Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Sebungkus kue


__ADS_3

Hari senin, jam istirahat.


Drap.. drap..


Riana sedang berjalan bersama kedua temannya menuju kelasnya Vinter yaitu kelas 2-4. Ia membawa sekotak kue yang ingin ia berikan kepada pria berambut putih itu dan juga Yongi sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah mau menolong kedua teman ekskulnya minggu kemarin.


Tok… tok…


Setelah sampai, ia mengetuk pintu beberapa kali dan keluarlah seorang wanita.


"Ada yang bisa dibantu?"


"Saya mencari Kak Vinter, apakah dia ada di dalam kelas?"


"Dia sedang tidak ada di kelas, biasanya saat jam istirahat dia berada di gedung olah raga." Berbicara dengan ketus.


Gadis itu terlihat sedikit kecewa karena gagal menemui Vinter. Melihat akan hal itu, Kharisma segera menimbrung pembicaraan dan mencoba menggali informasi lebih dalam untuk membantu.


"Memangnya apa yang sedang dia lakukan disana?"


"Untuk apa lagi? Tentu saja berkumpul dengan kelompok berandalnya. Memang kalian ada perlu apa sampai mencari Vinter?"


"Kami ingin membe…"


Hemphhhh


Reynold menutup mulut Riana secara tiba-tiba dengan wajah yang terlihat gelisah lalu menggantikannya menjawab pertanyaan wanita kelas 2-4 tersebut.


"Kami hanya ingin melihat saja dia orang yang seperti apa? Kami dengar dia salah seorang ketua kelompok berandal, makanya kami ingin melihat wajahnya agar bisa berhati-hati jika bertemu dengannya nanti, hehehe."


"Vinter memiliki rambut putih seputih salju, wajah tampan, dan juga badan yang berotot. Kalian jangan sampai mencari masalah dengannya karena kelompoknya adalah kelompok yang paling dibenci oleh banyak murid di sekolah ini terutama murid-murid dari kalangan miskin atau menengah kebawah." Berbicara panjang lebar dengan wajah yang terlihat menyeramkan seolah-olah tidak menyukai orang yang sedang dibicarakan.


Perkataan wanita itu membuat riana sedikit tertegun, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar karena baginya Vinter adalah orang baik yang beberapa kali sudah mau membantu wanita lemah dan miskin sepertinya.


"Ba… baiklah, kami akan mengingatnya. Terima kasih atas informasinya, Kak." Ucap Reynold dengan sopan karena bagaimanapun wanita itu adalah kakak kelasnya.


"Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu. Ada hal yang harus ku kerjakan." Masuk ke dalam kelasnya dan menutup pintu.


Pyuhhhh….


Melepaskan tangannya yang menutup mulut Riana sambil mengeluarkan napas karena merasa lega.


"Kenapa kamu menutup mulutku?" Tanya Riana.


"Aku berusaha melindungimu, lebih baik kamu jangan sampai terlihat sangat akrab dengan Vinter dan juga Yongi."


"Aku setuju dengan Reynold, kita berkomunikasi dengannya sewajarnya saja. Setelah mengirim kue ini aku harap kita tidak akan berurusan lagi dengannya, apa lagi berurusan dengan kelompoknya." Kharisma menimbrung pembicaraan.


Riana menatap kedua temannya dengan penuh pertanyaan di dalam pikirannya. Karena rasa keingintahuannya cukup besar, ia memutuskan untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang ada di pikirannya.


"Memangnya kenapa? Bukankah kita dan mereka berteman? Lagi pula mereka kan baik kepada kita."


Haaaa…

__ADS_1


Reynold menghela napas sambil menggaruk-garuk kepalanya sedangkan Kharisma menatap gadis itu dengan serius lalu memegang kedua pundaknya.


"Dengarkan aku! Sebaik apapun mereka kepada kita mereka tetaplah seorang berandal sekolah. Tidak ada untungnya bagi kita jika terlalu dekat dengan mereka. Apakah kamu mengerti?"


Riana hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat sedih. Ia tidak ingin mengikuti perkataan itu akan tetapi ia juga takut jika kedua teman dekatnya tersebut akan pergi meninggalkannya jika tidak mengikuti perkataan mereka.


"Baiklah, karena kamu sudah mengerti mari kita pergi ke gedung olahraga dan mengantarkan kue buatanmu. Lalu setelah itu sebisa mungkin aku tidak ingin terlibat lagi dengan mereka."


Drap… drap…


Mereka bertiga pergi menuju gedung olahraga yang berada di belakang gedung sekolah. Riana berjalan dengan wajah yang ditekuk karena merasa sedih. Ia ingin terus menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Vinter dan  Yongi yang sudah mau membantu gadis malang sepertinya.


Setelah beberapa belas menit berjalan, mereka pun telah sampai di gedung olah raga. Terdengar suara bising dan suara orang yang tertawa dengan jumlah yang tidak sedikit.


"Kenapa disini bising sekali, ya? Apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana?" Ucap Reynold.


"Aku tidak tahu tapi mari kita pastikan!"


Kharisma berjalan menghampiri pintu sambil menggandeng tangan Riana, lalu mengetuk pintu beberapa kali.


Tok… tok… tok…


Keluarlah seorang pria berbadan besar dan berkulit hitam, pria itu membuka pintu dengan wajah yang terlihat tidak bersahabat.


"Ada urusan apa kalian kesini? Mengganggu saja dasar breng…" Ingin mengucapkan kata-kata yang kasar namun berhenti setelah melihat Riana.


"Loh… bukankah kakak adalah orang yang saat itu bersama dengan Kak Vinter?" Ucap Riana.


"Be.. benar, namaku adalah Diki, Ada urusan apa kamu sampai datang ke sini?" Berbicara dengan sangat sopan.


"Begitu, ya? Baiklah aku akan memanggil mereka, kalian tunggu sebentar disini!"


Pria itu meninggalkan mereka bertiga lalu pergi menuju Vinter yang sedang duduk menonton permainan bola dengan anggota lainnya sambil makan camilan dan minuman bersoda. Rupanya suara bising tersebut berasal dari anggota kelompok TPOM yang sedang menonton dan bermain bola. Mereka sedang bersenang-senang selagi menghabiskan waktu jam istirahat.


"Kenapa kamu berlari seperti itu, Diki? Apa yang terjadi?" Tanya Vinter.


"A.. anu.. diluar ada target 'permintaan nomor satu' bersama dengan dua temannya." Jawab Diki.


"Maksudmu Riana? Kenapa dia datang kesini?"


"Aku juga tidak tahu, yang pasti mereka sedang menunggu di luar."


Glukk… glukkk….


Vinter segera menghabiskan minuman bersodanya lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia mengajak Yongi dan juga Kakaknya yaitu Aryand Soyala untuk menemui target 'permintaan nomor satu' yang sedang menunggunya.


"Riana… Kenapa kamu datang kesini?"


"Kak Vinter! Saya datang untuk memberikan kue yang saya katakan saat di rumah sakit."


Setelah berbicara, Riana sedikit terkejut setelah melihat dua orang yang sedang berdiri di belakang Vinter.


"Kak Aryand dan Yongi? Kebetulan sekali kalian sedang berkumpul disini. Ini kue yang saya buat, silahkan dinikmati bersama!" Memberikan sekantong plastik yang berisikan kue.

__ADS_1


Yongi segera mengambil kantong plastik tersebut sebelum Vinter yang mengambilnya. Ia melihat isi kantong plastik lalu mengeluarkan sebuah kue coklat kecil dengan taburan meses di atasnya.


Yongi sangat menyukai makanan dan minuman yang manis sehingga ia tergiur dengan kue yang dibawa oleh Riana karena mereka terlihat sangat manis.


"Wah… apakah ini kue manis?" Tanya Yongi.


"Iya, aku membuatnya sebaik yang aku bisa." Riana berbicara dengan informal karena yongi seumuran dengannya.


Nyam.. nyam..


Pria penyuka permen tersebut segera mencoba kue yang dibuat oleh Riana, ia merasa terkejut karena kue yang ia makan rasanya lebih enak dari yang ia kira.


"Astaga… coba lihat si semut merah ini! Dia langsung kegirangan saat makan makanan yang manis, hehehe." Ucap Reynold.


"Diam kau! Dasar tikus lemur."


"Si semut hitam ini memang sangat menyebalkan."


"Ya ampun, aku tidak menyangka disini ada tikus lemur yang tidak sadar diri."


"Apa? Tarik kembali ucapanmu sekarang juga!"


Seperti biasa, Yongi dan Reynold kembali berselisih karena masalah yang sepele sehingga membuat Kharisma sedikit merasa geram.


"Bisakah kalian berdua bertindak lebih dewasa sedikit? Sikap kalian sangat kekanak-kanakan."


Perkataannya membuat pertengkaran berdua berhenti bertengkar seketika. Mungkin karena Kharisma memang terlihat sangat menyeramkan ketika sedang marah.


Riana hanya menonton mereka sambil tersenyum, ia merasa bahagia bisa memiliki teman seperti mereka.


"Apakah kedua temanmu baik-baik saja? Aku dengar kemarin mereka terluka cukup parah." Aryand mencoba berbincang dengan gadis itu.


"Iya, mereka baik-baik saja dan sudah keluar dari rumah sakit. Semua ini berkat bantuan dari Kak Vinter dan juga Yongi."


"Begitu, ya? Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa membantu temanmu karena minggu kemarin aku memiliki urusan yang penting."


"Tidak apa-apa, aku yakin pasti urusan tersebut sangat penting. Terima kasih karena sudah peduli kepada temanku."


Riana memang gadis yang sangat baik, ia sangat peduli kepada orang-orang yang sudah ia anggap sebagai teman. Melihat mereka sedang berbincang dengan akrab membuat Kharisma menjadi tidak tenang, ia segera menepuk pundak gadis itu dari belakang.


"Kuenya sudah diantar, ini saatnya kita kembali ke kelas!" Ucap Kharisma.


"Tidak bisakah kita disini sedikit lebih lama?"


Kharisma dan Reynold menggelengkan matanya sambil memberikan tatapan mata yang serius.


"Mereka benar, ini sudah saatnya kamu pergi. Tidak ada baiknya jika kamu terus berada disini." Ucap Vinter sambil tersenyum ramah.


Disaat yang bersamaan Aryand dan Yongi menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa mereka setuju dengan perkataan Vinter.


"Baiklah, kalau begitu saya dan teman saya akan pergi, Sampai bertemu lagi."


Mereka pun pergi meninggalkan gedung olah raga tersebut, Riana pergi sambil melambaikan tangannya ke arah tiga pemimpin kelompok TPOM.

__ADS_1


Ketiga pria tersebut melambaikan tangan mereka juga ke arah gadis itu lalu mereka bertiga menutup pintu gedung olah raga setelah Riana dan kedua temannya sudah benar-benar meninggalkan tempat itu.


__ADS_2