
Setelah setuju untuk diwawancarai oleh pihak osis, Cakra dan Bima memberikan nomor ponsel mereka kepada Riana agar kedepannya lebih mudah berkomunikasi.
Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi dan kedua osis tersebut pergi ke kelas mereka dengan wajah yang terlihat bahagia.
"Wah… siapa yang baru saja berbicara dengan kalian? Dia sangat tampan dan keren." Ucap Risma setelah menghampiri meja Riana.
Kedua teman baiknya yaitu Anggi dan Ruthfi ikut memasang wajah antusias dengan mata yang berbinar-binar.
Semenjak damainya Riana dan Risma, kelompok mereka berdua menjadi semakin akrab walaupun masih ada jarak tertentu diantara mereka.
"Tampan? Hahaha." Riana sedikit kebingungan karena ditanya secara mendadak.
"Mereka adalah penanggung jawab osis di bidang keamanan dan kedisiplinan." Ucap Reynold.
"Osis? Hmmm… aku rasa kita akan kesulitan mendekati mereka." Gerutu Anggi.
"Yah.. mau bagaimana lagi? Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan? Hohoho." Jawab Risma.
Reynold mengangkat sebelah alis matanya karena merasa keheranan, ia bertanya sambil mengeluarkan buku mata pelajaran dari dalam tasnya.
"Untuk apa kalian mendekati mereka?"
"Tentu saja karena tampan dan keren." Ucap Anggi.
"Benar! Aku baru tahu jika osis di sekolah ini sangat tampan." Ruthfi ikut berbicara.
"Pilihan yang tepat bersekolah disini, kita bisa belajar sekaligus bertemu pria-pria tampan." Risma memegang kedua pipinya sambil membayangkan Bima dan Cakra yang tampan serta gagah.
Reynold dan Riana menjadi lebih keheranan dari sebelumnya, mereka berdua tidak menyangka jika kelompok Risma sangat menyukai pria tampan, keren dan gagah.
Sementara itu Kharisma bersikap tidak peduli dan terus menulis catatan buku hariannya.
Disaat yang bersamaan, seorang guru wanita memasuki Ruangan. Seluruh murid pergi ke kursinya masing-masing dan pembelajaran pada hari itu dimulai.
Hari jum'at sore setelah pulang sekolah, Riana dan kedua temannya sedang dalam perjalanan menuju ruang osis.
"Haaa… ini benar-benar sangat merepotkan, kenapa kamu malah menerima tawaran diwawancarai osis?" Gerutu Reynold.
"Berhentilah mengeluh! Lagi Pula yang akan diwawancarai adalah Riana, tugasmu hanya diam dan mendengarkan." Jawab ketus Kharisma.
"Huhh… membosankan, tapi ngomong-ngomong kenapa mereka malah mewawancarai Riana, ya? Apakah mereka tidak bisa mencari informasi dari tempat lain?" Reynold memasang wajah kebingungan.
__ADS_1
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kita tidak bisa memprediksi pergerakan osis-osis di sekolah ini dengan mudah, mereka sangat cakap dan terampil."
Beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai di ruang osis.
Tok.. tok..
Riana mengetuk pintu dan keluarlah seorang wanita berambut merah yang tidak lain adalah Rose si penanggung jawab ekskul wartawan.
"Ah… kamu sudah datang rupanya, silahkan masuk!" Rose membukakan pintu sangat lebar.
Mereka pun masuk bersama ke dalam ruang osis lalu duduk di kursi meja rapat osis, disana masih sepi dan hanya ada mereka ber 4 saja.
"Aku akan memanggil teman-temanku yang lain, mohon tunggu sebentar." Ucap Rose berjalan keluar ruang rapat tersebut.
"Wah… ruang osis jauh lebih bagus dan mewah dari apa yang aku kira." Reynold kagum sambil memakan cemilan yang sudah tersedia di atas meja.
"Tentu saja bagus, sekolah ini kan adalah sekolah elit." Riana ikut melihat sekitar ruangan.
"Bukankah ini aneh?, aku rasa ruangan ini lebih bagus daripada ruang guru dan kepala sekolah." Kharisma ikut berbicara dengan wajah yang curiga.
Disaat yang bersamaan, 6 orang osis masuk kedalam ruangan dan duduk dikursi yang sudah disediakan.
"Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?" Tanya Finka si bendahara osis kepada Kharisma.
"Aku hanya merasa aneh, bagaimana bisa ruangan osis jauh lebih bagus daripada ruang kepala sekolah dan guru?"
Seluruh osis saling bertatapan mata satu sama lain dan akhirnya Nandrika si osis akademik menjawab pertanyaan si wanita bermata biru tersebut.
"Ruangan ini baru saja direnovasi sebulan sebelum kalian masuk ke sekolah ini, dulunya ruangan ini sangat kumuh, tetapi semenjak datangnya pria itu ruangan osis jadi seperti ini." Nandrikan tersenyum manis.
"Orang itu? Apa yang kamu maksud?" Tanya Riana.
"Bukan apa-apa, kamu tidak perlu memikirkannya." Kharisma dengan cepat menjawab dan tersenyum.
"Hmmm… baiklah."
Karena semua orang sudah berkumpul di ruang rapat osis, akhirnya sesi wawancara pun dimulai. Sebelumnya mereka saling berkenalan satu sama lain dan anggota osis menyarankan untuk saling bertukar nomor handphone dengan Riana agar lebih mudah berkomunikasi kedepannya.
Riana dengan polosnya percaya dengan alasan para anggota osis dan bersedia bertukar nomor handphone.
"Jadi ini alasan mereka ingin melakukan wawancara kepada Riana? Cukup pintar." Gumam Kharisma dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Sementara itu, Reynold dari tadi sibuk memakan cemilan yang disediakan di atas meja.
Setelah saling bertukar nomor handphone, mereka memulai sesi wawancaranya. Riana dapat menjawab seluruh pertanyaan dengan lancar tanpa adanya hambatan.
"Terimakasih sudah meluangkan waktu, kami dari pihak osis sangat menghargainya." Ucap Cakra dengan ramah.
"Sama-sama, jangan sungkan mencariku jika kakak semua membutuhkan bantuanku." Riana tersenyum.
Seluruh osis saling bertatapan mata satu sama lain lalu kembali menatap Riana.
"Baiklah, kami akan mencarimu lagi nanti." Rose menjawab.
Setelah berpamitan, Riana dan kedua temannya pergi meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumahnya masing-masing karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Sungguh gadis yang baik." Ucap Bima.
"Aku rasa aku mulai mengerti kenapa pria itu tertarik kepadanya." Cakra ikut berbicara.
"Sudahlah, kalian lanjutkan saja ngobrolnya besok hari, sekarang sudah waktunya pulang." Nandrika pergi duluan meninggalkan ruang osis sambil membawa tas miliknya.
"Kenapa rata-rata kutu buku sangat membosankan dan tidak seru." Gerutu Cakra.
"Ayo kita pulang." Ucap ketus Silvia keluar dari ruang osis diikuti oleh Rose dan Finka.
Semua osis ikut meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumahnya masing masing karena sudah terlalu larut malam.
Malam hari di Kamar kos Riana, pukul 9 malam.
"Aku sangat senang karena mendapatkan teman baru, kamu juga pasti akan senang jika bertemu dengan mereka. Mereka semua baik dan sangat keren." Ucap Riana melihat selembar foto kecil sambil tiduran di kasurnya.
Dengan wajah senang sekaligus sedih, ia menatap foto itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Di dalam foto tersebut terlihat dua sosok anak kecil, satu anak kecil di foto itu laki-laki berambut pirang dan yang satunya lagi perempuan yang tidak lain adalah Riana saat berumur 10 tahun.
Kedua anak kecil di foto terlihat sangat bahagia, mereka bergandengan tangan dan tersenyum sambil memakan permen lolipop yang besar.
"Andai saja saat itu aku mendengarkan perkataanmu, mungkin saat ini kita masih bersama."
Hiks.. hiks..
Tidak terasa air mata Riana mulai berjatuhan, ia menangis tersedu-sedu dan memeluk foto tersebut hingga ia ketiduran.
__ADS_1