahu diri yang suka menggoda pria tampan." Ucap Monica dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Monica lantas tersentak, bulu kuduknya berdiri semua karena rasa takut yang teramat sangat. Ia mulai berjalan mundur beberapa langkah ke belakang dan di langkah yang ketiga ia menabrak seseorang sehingga membuatnya menoleh ke arah belakang.
Ternyata orang yang dia tabrak tidak lain adalah pria berkumis tipis yaitu Daniel
"Kak Daniel?"
"Kenapa kamu ketakutan seperti itu?" Tanya Daniel.
"Itu… sebenarnya…"
Monica menoleh ke arah pria berambut hitam yang sedang berdiri di tengah-tengah tangga dengan wajah yang sangat menyeramkan, dengan spontan Daniel pun ikut menoleh dan alangkah terkejutnya ia melihat tuan mudanya sedang menyamar menggunakan rambut hitam.
"Sedang apa anda berapa di sini? Apakah ada pekerjaan tambahan yang harus saya lakukan?" Daniel berjalan dengan gugup menuju tuan mudanya hingga tidak terasa menyenggol Monica dan membuatnya terjatuh.
__ADS_1
"Aduhhh… sakit." Monica kesakitan.
"Siapa wanita kurang ajar ini, berani-beraninya dia bersikap tidak tahu malu seperti itu." Ucap pria berambut hitam.
Daniel menoleh ke arah Monica yang masih jatuh tersungkur di atas lantai, kemudian ia kembali menoleh ke arah tuan mudanya dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya.
"Anda tidak perlu repot-repot memikirkannya, nanti saya yang akan mengurusnya."
"Haa… baiklah kalau begitu, sekarang cepat antarkan aku." Ucap ketus pria berambut hitam.
"Mengantarkan anda? Kemana?"
"Tentu saja menemui Riana, kamu pikir untuk apalagi aku datang ke sini?" Pria berambut hitam kembali menjawab dengan nada suara yang sedikit kesal.
Monica terlihat terkejut setelah mendengar bahwa pria berambut hitam yang baru saja ia sukai datang kesini untuk bertemu dengan Riana, wanita yang sangat ia benci di kosan ini.
Daniel segera menaiki tangga selangkah demi selangkah menuju tuan mudanya yang sudah berada di pertengahan tangga. Dengan wajah yang masih terkejut, Monica mencoba menggapai Daniel menggunakan tangan kanannya walaupun jelas tidak akan tercapai karena jaraknya cukup jauh.
"Tunggu sebentar, apa yang kalian maksud? Kalian ingin bertemu dengan Riana?"
"Itu bukan urusanmu." Jawab Daniel dengan dingin.
"Memang apa bagusnya dari wanita itu? Dia wanita yang miskin, pura-pura sok baik, dan suka menggoda pria tampan." Monica berbicara sambil mengepalkan tangannya.
Pria berambut hitam tak bisa menahan emosinya lagi, ia mulai berjalan menuruni tangga menghampiri wanita beranting bunga tersebut. Dengan sigap Daniel segera menahan tuan mudanya tersebut karena bisa sangat gawat jika ada keributan di tempat kos ini dan penyebabnya karena Riana dijelek-jelekkan.
"Anda harus tenang tuan muda, anda tidak boleh membuat masalah di tempat ini karena bisa menyulitkan wanita yang sangat berharga bagi anda."
Haaaa….
Pria berambut hitam melirik Daniel dengan tatapan sinis lalu menghela napas agar emosinya lebih stabil.
"Baiklah, aku serahkan wanita kurang ajar itu kepadamu. Sekarang ayo antar aku ke tempat Riana."
__ADS_1
Daniel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, mereka berdua pun menaiki tangga menuju kamar Riana yaitu kamar no. 26.
Mereka meninggalkan Monica sendirian, perasaan wanita itu bercampur aduk. Rasa sedih, amarah, dan rasa ingin balas dendam menumpuk menjadi satu dan membuatnya seolah-olah akan meledakkan semua emosi tersebut sebentar lagi.